ceritanet, situs nir-laba untuk karya tulis             

sajak Penghuni Laut
Jajang R. Kawentar

Aku penghuni laut melahirkan ombak
Dirimu berayun-ayun di atas perahu
Dirimu berlayar mengarungi samuderaku
Tiada kepuasan menghentikanmu
Dirimu merayu-rayu pada gelombang
Dirimu memastikanku pada air:
Aku adalah air;
Air pada matamu
Air pada rawa-rawa hatimu
Air pada sukacitamu
Dirimu ada padaku

Aku penghunimu:
Air hujan keringatmu
Air yang mengaliri sungai nadimu

Tiada kekuasaanmu menghentikanku
Dirimu pada api mendidihku
Dirimu pada kebuntuan meluapkanku
Aku penghuni laut melupakan kenikmatanmu
Benteng Kuto Besak, Januari 2005



edisi 96 jumat 25 maret 2005,  po box 49 jkppj 10210

 

 

Palu Arit Darimu
Dalam dinding kotak yang mengukir taktik waktu
Kubelajar menghitung jeruji dengan jari-jarimu
hingga penjaga membangunkanku

Jarum jam menusuk jantung matahari
65 derajat jatuh di celah dinding retak

hari-hari menemuiku dengan jenuh
peristiwa itu hanya sekali dalam sesaat
darah tergores abadi dalam kepenatan
tanah tumpah darahku lenyap
ditelan penjilat yang dilembagakan
kurelakan palu dan arit menyelesaikannya
pesanmu untukku pada bulan sesabit
memandang ladang lading kering milikku.
Palembang, Februari 2005

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau)
Bekerja

tulisan edisi 96
sajak Koper Lama
Buruli

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000

Menunggu
Aku menantimu berhenti
Kuhisap rokok kretek
Kopi tubruk Pagaralam
tumpah di pisin tertinggal di meja
kuhapus dengan tissu merah jambu
Hitam jadinya
Travel masih menunggu
Dirimu rintik datang
Aku menunggu berangkat
Satu batang tersisa
Satu gelas air putih rata
Satu gelas blimbing
Kopi tubruk kental
Ampasnya berbekas
Kubawa pulang di tenggorokan
Lahat, Maret 2005