memoar
Yang
Mau
Berdamai
Eliakim
Sitorus
Layaklah
saya berbangga, atau paling tidak sederhananya,
gembira usai
Perjalanan ke Sampit kali ini. Tentu
ada penyebabnya. Setelah sejak bulan
ketiga tahun 2002 saya kerap berkunjung
ke Kalimantan Tengah, tepatnya ke
Sampit, maka baru kali ini perasaan saya
paling plong.
Biasanya, saya selalu dibebani dengan
sejumlah pertanyaan dan keraguan. "Apakah
memang apa yang saya persiapkan akan
bisa dilaksanakan?' begitulah antara
lain bayang-bayang yang menghantui
setiap kali meninggalkan Sampit.
Tapi Bulan Maret lalu, seolah terasa
sedikit hasil kerja keras saya. Ya,
baru sedikit dan juga ya, kerja keras
bersama kawan-kawan. Genderang perdamaian
yang saya tiup mulai dari
volume kecil sambil was-was, lalu membesar,
dan sekarang boleh dibilang mulai
membahana.
Bermula dari ketertarikan untuk mendalami
isu resolusi konflik atau
manajemen konflik --atau istilah apapun
yang dipakai orang-- maka saya
membaca beberapa buku tentang hal itu.
Lalu, teringat kembali kenangan
tentang Alternative Dispute Resolution
(ADR), yang untuk pertama kali saya
dengar diterapkan guna menyelesaikan
masalah sengketa lingkungan hidup
di
Semarang --entah oleh siapa dan lembaga
apa.
Ketika itu, meski masalah pertikaian
lingkungan hidup antara masyarakat
korban limbah dengan pihak perusaahan
pencemar sudah diperiksa di
pengadilan
negeri setempat, ternyata masih ada alternatif
lain dari jalan
penyelesaian
itu. Proses hukum ternyata bukanlah satu-satunya
jalan akhir dalam
menyelesaikan sebuah sengketa.
Terdengar demikian sederhananya urusan
tersebut. Tapi nyatanya ada yang
berhasil, namun terlalu banyak pula yang
tidak berhasil. Banyak faktor dan
kondisi yang membuat mengapa penyelesaian
alternatif atas berbagai
pertikaian di Indonesia gagal diselesaikan
dengan baik.
Dan menjelang masa akhir kerja saya di
Biodiversity Support Program (BSP)
Kelompok Masyarakat Pengelola Sumber
Daya Alam (Kemala), tahun 2000, saya
menemukan hasil kerja kawan-kawan dalam
pembuatan buku manual training
resolusi konflik sumber daya alam: Peluang
atau Ancaman. Dari situlah
semakin muncul ketertarikan, dan akhirnya
saya menerjunkan diri ke kancah
konflik Ambon, lewat apa yang disebut
dengan Baku Bae Maluku.
Terhitung sejak Januari 2002, sayapun
bergabung dengan sebuah lembaga
swadaya masyarakat internasional yang
baru saja membuka kantornya di
Jakarta
untuk bekerja di Indonesia. Lembaga ini,
Search for Common Ground in
Indonesia mengkhususkan diri
dalam isu penanganan konflik, pencegahan
konflik, yang lajim diistilahkan
sebagai transformasi konflik.
Dengan pengetahuan dan pengalaman yang
sudah ada sebelumnya, walau relatif
masih kecil, saya bergegas merancang
berbagai program dan rencana kegiatan
mendamaikan masyarakat etnis Madura dengan
etnis Dayak di Kabupaten
Kotawaringin Timur dan Palangka Raya.
Sesekali saya coba juga sampai ke
Kuala Kapuas, namun karena kapasitas
yang sangat terbatas, Kuala Kapuas
tidak terlayani secara optimal.
Awalnya
tak enak perasaan saya setiap
menyebut Kuala Kapuas, sebab pada kenyataannya
tidak banyak yang kami
kerjakan di sana. Teapi belakangan
ini ada juga program Perempuan
bagi Perdamaian, yang juga diusung
oleh
kantor saya,
maka saya bisa dengan tegas mengatakan
untuk wilayah Propinsi Kalteng,
kami meliputi Sampit, Palangkaraya
dan
Kuala
Kapuas.
Konflik etnis di Kalteng ini membuat
Sampit tiba-tiba menjadi sangat
terkenal pada pertengahan Februari 2002.
Namanya sekonyong-konyong ibarat
nama selebritis yang menjulang ke angkasa,
disebut-sebut para penyiar tivi
dan radio, ditulis oleh wartawan koran
dan majalah. Itulah Sampit, ibukota
Kabupaten Kotawaringin Timur, yang menjadi
saksi bisu terjadinya saling
bantai antar anak manusia yang kebetulan
berbeda latar belakang suku.
Dan
kota ini --yang separuh lebih jumlah
penduduk sebelum terjadi tindak
kekerasan adalah masyarakat Madura--
menjadi lengang. Pada saat itu
semua warga Madura sudah diungsikan ke luar.
Sebagian besar diungsikan atau
mengungsikan diri ke Pulau Madura di
Jawa Timur.
