ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis                      
edisi 94 sabtu 5 maret 2005,  po box 49 jkppj 10210a

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 94

esei BBM, Perlu Naik atau Tidak?
Yopie Hidayat

sajak Jakarta 2003
Pedje

ceritanet
©listonpsiregar2000

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Orang sudah tiga hari dalam perjalanan, tapi belum bergerak dari Moskow. Hawa masih saja dingin. Di luar jendela rel, padang, hutan dan atap rumah dusun, semua ditimbuni salju tebal.

Keluarga Zhivago beruntung benar dengan mendapat untuk mereka sendiri satu pojok dalam deretan bangku tidur paling atas, tepat di belakang jendela panjang yang buram di bawah langit-langit; disitulah mereka mengatur tempat untuk berkelompok sekeluarga.

Tonya tak pernah sebelumnya bepergian dalam gerbong barang. Gerbong itu berdiri tinggi di atas tanah dengan pintu-pintu geseran yang berat. Pertama kali masuk, Yury harus mengangkat kawan-kawannya yang perempuan, tapi kemudian mereka telah belajar naik dan turun sendiri.

Bagi Tonya deresi itu tak lebih baik dari kandang beroda yang dia sangka akan ambruk oleh goncangan pertama. Namun selama tiga hari mereka tergoncang dari belakang ke depan dan dari samping ke samping, bila kereta api merobah kecepatan atas arahnya, selama tiga hari roda-roda berderak-derak dengan cepat di bawah mereka seperti tongkat yang memukul genderang mainan yang mekanis, namun mereka masih selamat. Kekuatirannya ternyata tidak beralasan.

Dalam kereta api itu ada dua puluh tiga kereta (keluarga Zhivago duduk dalam kereta empat belas). Bila berhenti di stasiun dusun, hanya bagian depan atau tengah atau ekornya yang berdiri di sisi peron yang pendek itu.

Para pelaut duduk di depan, penumpang biasa di tengah, orang kerja paksa duduk dalam delapan kereta di belakang. Mereka ada kira-kira lima ratus orang, manusia dari segala umur, dengan keadaan dan pekerjaan masing-masing.

Mereka merupakan pemandangan yang luar biasa --para pengacara kaya lagi gagah serta makelar dari Petersburg berdampingan dengan kusir, penyapu lantai, pelayan rumah pemandian, tukang loak bangsa Tartar, orang gila yang melarikan diri, pemilik toko dan rahib, campur baur dengan kelas-kelas yang mengisap di sekeliling tungku-tungku besi yang merah menyala, sambil menberitakan kisah-kisah tanpa hentinya, berkelakar dan ketawa. Mereka orang-orang yang punya koneksi banyak. Mereka tak merasa gelisah; mereka berhubungan dengan orang-orang berpengaruh yang mendalangi segala hal di tempat kediaman mereka dan jika kejepit, mereka kelak dapat membayar untuk meluputkan diri.

Lain-lain yang memakai sepatu bot dan jubah dengan kaki telanjang dan pakai kemeja di luar celana, berjenggot atau tidak, berdiri dekat pintu setengah terbuka dari gerbong yang kekurangan hawa itu dengan berpegangan pada daun pintu atau papan-papan yang terpaku sebagai penutup lobang pintu; dengan muka masam mereka melihat kaum petani serta dusun-dusun di pinggir jalan dan tak bicara dengan siapa-siapa,. Mereka tak punya teman-teman berpengaruh. Mereka tak berpengharapan.

Orang-orang kerja paksa terlalu banyak untuk gerbong-gerbong yang disediakan bagi mereka, maka selebihnya di tempatkan antara penumpang-penumang bebas, antara lain di kereta nomor empat belas.
***
bersambung