ceritanet, situs nir-laba untuk karya tulis              edisi 99 senin 25 april 2005,  po box 49 jkppj 10210

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Waktu mereka tinggalkan Rusia Tengah dan pergi ke Timur, mulailah peristiwa-peristiwa yang jarang tersua. Orang lewat wilayah bergolak, daerah-daerah tempat gerombolan bersenjata sedang berkuasa, lewat dusun-dusun dimana baru saja pemberontakan dipadamkan,

Kereta api dapat berhentin entah dimana saja dan patroli keamanan memeriksa kertas-kertas dan bagasi para penumpang.

Sekali mereka berhenti waktu malam, tapi tak ada yang masuk dan tak ada yang bangun.

Malam gelap. Seolah tanpa alasan, kereta api telah berhenti di tengah-tengah tanah luas dengan pohon-pohon ru di kanan kiri rel. Penumpang-penumpang lain yang sudah turun dan lagi menghentakkan kaki ke salju, menceritakan pada Yury bahwa tak ada apa-apa, tapi masinis tak mau terus, katanya di situ ada bahaya dan harus diperiksa dulu dengan lori; beberapa juru bicara dari kalangan penumpang sudah mendatanginya dan kalau perlu menyuapnya, pun pelaut-pelaut ikut campur tangan dan pasti akan berhasil.

Seperti ada api unggun, salju di depan kepala kereta ap diterangi sekali-sekali oleh kilatan berapi dari mesin atau oleh batu bara menyala dalam tender. Dalam cahaya ini beberpa sosok tubuh gelap kini nampak lari-lari ke depan lokomotif.

Yang pertama, boleh jadi masinisnya, mencapai ujung terjauh dari titian, melompati bufer-bufer dan lenyap seolah ditelan bumi. Pelaut-pelaut yang mengejarnya berbuat begitu juga; merekapun meloncat dan lenyap.

Semua ini membuat beberapa penumpang ingin tahu, antaranya Yury dan pergilah mereka untuk melihat.

Di sebelah sana dari bufer-bufer terbentanglah rel di depan mereka dan disitu mereka tercenung oleh pemandangan yang mengherankan. Di tepi jalan rayam, sebelah atas tubuh masinis tersembul dari salju yang dalam, dimana ia terjatuh. yang mengejarnya itu berdiri dalam separoh lingkaran di sekitarnya bagai pemburu-pemburu mengerubungi mangsa; seperti dia merekapun teruruk salju sampai ke pinggang.

"Terimakasih kawan-kawan, benarlah kamu 'burung badai' yang 'bergolak," seru masinis itu. "Elok dipandang, pelaut-pelaut memburu sesama buruh dengan bedil! Hanya lantaran kukatakan bahwa kereta ai harus berhenti. Kamulah saksiku, kawan-kawan penumpang, kamu lihatlah tempat apa ini. Tiap orang bisa berkeliaran dan melepaskan segala pasak. Persetan dengan kamu, kaum blasteran keparat, persetan dengan ibu dan nenekmu, tak perduli! Untuk kamulah aku berbuat ini supaya tak terjadi apa-apa dengan kamu, tapi inilah terima kasihmu untuk jerih payahku, Silahkan, silahkan tembaklah aku! Di sini aku, kamu saiksikan, kawan-kawan penumpang, aku tidak lari."

Suara-suara gelisah timbul dari kelompok. "Diamlah, sobat...Mereka tak bermaksud menembak...Tak akan dibiarkan begitu...Mereka cuma menakut-nakuti kamu..." Lain-lainnya mendesak padanya. "Betul, Gavrilka, bangkitlah sendiri! Persilahkan mereka!"

Pelaut pertama yang kerengkelan dari dalam salju adalah seorang raksasa berambut merah; kepalanya begitu besar hingga parasnya seolah rata. Ia berpaling pada para penumpang, lalu bicara dengan suara besar, sabar dan tidak tergesa-gesa, berlogat Ukraina, maka sikap tenangnya itu tak serasi dengan kejadian, hingga janggal.

"Maaf apa gunanya segala thermidor* ini? Jangan sampai masuk angin dibawa dingin ini, kaum warga. Angin banyak. Mengapa tak duduk kembali supaya hangat?"

Khlayak lambat laun berpencaran. Si raksasa mendekati masinis itu yang masih rusuh, katanya: "Cukuplah, jangan histeris lagi, kawan masinis. Keluarlah dari salju. Jalan sekencang-kencangnya dan waspadalah."
***
*. Menunjuk pada Revolusi Perancis, dalam bentuk di Rusiakan, perkataan ini dipergunakan oleh pelaut yang sadar politik itu dengan kegaduhan.

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau)
Bekerja

tulisan edisi 99

memoar Yang Mau Berdamai
Eliakim Sitorus

sajak Musim dan Kamu
Mia Singgih

ceritanet
©listonpsiregar2000