esei
Kematian Bahasa
John
Sutherland
Bahasa
mungkin struktur yang paling kompleks
yang pernah ditemukan benak manusia namun, tragisnya, spesis ciptaan
kita yang paling mengesankan itu sedang sekarat. Menurut ahli bahasa
asal Inggris, David Cryustal, sekarang ini satu bahasa asli menghilang
setiap dua minggu. Pada akhir abad ini, diperkirakan 5.500 dari
6.000 bahasa yang sekarang dikunakan akan bergabung dengan Bahasa
Latin dan Yunani sebagai 'bahasa yang mati.' Kedua bahasa itu, tentu
saja, pernah merupakan bahasa dunia yang terkemuka. Sic transit,
begitulah dulu kata mereka. Apa yang kita saksikan adalah linguicide.
Sebuah pembunuhan massal bahasa.
Tidak
ada kebun binatang, museum, atau kuburan untuk bahasa yang mati.
Secara tehis memungkinkan untuk merekamnya guna diwariskan, dalam
bentuk struktur, sebelum pemakai terakhir menuju akhir hayatnya.
Orang bisa menciptakan arsip suara, menyusun kamus, menyimpan potongan
video dan menyimpan katalog materi yang tertulis. Tapi orang akan
kehilangan semua yang mewakili kehidupan bahasa; idiolek (gaya masing-masing
individu atau kebiasaan berbicara), dialek sub-kelompok, kekayaan
kesastraan dan ungkapan dari lidah yang hidup, dan kemampuan mencerminkan
model pemikiran khusus.
Tidka
ada yang lebih mirip jenasah dibanding bahasa yang mati. Mereka
tidak bisa hidup lagi. Dan faktanya yang kejam adalah tidak ada
pemerintah yang mau menggunakan uang pembayar pajak untuk proyek
seperti itu. Selamatkan ikan paus, ya. Tapi selamatkan, katakanlah,
Manx (pemakai terakhir bahasa di Isle of Man ini meninggal tahun
1974), lupakan saja.
Tidak
ada misteri tentang akar masalah dari holokos bahasa yang kita alami.
Ambil satu hari libur ke manapun di seluruh dunia. Pilot pesawat
terbang, saat anda mendengarkan petunjuk penyelamatan darurat (dalam
Bahasa Inggris), akan berkomunikasi dengan petugas di darat dengan
Bahasa Inggris. Tanda-tanda di bandara, dimanapun anda berada, akan
diulang dengan menggunakan 20 bahasa terkemuka dunia --dan sebagian
besar Inggris. Anda akan melihat logo Coca Cola. MTV akan muncul
di layar. Muzak akan dinyanyikan dengan lirik Anglo-Amerika saat
anda berjalan melewati lorong menuju tempat pengambilan barang.
Di hotel, klerek mungkin akan menggunakan bahasa anda, mungkin juga
bellhop. (Tip yang dia dapat tergantung pada penggunaan berbagai
bahasa --polyglot). Pergilah ke watung internet dan kode keyboard
yang akan memberikan hasil terbaik adalah yang Bahasa Inggris: lingua
franca masa kini.
Penyebaran Bahasa
Inggris merupakan produk dari adi kuasa bahasa yang terang-terangan.
Siapapun dan dimanapun orang yang ingin maju sekarang ini, maka
kemampuan Bahasa Inggris menjadi kewajiban. Kita melihat begitulah
adanya. Ketika calon perdana menteri Afghanistan mengunjungi Inggris
beberapa pekan lalu , koran-koran terpesona dengan pakaiannya yang
eksotis, yaitu selendang yang seperti taplak meja dengan aneka warna
yang dipakai di bahunya. Tidak ada yang berkomentar tentang Tuan
Karzai yang necis berbicara dengan Bahasa Inggris yang lebih bagus
daripada sebagian besar wartawan yang mewawancarainya.
Apakah
dia akan punya prospek memegang jabatan tinggi dalam Tata Baru Dunia
Bush-Blair, jika dia hanya bisa menggunakan Bahasa Pashtun? Saya
meragukannya. Kekuasaan datang, seperti yang terjadi di abad 20,
dari laras bedil. Namun di abad 21 kekuasan juga datang, dengan
lebih tenang, dari Oxford English Dictionary.
