ceritanet, situs nir-laba untuk karya tulis      edisi 97 senin 4 april 2005,  po box 49 jkppj 10210

memoar Srr...tik tik dan Buku Pelajaran Bahasa Indonesia
Mula Harahap

Saya rasa, buku "Bahasaku" yang kami pergunakan ketika belajar di SD dahulu, adalah buku teks pelajaran Bahasa Indonesia yang paling hebat di dunia.

Saya berani mengatakan demikian, karena setelah empat puluh tahun berlalu, masih banyak hal dari buku tersebut yang melekat di kepala saya.

Saya masih ingat nama-nama tokoh yang terdapat dalam bacaan buku tersebut.

Tokoh yang pertama tentu adalah Amir. "Ayah Amir orang tani. Pagi-pagi benar ia telah pergi ke sawah...." dan di atas teks tersebut ada sketsa seorang lelaki tanpa baju yang mencangkul di sawah.

Tokoh yang kedua adalah Tuti. Disamping sekelas, maka saya rasa ia juga marpariban dengan Amir. "Tuti adalah anak paman Amir...", dan Tuti memiliki seorang abang laki-laki bernama Sidin.

Kalau ayah Amir adalah petani, maka ayah Tuti adalah pegawai. "Ayah Tuti bekerja di kantor..." Dan di atas teks yang ini ada sketsa seorang lelaki berkopiah, mengayuh sepeda dan tasnya tergantung di palang sepeda.

Tokoh lainnya lagi, yang juga sekelas dengan Amir dan Tuti, adalah Hasan. Saya tidak tahu hubungan kekerabatan antara Hasan dengan kedua temannya itu ; tapi yang jelas ia adalah anak seorang pedagang kelontong. "Hasan membantu ayah menjaga warung..." dengan sketsa seorang anak lelaki berpeci di belakang tumpukan karung dan timbangan.

Tokoh lainnya lagi adalah Muntu. Anak yang satu ini selalu digambarkan memakai peci yang melintang di kepala. Ia tidak cerdas seperti Amir, Tuti, dan Hasan. Ia selalu mendapat teguran dari Bapak Guru, karena selalu tertidur di kelas serta kukunya panjang dan kotor. "Muntu temanku malas belajar...".

Kemudian tokoh lainnya lagi, yang kadang-kadang muncul dalam buku yang terdiri dari 12 jilid --kelas 1 sampai 6 SD, masing-masing 2 jilid-- adalah Togap, Jakum, dan Darma.

Saya tidak tahu, apakah Togap ini orang Batak atau bukan, karena di buku "Bahasaku" ia tidak memakai marga. Tapi yang saya ingat jelas, Togap selalu tangkas bermain kasti.

Jakum saya persepsikan sebagai 'idiot' dan mulutnya kecil. Di dalam sebuah bacaan, diceritakan bahwa ia hampir tercekik karena tak bisa mengeluarkan biji durian yang telah dikulumnya. "Mari kutuil," kata Amir. Dan lewat cerita itu bertambah pula perbendaharaan kata saya dengan 'tuil.'

Darma adalah anak Pak Lurah. Suatu ketika ia menjadi dinamisator dari anak-anak yang lain untuk membuat perahu dan mengapungkannya di sungai. Ilustrasi sekelompok anak lelaki yang menaiki perahu buatan sendiri tentu adalah sesuatu yang sangat luarbiasa, bagi seorang anak SD seperti saya.

Saya tidak tahu, dimana lokasi dari semua cerita di dalam buku itu. Tapi pernah diceritakan bahwa Hasan dibonceng oleh ayahnya ke Jatinegara. Disana mereka membeli sepeda. Dan pulangnya, Hasan mengayuh sepedanya sendiri. Di dalam bacaan, bunyi sepeda baru tersebut digambarkan sebagai : "srr..tik-tik...srr...tik-tik...srr...tik-tik."

Ketika pertama kali datang ke Jakarta, maka tempat pertama yang ingin saya kunjungi adalah Jatinegara. Saya ingin mengetahui dimana toko yang menjual sepeda yang berbunyi "srr..tik-tik" itu. Tapi saya kecewa karena suasana Jatinegara jauh dari apa yang saya khayalkan ketika membaca buku tersebut di SD.

Jalanannya macet, walau memang ada satu toko Cina yang menjual sepeda. Tapi saya ragu, apakah itu toko yang dikunjungi Hasan. Dan, lagipula, bagaimana mungkin kita mendengar suara sepeda yang "srr..tik-tik", di tengah hiruk-pikuk lalulintas Jakarta?.

Masa kini
Kalau saya melihat buku teks pelajaran Bahasa Indonesia yang dipergunakan oleh anak-anak SD masakini, saya jadi jatuh iba dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Saya tidak tahu, anak-anak seperti apa yang hendak dibentuk oleh buku pelajaran jaman sekarang ini. Isinya penuh dengan teori berbahasa dan istilah linguistik yang membuat kepala sakit. Anak-anak SD dijejali dengan istilah sufix, prefix, intransitif, ajektif dan sebagainya. Dan tidak heran, kalau latihannya lebih banyak diberikan dalam bentuk soal pilihan berganda, ketimbang praktek bercakap-cakap atau mengarang.

