sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 9, Rabu 4 April 2001

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

 

laporan Anak Jalanan Lorosae
Julito

Anak jalanan ada dimana-mana, menjadi masalah dimana-mana, juga menjadi objek -atau subjek-dari program sosial dimana-mana. Sisi masalahnya beragam. Yang paling ringan mencakup musnahnya kesempatan untuk pendidikan, kehilangan waktu bermain, miskinnya fantasy, maupun malnutrisi atau keletihan fisik yang menghambat pertumbuhan. Lebih berat masuk ke perburuhan anak, penggunaan obat terlarang, dan -yang menjadi hantu abad 21-korban pidopilia. Kasus yang ringan sampai yang berat, yang selalu dituding menjadi sumber masalah sosial masa depan.

Di Timor Lorosae, hampir dua tahun setelah jajak pendapat, terasa semakin banyak saja anak-anak jalanan, paling tidak dibandingkan tahun lalu. Memang, sebutlah, masih pada tingkat awal; masalah ekonomi. Anak-anak jalanan ini sering ngumpul di depan Gedung pemerintahan sementara PBB, Untaet, dan di restoran-restoran. Referendum yang memutuskan Timor-Timur berpisah dari Indonesia membuka pintu bagi orang-orang Tim-Tim pelarian dan restoran adalah salah satu peluang bisnis yang terbuka. Restoran dengan menu internasional untuk para staf Untaet yang multi-nasional. Itulah sasaran anak jalanan di Dili.

Mereka menawarkan jasa membersihkan mobil maupun berjualan koran. Walaupun semangat Untaet adalah mendidik orang Tim-tim dan bukan memberi sedekah, tapi sepertinya pendapatan nyata membuat anak jalanan ini semakin banyak. Siapa mereka --dalam masa transisi Timor-Timur sekarang ini bukanlah jadi prioritas-- walau tetap saja jadi pertanyaan banyak orang. "Anak-anak itu masih terlalu kecil. Saya tidak tahu kondisi mereka di rumah," kata Lia Kent dari Unit Hak Asasi Manusia UNTAET. Sebagian besar dari mereka, tambah Lia Kent yang pernah ngobrol dengan mereka, bukanlah anak jalanan tulen."

Banyak di antara mereka yang tidak tidur di pinggir jalan. Mereka tetap bersama keluarga, tapi banyak juga yang tidak sekolah.'' Jadi motifnya pendapatan ekonomi semata. Seorang wartawan SBS TV dari Australia, Mark Davis, sering menggunakan jasa anak jalanan, karena, menurutnya, masalahnya sederhana. ''Mereka membutuhkan uang untuk membantu keluarganya. Jadi tak ada yang bisa memarahi atau melarang mereka." Singkatnya tidak ada masalah, begitulah pendapat Mark. Semua orang tahu kalau masalah di seluruh Timor Lorosae saat ini ini adalah ketidak-mampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Jika mereka menawarkan jasa untuk mencuci mobil saya, saya akan membayar mereka. Kenapa tidak?" kata Mark menegaskan hukum permintaan dan penawaran.

Sebenarnya tidak ada alasan kalau masalah anak jalanan luput dari perhatian karena lembaga donor sudah menegaskan sumber daya manusia merupakan salah satu sasaran utama. Mungkin persoalannya adalah alokasi dana, dan anak jalanan masuk dalam daftar yang bukan prioritas. Memang ada juga sejumlah organisasi sosial yang memusatkan perhatian pada anak-anak yang ditinggal orangtuanya akibat perang, atau yang secara sosial ekonomi tergolong kurang perhatian. Tapi bertambahnya anak-anak pembersih mobil dan penjual koran di depan Gedung Untaet dan restoran-restoran jelas menjadi petunjuk kalau ada masalah anak jalanan di Timor Lorosae --terlepas dari seberapa kecil dan belum seriusnya masalah tersebut saat ini.

Jika dilihat dari belum terlalu kompleksnya kehidupan di Dili, dan pada sisi lain besarnya perhatian PBB dan lembaga donor internasional ke Timor Lorosae, mestinya masalah anak jalanan ini kelak tidak akan menjadi semakin besar. Selagi masalahnya masih sekedar pendapatan ekonmi --yang belum tumpang tindih dengan masalah sosial lain-- anak jalanan Lorosae akan lebih mudah diatasi. Tentu saja perlu ada keyakinan tulen kalau anak-anak adalah satu-satunya sumber generasi masa depan. Dimana-mana mereka butuh makan dan tidur yang cukup, pendidikan dan permainan. Anak-anak dimana-mana belum saatnya menjadi orang jalanan.
***

situs nir-laba untuk karya tulis ceritanet
 

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

links