Bagaimana
hal ini terjadi? Bagaimana sebauh dialek, yang digunakan oleh suku
terbelakang dan semi buta huruf di sudut tenggara di sebuah pulau
kecil di Laut Utara menyebar, seperti sejumlah virus fitnah, ke
seluruh dunia? Apakah kita perlu merasa bersalah bahwa cara berbahasa
kita melenyapkan begitu banyak lidah-lidah lainnya? Apakah bukan
merupakan kolonialisme yang lebih kejam dibanding dengan yang kita
lakukan ratusan tahun lalu? Dulu kita hanya mengambil bahan kasar
saja. Sekarang kita menjajah benak mereka, dengan mengubah alat
utama mereka dalam berpikir ; 'bahasa mereka.'
Etika
adi kuasa bahasa bagi "pengguna asli Bahasa Inggris,' adalah
licik. Kita mungkin dapat perunggu --yang mungkin masih diperdebatkan--
dalam Olimpiade Musim Dingin, tapi kita mungkin kehilangan Kekaisaran
dan tidak punya peran lagi. Namun, berkat Tuhan, kita pemilik bahasa
besar yang bangga: bahasa paling atas dari liga utama bahasa. Senang
rasanya menjadi agung kembali.
Tapi
apakah begitu? Apakah 'Bahasa Inggris' adalah bukan sesuatu yang
salah? Bukankah akan lebih akurat untuk menamakan kembali apa yang
kita gunakan sebagai 'Amerika'? Apakah kita -- jika mau jujur--
merupakan penjajah bahasa atau hanyalah bagian yang mendapat keistimewaan
di kalangan yang terjajah? Yang paling dekat -- itulah tepatnya--
kepada kekuasaan yang sebenarnya, namun bukan pemilik kekuasan itu.
Kita tentu saja
bangga dengan semua kelompok musik pop mulai dari Stones sampai
Coldplay yang melancarkan kemenangan 'invasi Inggris' atas dunia
musik pop Amerika Serikat. Namun kenapa --mungkin ada yang bertanya--
semua pahlawan budaya ini semuanya menggunakan aksen dan idiom Amerika
dalam nyanyiannya. Siapa yang pernah menyenandungkan irama honk-tonk
wanita di Neasden? Apa ada kelompok musik top Amerika yang menyanyikan
'Inggris?'
Ini bukan invasi
tapi mengekor pemimpin. Amerika sekarang ini adalah dialek bahasa
Inggris yang dominan. Bahkan Perdana Menteri Tony Blair mengatakan
'saya seorang jenis yang terus terang' --persis seperti aktor Amerika
dalam seri Tony Soprano
Aksioma yang
paling digemari di kalangan ahli bahasa adalah "bahasa merupakan
sebuah dialek dengan tentara di belakangnya." Ikutilah tentara-tentara
besar di dunia (Romawi, Norman, Amerika, Cina, Rusia) dan anda akan
menemukan 'bahasa dunia.' Tentara yang paling potensial, di tahun
2002 ini, mengibarkan bendera bintang dan garis. Jika saja Toni
Blair memiliki Armada Ketujuh dan 500 pembom B52, Dubya akan berbicara
seperti orang di Downing Street. Teruslah bermimpi Presiden Blair.
Faktor lain
yang mempercepat penyebarluasan ke seluruh dunia dari Inggris-Amerika
adalah 'penyeragaman dialek' yang disebabkan oleh media massa modern.
Sekitar 40 persen acara pada masa puncak TV di Inggris berasal dari
Amerika; layar bioskop dan saluran gaya musik MTV bahkan lebih miring
ke arah produk transatlantika. Hasil dari penyeragaman ini bisa
diukur dari kalangan anak muda yang lebih suka gaya Amerika 'discourse
fillers' atau percakapan yang disingkatkan : 'ya know,' 'kinda,'
'sorta,' 'check it out.' Anda akan mendengarnya di London sama seringnya
dengan di New York.