Saya rasa Harimurti Kridalaksana, Anton Mulyono atau Jus Badudu pun tidaklah dibesarkan oleh buku-buku semacam ini.

Saya bukan seorang pakar pendidikan. Tapi menurut hemat saya, buku teks pelajaran Bahasa Indonesia yang baik tentu adalah buku yang memampukan anak untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya, secara lisan maupun tertulis, dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Itulah yang saya alami dengan buku teks "Bahasaku" karangan B.M. Nur dan W.J.S Poerwadarminta dahulu.

Sajak-sajak
S etiap bab dari buku teks tersebut hanya diisi dengan pelajaran membaca, menceritakan kembali apa yang baru dibaca dengan kata-kata sendiri, membenarkan kalimat, bersajak dan menulis cerita berdasarkan sebuah rangkaian gambar.

Saya masih ingat, di dalam sebuah buku ada ilustrasi seseorang yang memakai tangga untuk menaiki kudanya --"Hei, apa pula yang sedang dilakukan oleh si bodoh ini? Ceritakanlah dengan kata-katamu sendiri...". Sepotong gambar bisa saya 'rentangkan' di dalam dua atau tiga lembar kata-kata di atas buku tulis.

Gambar lainnya yang tak mudah saya lupakan ialah tentang seekor katak yang dikejar-kejar oleh sekelompok tikus bersenjatakan tombak dari batangan lidi. Katak tersebut melompat ke sebuah kaleng bekas kemasan ikan sardencis dan berlayar menyusuri sungai, meninggalkan tikus-tikus terkesima di pinggir sungai. Ilustrasi tersebut juga sangat merentang imajinasi.

Pelajaran menghapal sajak dan mendeklamasikannya di depan kelas juga adalah bagian dari latihan berbahasa.

Sajak yang tak bisa saya lupakan ialah Tukang Pos

Aku tukang pos rajin sekali
Siapa saja aku datangi
Tidak kupilih miskin dan kaya
Surat Sutini harus kuantar
Untuk Komara musti kubawa
Kesana-sini roda berputar
Kabar gembira orang tertawa
Ring-ring pos.

Lalu di atas sajak itu ada sketsa seorang anak kecil memakai 'celana monyet' sedang mengayuh sepeda beroda tiga.

Sajak lain yang juga tak mudah dilupakan ialah 'sajak jenaka.'

Rawamangun jalan berliku
Penuh onak makanan badak
Gelak tersenyum rupa kakekku
Melihat nenek duduk berbedak...

Ketika membaca sajak itu di masa kanak-kanak, maka tentu saja saya lebih tertarik dengan gagasan 'Rawamangun yang masih dihuni badak' ketimbang 'Nenek yang duduk berbedak.' Karena itu pulalah, ketika mula-mula datang di Jakarta, sengaja saya pergi ke Rawamangun untuk mencari semak-belukar yang menjadi santapan badak. Tentu saja saya tak menemukannya. Yang ada hanyalah lapangan golf, terminal, pasar dan sebuah kampus perguruan tinggi.

Oh ya, ada sebuah sajak lagi yang tak bisa saya lupakan, karena dahulu sajak itu selalu membuat air liur menetes. Sajak itu tentang himbauan agar anak-anak tidak mengudap di pinggir jalan. Muntu yang kopiahnya melintang dan kuku jarinyanya panjang-panjang itu senang mengudap dan pernah sakit perut. Begini bunyinya.

Terbit liurku melihat kolak
Dijual orang di tepi jalan
Untung teringat nasihat emak
Disitu aku dilarang makan....Terus kupergi menoleh tidak
Ubi kubeli serta cempedak
Kubawa pulang untuk emakku...Kolak sekarang dimasak emak
Kami menanti tidaklah lama
Hidangan murah makan bersama...

Kini hampir setiap sore, isteri saya menyiapkan kolak di rumah. Satu panci besar!

Saya tidak tahu, apakah isteri saya juga terkesan dengan sajak 'kolak' di buku "Bahasaku". Tapi yang jelas, kolak itu tak pernah disambut dengan gembira, karena anak-anak dan ayahnya sudah terbiasa 'mengudap' di mana-mana, sebelum pulang ke rumah.

Buku teks "Bahasaku" memang hebat. Kami tak pernah mempelajarinya. Kami hanya 'mengalir' begitu saja dan menikmatinya. Kami tak pernah menghapalnya. Ia hanya mengajak kami bermain-main. Tapi, saya rasa, memang demikianlah seharusnya sebuah buku teks yang baik.

Dan kalau sekarang saya bisa menulis sesuatu tentang Amir, Tuti, Hasan dan sepeda yang berbunyi "srr...tik-tik"; maka saya rasa hal itu juga tak lepas dari jasa buku teks "Bahasaku" karangan B.M. Nur dan W.J.S. Poerwadarminta, serta ilustrasi M. Kamil, yang dulu membuat saya tertawa-tawa riang.
***
*bersepupu silang dari garis ibu dan ayah dan menurut adat Batak sebaiknya keduanya menikah

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau)
Bekerja

tulisan edisi 97

sajak Kintamani
Laura Paais

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000