Ketika saya tiba di Sampit untuk pertama
kalinya, 5 Februari 2002 --lebih
kurang setahun setelah terjadi saling
bunuh itu-- masih jarang saya
temukan orang yang mengaku sebagai Madura,
baik di Sampit maupun di Kabuputen Kotawaringin Timur. Sebaliknya mayoritas
orang yang saya temui mengaku
beretnis Dayak.
Jika
saya kejar dengan pertanyaan
sub-etnik
Dayak
apa, maka jawabannya: Dayak Pesisir.
Tentu saja saya bingung idiom
atau
kategori Dayak Pesisir, karena sebelumnya
tidak pernah saya baca dan
saya dengar di
berbagai kesempatan diskusi
tentang Dayak. Tetapi itulah
faktanya,
yang
bukan suku Dayak pun mengindentifikasi
dirinya sebagai 'suku pemenang'
pada
konflik kekerasan yang lampau.
Jadi, seolah bertambahlah
jumlah Orang
Dayak
di Sampit paska perang saudara
tersebut. Beda
dengan Kabupaten Kotawaringin
Timur, maka mayoritas warga etnis Madura
di Kabutapetn Kotawaringin Barat tetap
tinggal di daerahnya; mereka tidak
mengungsi, utamanya di kota Pangkalan
Bun.
Begitu sampai di Sampit, saya berupaya
membangun jaringan dengan
bertemu sebanyak mungkin orang dan mulai mengajak
mereka untuk memikirkan usaha-usaha
perdamaian dengan sesama manusia masyarakat beretnis
Madura, yang dulu pernah menjadi penduduk daerah
itu walau sedang berada di
tempat lain alias di pengungsian. Sulit, sukar,
dan memedihkan. Begitulah
suasana
yang saya temukan.
Rasa curiga dan rasa dendam masih berkecamuk.
Bahkan ada orang-orang yang
alergi sekedar mendengar kata damai . Tidak suka!
Rupanya
sebelum saya datang, sudah ada lembaga
swadaya masyarakat
lainnya yang betemu dan berbincang dengan mereka
tentang kemungkinan merancang
usaha-usaha perdamaian di sana. Namun
perbincangan perdamaian
itu tidak berlanjut kemana-mana.
Karena itu, ketika saya datang wajar
rasanya beberapa warga
yang saya temui
berkomentar dengan ringan; "Nah,
lihat nih, ada LSM lagi
datang, nanti dia kumpulin kita dan bikin
daftar hadir,
setelah itu hilang, tidak
muncul
lagi".
Tentu saya prihatin mendengar komentar
begitu. Tetapi karena hingga
bulan sebelumnya, saya masih tetap konsisten
untuk lembaga tempat saya
bekerja, yang masih terus mengusahakan perdamaian
--meski sering tidak berhasil
baik-- maka tudingan semaca tadi rasanya menjadi tidak valid.
Saya merekrut seorang staf yang telah
mengenal kawasan itu. Dia
bekas staf organisasi nirlaba yang sejak Juni 2001
telah melakukan asesmen
di Kalimantan Tengah, termasuk Sampit, tetapi
entah karena apa, akhirnya
tidak pernah muncul lagi. Saya tidak perlu perpraduga macam-macam, bukankah
sesama LSM atau Ornop harus saling menghormati.
Berbagai kegiatan kemyudian kami lakukan,
baik di Madura maupun di
Kalteng. Mulai dari lokakarya perencanaan
program sttaregis untuk perdamaian
Dayak Madura, jambore anak-anak korban konflik,
maupun dialog dari hati
ke hati
di antara berbagai elemen dari kedua masyarakat
yang telah tersegregasi.
Bagi
etnis Madura, kehadiran fasilitator
transformasi konflik
semacam saya dan lembaga saya, menjadi
peluang untuk
menuju usaha damai. Dan
itulah
yang mereka inginkan, walau banyak juga
yang kecewa karena berharap akan
segera membawa mereka pulang kembali ke Kalteng.
Masalahnya, sejak awal
kami
tidak memprogramkan pemulangan pengungsi
internal. Di samping tidak punya
kapasitas --baik dari segi dana maupun
personil-- juga karena
pertimbangan yang lebih substansial; untuk apa kembali
ke Kalteng jika ternyata
akan terjadi lagi pembantaian?
Kekecewaan masyarakat Madura itu rasanya
tergandakan pula dengan
kecurigaan masyarakat Dayak. Mereka curiga
jangan-jangan kami membawa kembali Madura
ke Kalimantan Tengah sehingga berpotensi
terjadinya kembali aksi-aksi
kekerasan saling balas dendam. Hal itu
membuat kalangan Dayak --dan juga
suku-suku lainnya di Kalteng-- menolak pemberitaan
apapun di media massa
tentang setiap aktivitas yang kami lakukan atau
kami fasilitasi.
Persyaratan
yang
tak sulit untuk kampi penuhi, dan sejak saya
tiba, Februari 2002,
hingga Maret 2005, praktis tak sekalipun kami memberitahu
kegiatan kami kepada
media massa, yang secara natural mungkin tidak
tertarik pula dengan
kegiatan perdamaian --kalau kekerasan
antar suku, ya tertarik.