Entah itu menjadi
senjata perang atau pertanda budaya, bahasa bagi manusia sama seperti
air bagi ikan. Ambillah bahasa dan tidak akan ada manusia maupun
monyet pintar terbukti kepintarannya, seperti dalam buku baru, The
Power of Babel karya John McWhorter. Dalam buku itu, McWhorter,
asisten profesor linguistik di University Berkeley, menyatakan bahwa
bahasa --atau komunikasi yang canggih-- adalah sesuatu yang istimewa
dan unik pada manusia. "Baik lebah, chimpanse, burung kakak
tua atau anjing," katanya, " yang bisa membuat atau menerima
bahasa seperti 'Apakah anda tahu kalau ada cumi-cumi dengan kaki
sepanjang 50 kaki dan semakin memanjang jika berada di laut dalam?"
Formasi konsep
yang canggih itulah yang menyusun bahasa. Tidak hanya bahasa itu
khusus bagi manusia, namun juga tidak ada orang yang menjadi manusia
utuh tanpa bahasa : "dengan adanya keuntungan nyata bahwa bahasa
dianugerahkan kepada spesis manusia, tapi juga amat hampir tidak
mungkin ada kelompok manusia yang pernah berhenti ngomong."
McWhorter tampaknya tidak pernah mendengar kaum Trappist, namun
dia mencatat bahwa 'orang Puliyane di India Selatan jarang sekali
berbicara setelah melewati usia 40; orang Denmark cenderung pendiam;
orang Karibia juga begitu." Namun semua monyet yang telanjang
berbicara. Ini merupakan spesis universal.
Masih
berlangsung terus perdebatan apakah kemampuan manusia menguasai
permesinan bahasa yang amat kompleks (tanpa menyinggung keunikan
dialek masing-masing) bisa dijelaskan dengan instink (kecenderungan
berperasaan halus) atau dengan kondisi sosial budaya.
Apakah
manusia mempunyai apa yang disebut oleh Steven Pinker sebagai 'instink
bahasa' -- seperti dalam bukunya dengan judul yang sama-- atau apakah
kita mengambil aturan-aturan berbahasa, praktek dan keahlian berbahasa
sebagaimana kita belajar catur atau bagaimana memprogram pesawat
pemutar video.
Kedua
teori yang bertentangan ini mengarah pada berlangsungnya dekade
perdebatan antara mashab TG (transformational grammar) yang lebih
suka pada teori instink dan dimulai -- awalnya-- oleh Noam Comsky
dengan para penganut deskripsionis. Uji coba yang kuat adalah bagaimana
sampai manusia bisa membuat kalimat yang belum pernah kita dengar
sebelumnya? Misalnya : 'ikan mati punya gaya rambut sama seperti
Posh Becks.' Dari trilyunan pidato yang ada sepanjang sepuluh tahun
belakangan ini --saya yakin-- tidak ada satupun yang pernah mengatakan
kalimat tersebut. Itu punya arti sesuatu (harus diakui berarti sesuatu
yang tolol). Bagaimana saya menciptakan sesuatu yang belum pernah
saya dengar.
Argumentasi
kecenderungan genetik didukung oleh dua fakta yang bisa diamati.
Bayi melewati fase mengambil bahasa dengan cara dan kecepatan yang
mengagumkan. Mereka tidak bisa belajar mengemudi mobil pada usia
tiga tahun. Namun mereka bisa belajar bahasa apapun. Pada sisi lain,
hampir semua anak berusia 17 tahun yang lulus tes bahasa yang ringan
harus bersusah payah. Kita sepertinya memiliki sebuah fase 'penjejakan
bahasa' pada masa kanak-kanak. Sebutlah itu instink.
Bagaimanapun,
anak anda akan berbeda bicaranya dari anda, dan anak mereka akan
berbeda dari mereka. Semua enam ribu bahasa manusia (yang sedang
menyusut) berasal dari akar bahasa Afrika -- walaupun sudah berubah
bentuk jauh sekali-- dan terus bermutasi, ad infinitum. Dialek mati
dan berubah. Begitulah hidup dialek. Namun bahasa itu sendiri tidak
pernah punah. Dan tidak akan, sepanjang manusia ada.
Kesempatannya,
bagaimanapun, adalah untuk beberapa generasi sebagian besar manusian
akan menggunakan bahasa Inggris. Namun jangan putus asa dan jangan
bersuka ria. Orang Romawi amat yakin kalau dulu itu Bahasa Latin.
***
Diterjemahkan
dari The Independent on Sunday, 10 March 2002
ceritanet©listonpsiregar2000