ceritanet
          situs nir-laba untuk karya tulis                                                        edisi 93 selasa 22 februari 2005,  po box 49 jkppj 10210a

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 93

cerpen Batu, Lelaki Tamak Dari Palembang
T. Wijaya

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

 

cerpen Tentang Tragedi
Harry Mulyawan

Babak Terakhir
Aku duduk di depan tungku api yang membakar semua kenangan, panas api menjalar merayap di sekujur kulit. Kubakar semua mimpi dan harapanku tentang sebuah episode, api menjilatinya bagai seorang gembel kelaparan menyantap sepotong roti.

Ingin kutanyakan pada api, lanjutan dari episode akhir ini. Semua habis terbakar, menyisakan bara kemerahan. Menyisakan pertanyaan yang belum terjawab, semenjak terbetik dalam benak. Kubur-kubur! Katamu suatu kali. Semua yang fana kembali ke kubur.

Asap-asap terbang membawa semua bagian cerita hilang dalam kelam, baunya mirip daging. Kubuka jendela-jendela, kubiarkan angin membuyarkan semua asap, pergi-pergi! Sahutku perlahan pada asap-asap putih yang melenggok bagai ballerina.

Malam terakhir ini, aku ingin tidur barang sejenak.
***

Kau sosorkan kepadaku episode terakhir terbaru yang harus kumainkan di atas panggung pada pertunjukkan terakhir malam ini. Kubaca halaman pertama.

“Ini bukan akhir yang bagus!” Aku berteriak nyalang.

Kau menggeleng, tanpa berucap. Matamu berkata bahwa ini skenario terbaik yang kutulis untukmu, jangan sesali dikemudian hari.

Aku tetap menolaknya.

“Wahai Sutradara besar, kenapa cerita akhir ini berbeda dengan awal yang kausodorkan padaku pertama kali? Sadarkah kau jika aku memainkan peranmu pada cerita awal dengan baik?”

“Applaus panjang penonton, standing ovation yang mereka berikan, tidakkah kau lihat semua itu?”

Kedua tanganku terangkat ke udara.

“ Kenapa kau ubah?”

Aku menatap tajam padanya.

“Aku menyukai cerita awal itu, begitu hidup. Aku aktor terbesarmu yang mampu memainkan cerita itu dengan jiwaku, biarkan aku menyelesaikan babak akhir cerita awalmu.”

Kau diam tak bergeming, lalu mendorongku keluar.

Aku tidak mampu berkata lagi.

Aku di depan panggung.

Lampu menyinari tubuhku. Applaus panjang menggema menyesaki ruang pertunjukkan yang gelap. Aku ragu, aku tidak ingin memainkan babak akhir ini dengan cerita baru itu.
Musik mengalun lembut, kubiarkan jiwa hanyut dalam irama.

Aku berlari.

Aku meloncat.

Aku tertatih.

Aku terjatuh.

Terkapar.

Lunglai.

Aku terdiam.

Menangis.

Applaus panjang kembali memenuhi ruangan pertunjukkan seperti pada malam sebelumnya. Bravo! Bravo!, hanya teriakan itu yang terdengar menggema ke seluruh ruangan menggetarkan tiang-tiang ruangan.

Kututup pertunjukkan malam ini, sebuah babak akhir dari lakon panjang sebuah tragedi cinta sebuah kehidupan.
***

Waktu Pasir
Jam berdetak di dinding. Jarum jamnya berjalan mundur.

Kulihat jam di dinding, jarumnya bergerak perlahan. Tapi Jam itu bergerak mundur.

Aku tak percaya.

Semua jam milikku bergerak mundur, jarumnya bergerak ke kiri bukan ke kanan.

Jam-jam yang rusak.

Aku masih bingung dengan keanehan pada semua jam milikku. Aku keluar, bertanya pada seseorang yang lewat.

“Lima seperempat,” sahutnya.

Jam tangannya bergerak normal. Saat tanganku menyentuh jam tangannya, tiba-tiba jarum jam itu bergerak mundur, ya, bergerak mundur.

Aku tak percaya dengan apa yang kulihat.

“Hei kau merusak jamku,” teriaknya.

Aku berlari meninggalkannya.

Kkenapa jam-jam itu jadi bergerak mundur, apa aku bisa menyebabkan sebuah fenomena yang aneh? Apakah diriku memiliki sebuah kekuatan luarbiasa?

Aku berhenti pada sebuah toko jam, aku masuk. Lagi-lagi keanehan itu timbul. Semua jam yang ada di dalam toko semua bergerak mundur! Tidak mungkin....

Dentang lonceng jam, suara jarum jam berdetak terdengar keras, riuh. Aku keluar, berlari terus berlari.

Tak mungkin, ini cuma mimpi. Aku terus berlari, berteriak.

Aku terus berlari. Kutinggalkan kota ini.

Aku terus berlari melintasi lorong-lorong, sungai, bukit kapur terjal, melintas gurun, hutan.

Aku terus berlari hingga kakiku tak mampu lagi berlari.

Tiba-tiba ponselku berbunyi.

Maia.

