esei
Apakah
Saya Memiliki Tubuh Saya
Robert
Fenner
Mari kita asumsikan
bahwa saya adalah tuan dari nasib saya dan kapten dari jiwa saya.
Bisakah saya juga berasumsi bahwa saya adalah pemilik tubuh saya?
Nyatanya, kekuatiran itu tidak hanya menyangkut tubuh saya, tapi
juga bagian dari tubuh saya dan bahkan sel-sel dan rangkaian gen,
yang menyusun sel dan tubuh. Hak-hak moral dan hukum apa yang saya
miliki atas mereka? Jawaban hukumnya adalah, tidak banyak. Jika
seseorang ingin mengkloning saya, saya tidak bisa meminta paten
untuk saya pribadi karena saya tidak akan diberikan paten.
Paten ada untuk
melindungi temuan pemilik dari eksploitasi oleh orang lain. Bagaimana
mendefinisikannya? Sebuah temuan harus baru. Saya setuju dengan
syarat itu. Sebuah temuan harus dideskripsikan dalam teks pengajuan
paten. Saya kira saya bisa melakukannya. Sebuah temuan harus mampu
untuk penerapan industri (dalam hukum Eropa) atau harus menunjukkan
beberapa kegunaan (dibawah hukum Amerika Serikat). Ya, saya pernah
bekerja di pabrik dan saya amat berguna. Akhirnya, sebuah temuan
harus melibatkan langkah yang berdaya cipta. Menurut Tim Powell
dari Bristows --sebuah perusahaan hukum dengan spesialisasi hak
cipta intelektual, di sinilah pengajuanku gagal. Saya sama sekali
bukan temuan saya sendiri. Seorang ilmuwan yang mengkloningku bisa
saja menyatakan berdaya cipta tapi saya tidak bisa melakukan itu
terhadap diri saya sendiri.
Hal ini bukan lagi
masalah abstrak. Bulan April lalu, pengadilan paten Inggris menegaskan
sebuah paten yang dipegang Amgen untuk produk bioteknologi yang
dinamakan EPO. Keputusan itu berarti perusahaan itu boleh mempatenkan
sebuah gen karena EPO berasal dari rangkaian gen yang diketahui
tempatnya dan 'ditemukan.'
Tanpa paten orang
akan berada dalam dataran yang goyah, bahkan dengan tubuh orang
itu sendiri, seperti yang dialami oleh John Moore dari Seattle.
Beberapa tahun lalu limpanya diangkat di rumah sakit UCLA. Dia diminta
untuk menanda-tangani pemberian haknya kepada semua produk yang
diperoleh dari limpanya. Ia menolak, dan memutuskan untuk menyelidikinya
dan menemukan bahwa sebuah paten sedang diajukan untuk sel yang
diambil dari operasinya. Sebelas tahun kemudian pengadilan memutuskan
bahwa Moore tidak punya hak milik atas limpanya.
Hak cipta intelektual
bukanlah satu-satunya pertahanan dalam kasus seperti itu. Moral,
atau hak asasi manusia bisa juga ditegaskan, seperti yang diperlihatkan
oleh dua kasus yang banyak dipublikasikan di Inggris. Sebagian dari
penyelidikan The Bristol Royal Infirmary dan the Royal Liverpool
Children adalah tentang pengambilan bagian tubuh tanpa ijin. Hasilnya,
perubahan pada undang-undang tentang jaringan manusia (human tissue)
akan mengakui bahwa orang-tua punya kepemilikan moral atas tubuh
anak-anak mereka. Undang-undang hak asasi manusia yang baru disahkan
mungkin berhubungan dengan masalah ini juga.
Para penasehat
hukum dalam bidang ini punya banyak otoritas tertentu dalam mengarahkan
namun tanpa petunjuk yang jelas. Laporan The Nuffield Council on
Bioethics Tahun 1995 mengatakan bahwa penggunaan jaringan manusia
mungkin sah jika diambil untuk kepentingan pengobatan. Penelitian
medis dan biologi mungkin bisa digolongkan sebagai pengobatan.
Kloning untuk
pengobatan juga merupakan satu kasus. Kloning sel embryo untuk pencangkokan
(embryonic stem cell) untuk tujuan penelitian mendapat lisensi dalam
beberapa kasus di Inggris. Namun Bulan Agustus lalu, dengan pengesahan
baik dari Paus dan George Bush, hal itu menjadi kasus kriminal di
Amerika Serikat. Sepekan kemudian, Bush mengumumkan bahwa pemerintah
sedang menyiapkan pendanaan untuk riset yang menggunakan sel embryo
untuk pencangkokan yang tertinggal dalam operasi kelahiran "dimana
keputusan hidup atau mati sudah diambil." Ini amat tidak jelas.
Paus mungkin mengajukan
alasan bahwa dikloning atau tidak, embryo merupakan mahluk hidup
dan seharusnya tidak dirusak. Yang lain mungkin mengajukan alasan
bahwa embryo seperti itu tidak bisa digolongkan dalam istilah mahluk
hidup itu dan membuangnya hanyalah membuang kesempatan untuk menemukan
pengobatan atas penyakit.
Dalam pandangan
saya, Inggris benar. Namun jika ada embryo yang diambil dari istriku
dan digunakan tanpa persetujuan, saya tidak yakin. Kita jelas membutuhkan
keseimbangan antara kehormatan manusia dengan keperluan penelitian
medis. Namun ketika keseimbangan itu tidak ada, jangan segera menganggap
anda memiliki tubuh anda.
***
Diterjemahkan dari
Prospect, Februari 2002