Itu bukan berarti kegiatan kami tidak
pernah jadi berita.
Suatu kali, seorang pejabat pemerintah daerah Kabupaten
Kotawaringin Timur
membentak-bentak saya karena tiga koran lokal menyebut lembaga kami
akan membawa kembali suku Madura ke Kalteng.
Saya tak tahu persis
apa dan bagaimana berita ketiganya, tapi melihat
tingkat bentakan pejabat
pemda
itu, ada keyakinan angle berita itu lebih
pada kembalinya potensi
konflik, yang secara natural amat diminati sejumlah
besar media Indonesia.
Saya berupaya meyakinkan pejabat itu
bahwa tak satupun dari
ketiga koran lokal itu pernah mewawancarai saya. Tapi
pejabat itu tidak bisa
lagi merekdakan kemarahannya. Saya kesal dan
saya kecut, Untunglah
soal ini kemudian tidak menjadi masalah bagi masyarakat
Dayak yang sedang kami
dekati, yang kesepakatannya --seolah-olah--
sudah saya langgar.
Saya mengirim surat ke pemimpin redaksi
koran itu, namun tidak
dimuat
--jelas kalau surat bantahan saya itu
akan menyudutkan kredibilitas
ketiga koran itu. Lagipula apa pentingnya seorang
pegiat yang datang
dari luar daerah, sehingga surat bantahannya harus
dipertimbangkan.
Tidak lama kasus bentakan --yang tidak
bisa saya bantah--
dan bantahan --yang tidak dimuat ketiga koran-- saya
berhasil meminta jasa
seorang wartawan di Sampit untuk menemui dua
wartawan yang menulis
berita 'orang Madura akan dibawa kembali ke Kalteng
oleh sebuah LSM'. Salah
seorang
mengakui kekhilafannya dan minta maaf,
dan sampai hari ini
wartawan itu menjadi sahabat saya.
Sedang wartawan yang satunya tetap ngotot
dan merasa dirinya
tetap benar.
Dia tetap yakin bahwa dia punya alasan
kuat untuk kutipan
:"...sebagaimana
disampaikan oleh Manajer Program Eliakim
Sitorus kepada koran
ini...". Padahal faktanya saya tidak
pernah menyampaikan apa-apa kepadanya,
atau
kepada korannnya. Dia, sepertinya, mengutip
dari koran lainnya,
yang juga
tidak pernah mewawancarai saya.
Wartawan yang kedua itu memang tidak
langsung saya tempatkan
menjadi musuh saya, tapi jelas seratus persen tidak
menjadi sahabat. Akan
halnya pejabat yang membentak-bentak itu ternyata belakangan
bisa juga bersahabat
dengan saya. Memang sejak awal tidak ada dendam
saya padanya. karena
mungkin dia
dimarahi oleh atasannya dan dia kemudian
menumpahkan kemarahannya
kepada saya. Siapa tahu, waktu itu saya juga
kemudian menumpahkan
kemarahan
kepada orang lain. Saya lupa, karena orang
yang marah tentu lebih gampang
lupa daripada yang dimarahi, tapi rasanya
tidak karena
saya memang bukan
tergolong orang yang gampang marah.
Suatu
kali kegiatan yang sudah kami rancang
akan dilaksanakan berturutan
di kota Sampit dan di sebuah desa terpaksa
dibatalkan, karena
tidak diijinkan oleh pejabat setempat.
Meski saya sudah menghadap ke pejabat
yang
saya anggap sudah paling berkuasa, tetap saja
muncul surat dari
Sekretariat
Pemda yang menyatakan agar kegiatan-kegiatan
itu tidak dilaksanakan.
Alasannya? Demi Pemilihan Umum 2004. Waktunya?
Kegitan kami itu rencananya digelar
di pertengahan tahun 2003.
Tapi seluruh situasinya berubah ketika
memasuki tahun
2005. Bulan Maret
2005 lalu kegiatan pelatihan untuk pengembangan
kapasitas warga
dalam usaha perdamaian kami laksanakan di sebuah
hotel di dalam
kota Sampit. Dibuka dengan resmi oleh pejabat bupati sementara,
dan disiarkan oleh
tiga koran
lokal dan regional secara serempak. Kali
ini saya memang
benar
diwawancarai oleh tiga koran lokal.
Hadir pula sebagai narasumber wakil dari
kepolisian setempat
dan Pemda,
dan pelatihan ini membuat saya plong. Soalnya
pelatihan itu hanyalah
awal dari serangkaian kegiatan lainnya. Masih akan
ada lagi berbagai
kegiatan untuk mendukung proses pemilihan kepala daerah
secara damai, yang
akan berlangsung Juni 2005.
Mayoritas masyarakat di sana memang ingin
dan mau berdamai.
Kalau bisa
hidup damai dan aman, mengapa pula harus
saling bunuh atau bertikai!
***
Jakarta,
21
April
2005