“Ya, hallo...ya benar Maia semuanya berjalan mundur. Tidak Maia....”

“Please Maia, I love you....”

Ponsel kuputus.

Jantungku bergedup kencang.

Timer ponselku bergerak mundur...ya Tuhan, waktuku berjalan mundur....

Tidak! Tidak mungkin.

Kuhantam ponselku dengan batu. Kuhantam hingga berkeping-keping.
*
Waktu terus berlalu.

Jam-jam pasir.

Ya, waktuku kini waktu pasir bukan mesin. Waktuku berupa pasir yang hilang lenyap di telan angin. Waktuku berupa pasir yang bergerak sunyi.

Waktuku bukan lagi lonceng serupa denganmu. Yang berdentang menggema memenuhi jagad seperti waktumu Maia dan waktu yang mereka miliki.

Waktuku adalah jam berpasir, berhitung berjalan mundur. Waktumu terus bergerak maju seperti juga mereka.

Waktuku begitu sempit Maia, waktumu begitu lempang.

Aku hanya menunggu waktu hingga detik terakhir penghabisanku.

Engkau terus berjalan melewati waktumu yang terus berputar.

Waktuku, waktumu Maia.

Waktu kita berbeda.
***

Bizzare Love Triangle *
Maria Alonzo, perempuan muda penuh gairah yang mendambakan seorang kekasih. Pedro Aragones, seorang penyair tengik, pecinta dan penggila revolusi. Salvador Vicente, seorang prajurit rendahan yang taat pada aturan militer.

Mereka semua terlibat dalam sebuah cinta segitiga.

Maria Alonzo begitu mendambakan cinta Pedro Aragones, penyair tengik yang selalu mabuk tequila, tapi Pedro mencintai kebebasan, perjuangan, revolusi, penderitaan dan tentu saja tequila.

Pedro tidak peduli dengan hasrat menggebu Maria akan cintanya. Ia sibuk dengan semua perjuangannya dan impiannya tentang kebebasan, revolusi. Vicente walaupun seorang prajurit rendahan, ia adalah seorang laki-laki bermartabat yang punya nyali, berani mendekati Maria.

Maria menanggapi Vicente Salvador dengan dingin. Di hatinya hanya Pedro Aragones yang mampu menghangatkan malam yang dingin di atas ranjang berselimut satin.

Hanya Pedro yang mampu menggetarkan seluruh simpul dan aliran darah dan mengantarkan dirinya terbang ke atas melintas padang rumput dan menghentakkan dirinya rebah di atas jerami-jerami kering musim panas.

Vicente meradang.

Maria berpaling muka.

Dengan setia Maria terus menunggu kedatangan Pedro Aragones.

Ia duduk dan menunggu di depan jendela kamarnya.

Waktu berlalu.

Vicente pantang menyerah. Ia memandang Maria, putri pujaan hatinya. Maria duduk terdiam penuh harap akan kedatangan dambaan hatinya.

Vicente kembali mendekat.

“Wahai Maria Alonzo putri Alejandro yang terhormat. Apa yang kau lakukan itu adalah sia-sia, Pedro Aragones yang selalu kau tunggu tidak akan pernah melintas melewati gerbang kota ini. Aku Salvador Vicente berada di depanmu.”

Sejenak Maria tersentak dari lamunannya. Apakah benar Pedro Aragones pujaan hatinya tidak akan pernah datang menjemputnya dan membawanya pergi dengan gaun pengantin berkilapan.

Maria memandang ke bawah.

“Salvador Vicente, Apa yang kau berikan kepadaku?”

“Maria Aragones, Atas nama leluhurku aku Salvador Vicente akan selalu di sisimu hingga napas terakhirku.”

Maria memandang jauh.

Akhirnya Maria Alonzo menerima pinangan Salvador Vicente. Mereka mengikat janji sehidup semati di sebuah kapel suci. Selesai upacara suci itu Vicente membawa Maria ke tanah ladangnya yang subur. Mereka hidup tenang dipinggiran kota.
***

Pagi itu Maria dikejutkan dengan kedatangan seorang laki-laki. Pedro Aragones!

Maria Alonzo terkejut. Bagaimana laki-laki itu bisa hadir di depannya.

“Maria Alonzo, aku Pedro Aragones dapat hidup oleh hasrat yang ada dan kau hembuskan dalam tubuhmu . Dulu aku hanya hidup dalam benakmu. Kini aku telah berwujud.”

Maria masih tak percaya.

“Wahai Maria, kekasihku ijinkan aku membawamu pergi.”

Maria menggeleng.

“Tidak mungkin...!”

Pedro Aragones menarik kasar tangan Maria Alonzo. Maria Alonzo berontak.

“Vicente...!”

Pedro Aragones, hatinya terluka. Tangannya menampar Maria Alonzo keras.

Maria Alonzo jatuh pingsan.

Salvador Vicente terkejut dengan teriakan isterinya, ia berlari meninggalkan ladang. Menerjang pintu rumahnya dan mendapati isterinya terkulai pingsan....
***
*. Judul lagu yang dinyanyikan grup musik Frente