Tiap
kali kereta berhenti, Tonya duduk tegak dengan hati-hati agar kepalanya
tak terantuk plafon, lalu menengok ke bawah lewat rekah di pintu
untuk melihat apakah ada gunanya keluar. Hal ini tergantung dari
besarnya stasiun, dari berapa lamanya kira-kira berhenti dan sebagai
akibatnya kemungkinan jual beli yang menguntungkan.
Kesempatan
adalah begini, Kereta api membangunkannya dari kantuk dengan berjalan
lebih lambat. Jumlah tempat dan wesel di atasnya berdebuk-debuk
dan berderak-derak menandakan bahwa stasiun itu cukup besar.
Ia mengusap
mata, mematutkan rambut dan setelah mencari-cari di dasar sebuah
bungkusan, dicabutnya sehelai handuk yang dirajuti dengan jago,
kalung kuda, dan roda.
Yury,
yang juga bangun menolongnya turun dari bangku tidur. Gardu-gardu
sinyal dan tiang-tiang lampu hanyut lewat jendela, disusul oleh
pohon-pohon yang seolah menyambut tamu dengan mengulurkan serbet-serbet
ke arah kereta api. Lama sebelum kereta api berhenti, para pelaut
melompat ke atas salju yang belum terinjak kaki itu, lantas lari
ke balik pojok gedung stasiun, disitu biasanya ada istri-iastri
petani yang seara gelap menjual makanan.
Pakaian
seragam para kelasi dengan celana berbentuk bel serta pita yang
berkibar di peci pipih, memberi kesan seolah mereka bergerak cepat
dan gegabah hingga menyingkirlah orang seperti menghadapi kelajuan
para peserta perlombaan ski atau skat.
Di balik
pojok gedung ada para gadis dan perempuan dari dusun-dusun terdekat,
yang satu sembunyi di belakang yang lain, gelisah seperti menghadapi
penujum; mereka berdiri satu barisan di bawah lindungan tembok
stasiun, menjual mentimun, gandum yang dibungkus dalam serbet yang
diisi kapas, agar keju desa, berpiring-piring daging lembu rebusan
serta kue tetap panas lagi lezat., Terbebat dalam syal yang disisipkan
ke bawah baju kulit domba, perempuan-perempuan itu merah padam
sekali mendengarkan lelucon para pelaut, namun mereka takut karena
pelaut-pelaut inilah yang biasanya merupakan kesatuan-kesatuan
yang dibentuk guna memberantas spekulasi dan 'pasaran bebas' yang
terlarang.
Tapi
segera mereka luput dari kesukaran, ketika kereta api berhenti
dan para penumpang sipil menambah besarnya kelompok. Perdagangan
menjadi ramai.
Tonya
lewat di depan deretan perempuan tadi dengan handuk tersandang
ke bahu, seolah ia hanya pergi ke belakang stasiun untuk cuci muka
dengan salju. Beberapa perempuan sudah berseru: "He, berapa
harga serbet itu?" tapi ia terus berjalan, diiringi suaminya.
Diujung
deretan ada perempuan dengan syal hitam berpola merah. Dilihatnya
handuk rajutan itu, maka berseri-serilah matanya. Sambil melihat
kanan-kiri dengan hati-hati ia mengendap ke sisi Tonya dan dengan
membuka batrang-barangnya berbisiklah ia dengan gairahnya : "Tengok.
berani bertaruh, nyonya sudah lamat tak melihat ini. Suka? Jangan
pikir panjang-panjang, kalau mau dapat. Mau kasih serbet itu untuk
separoh...?"
Tonya
tak dengar kata yang terakhir.
"Apa
maksud kamu?"
Yang
dimaksudkan ialah separoh kelinci, dibakar dari kepal sampai ekor
dan dibelah dua. Kelinci itu diacungkannya; "Saya bilang saya
kasih separuh untuk serbet nyonya. Mengapa nanap saja? Ini bukan
daging anjing. Suami saya pemburu. Ini betul-betul kelinci."
Merekapun
bertukaran barang. Masing-masing berpikir telah beruntung. Tonya
merasa malu, seolah telah menipu petani perempuan itu, padahal
dia inipun senang sekali dengan penjualannya, lalu memanggil temannya
yang juga sudah menjual habis barang-barangnya dan pergilah merka
bersama-sama pulang ke desa, selama jalanan masih baik, melangkah
besar-besar lewat jalan kecil bersalju sampai jauh.
Saat
itu timbul hiruk pikuk antar orang banyak. Seorang perempuan tua
berteriak; "He! Mau kemana! Mana uangku? Kapan kau bayar aku
maling tak bermalu? Tengok, sebut dia babi serakah dan dia tak
mau juga menoleh. Berhenti! Berhenti! Tuan kamerad! Saya kecurian!
Berhenti, pencuri. Dia pergi, itu dia, tangkap!"
"Yang
mana?"
"Itu
yang tercukur bersih dan menyeringai."
"Yang
lengan bajunya bolong itu?"
"Ya,
ya, tangakp dia si Arab!"
"Yang
sikutnya tambalan itu?"
"Ya,
ya, ya Allah, saya kena rampas."
"Ada
apa?"
"Orang
itu tadi beli susu dan kue-kue, ia isi perutnya lantas pergi tanpa
bayar, jadi menangislah si nenek ini."
Itu
tak boleh jadi. Mengapa orang tak mengejarnya?"
"Mengejar?
Dia punya tali celana dan ban peluru. Dialah yang akan mengejar
kita,."
***bersambung