ceritanet
                  situs nir-laba untuk karya tulis                                                edisi 93 selasa 22 februari 2005,  po box 49 jkppj 10210a

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 93

cerpen Tentang Tragedi
Harry Mulyawan

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000

cerpen Batu. Lelaki Tamak dari Palembang
T. Wijaya

Selama hampir 20 tahun, Batu mengurung dirinya di dalam kamar. Dia menikmati panasnya, dinginnya, lembabnya, dan kebenciannya pada kegagalan. Kegagalan seorang laki-laki, menghadirkan perempuan yang pergi tanpa pernah memberitahu apakah rahimnya sudah dibuahi atau belum.

Batu mungkin lelaki yang tamak, dia sudah punya seorang istri dan telah memberinya tiga anak. Tetapi, di kamar yang berukuran 5 kali 4 meter—anak dan istrinya tidak diperbolehkan masuk—Batu menunggu perempuan itu.

Ya, selama 20 tahun, sepulang kerja, Batu mengurung diri di dalam kamar itu. Minimal satu-dua jam dia menunggu si perempuan itu di dalam kamarnya.

Apa yang dilakukan seorang lelaki tamak seperti Batu di dalam kamarnya itu?

Istrinya tidak tahu dan tidak mau tahu. Pernah istrinya mencoba bertanya, dan ancaman perceraian yang diterimanya. Kapoklah sang istri, yang memang sangat bersyukur dinikahi Batu; seorang gadis dusun dari keluarga miskin dan secara kebetulan berkenalan dengan Batu di sebuah rumah makan. Saat itu, Batu lagi stress, dan dia melampiaskan kemarahannya pada perempuan itu dengan menikahi gadis dusun itu.

Namun, di mata si gadis dusun, Batu tidaklah stress, dia merasa Tuhan telah memberikan rezeki yang sangat besar buat dirinya dan keluarganya, berwujud manusia bernama Batu.

Batu seorang pimpinan perusahaan sebuah koran, yang memiliki gaji lumayan besar bila dibandingkan dengan gaji seorang wartawan di tempatnya kerja.
***

Tiga ratus tahun lalu, kakek Batu seorang pelaut dari Funan, juga merasakan hal yang sama. Di atas kapal kayunya, kakek Batu yang bernama Yi Bo, seringkali melamunkan seorang perempuan yang digambarkannya sebagai putri dari surga.Tak heran, setiap kali dia mampir ke sebuah kota —tentunya setelah sukses merompak kapal dagang dari Tiongkok atau Jawa— dia mencari perempuan itu.

Tidak segan-segan, Yi Bo itu mendobrak pintu rumah penduduk dan menusuk lelaki yang menghalanginya bila didengarnya di rumah itu ada perempuan cantik. Tetapi, meskipun sudah membunuh puluhan lelaki, Yi Bo tidak pernah menemukan perempuan itu.

Bahkan, di masa tuanya, meskipun telah menikahi gadis dari Jawa dan menetap di Sungai Aur, Palembang, Yi Bo tetap mencari perempuan itu; dia terus mencari informasi atau menyewa seseorang untuk menemukan si perempuan, meskipun akhirnya saat dibawa menghadapnya, Yi Bo kecewa sebab bukan perempuan yang dicarinya.

Yi Bo lelaki tamak, tentu saja. Dia tidak sendiri. Seperti rumah-rumah panggung yang berdiri di sepanjang Sungai Musi. Yang seperti Yi Bo bukan hanya dari Funan, juga dari Arab, Jawa dan India.
***

Kegagalan Yi Bo menemukan perempuan itu, menurut Batu, lebih disebabkan belum berkembangnya ilmu pengetahuan seperti saat ini. Coba kalau ada handphone, pesawat terbang, televisi, internet, perempuan yang dicari Yi Bo pasti akan ditemukan.

Lalu, mengapa Batu juga gagal menemukan perempuan itu, meskipun ilmu pengetahuan sudah berkembang seperti saat ini.

“Perempuan yang diburu kakekku jelas beda dengan yang kuburu. Tapi, aku juga heran mengapa aku belum menemukan perempuan itu.” Tulis Batu melalui email kepada kawannya yang mengaku menetap di Australia.

Di dalam kamarnya, melalui seperangkat komputer, Batu memburu perempuan itu. Melalui internet dan puluhan film porno, Batu mengindentifikasi jutaan perempuan. Petunjuk pencarian Batu hanya bermodalkan sebuah foto; dirinya dan perempuan itu tengah berpelukan.

Saat keluar kamar, Batu menjadi pucat. Dia sangat dingin ketika menjamah istrinya yang mengaku menjadi perempuan paling beruntung di dunia. Istri Batu itu ibarat seorang pedagang jamu yang mendapat pinjaman modal dari Bank Dunia; tidak sadar jika dia harus membayar utangnya hingga anak dan cucunya.
***

Perempuan itu yang pertama kali mengajarkan Batu bagaimana menjaga sperma agar tidak menyiksa perempuan. Pelajaran itulah yang membuatnya harus kehilangan perempuan itu selamanya.

“Kau lelaki ceroboh,” kata perempuan itu, saat Batu masih berumur 19 tahun.

“Aku ingin punya anak,” jawab Batu yang tidak pernah tahu hari ulangtahunnya.

“Siapa yang mengandung? Siapa yang sakit? Siapa yang kehilangan kesempatan menjelajahi dunia seperti yang kau impikan itu? Aku kan, aku yang hanya diselesaikan oleh kecerobohanmu itu,” kata si perempuan yang tidak pernah mengaku berapa umurnya.

Batu diam seperti perabot di rumah kontrakan perempuan itu. Wajahnya mencoklat seperti patung Napoleon Bonaparte.

Selanjutnya Batu membiarkan perempuan itu pergi. Melepaskan kapal-kapal layar yang telah mereka lukis di atas ranjang…
***

Batu, lelaki tamak dari Palembang. Seperti kakeknya, dia beristri dan mempunyai anak lalu berharap menemukan perempuan yang dicintainya; pergi mengelilingi dunia dan menjadi muda selamanya.

Kesombongannya dengan menguasai ilmu pengtahuan, sama sekali tidak memuaskan ketamakannya. Banyak sudah perempuan yang dikira perempuan yang diburunya menanggung kecorobohan dirinya. Hanya, mungkin Tuhan tak mampu merubah perjanjian roh Batu; dia dibebaskan dari penyakit AIDS dan berulangkali berhaji.

Ketamakan Batu hanya dapat disejajarkan dengan seekor ayam, yang terus mengais tanah dan sampah mencari makan; makan dan mising. Seperti di kantornya, satu per satu pegawai baru —yang perempuan— dicobanya, seperti seorang pemakan mencicipi hidangan dalam sebuah pesta perkawinan.

Pegawai-pegawai itu tidak menangis. Rahim mereka adalah penjelajahan untuk menemukan kekuasaan dari sebuah perbudakan industri. Berkuasa atas buruh-buruh ibarat berdiri di atas kapal; berteriak dan membuat jutaan burung lari ketakutan.

“Kalian adalah perempuan yang tidak mempersoalkan apakah bau ketiak seorang lelaki adalah masalah atau bukan. Itu bagus. Tetapi, maaf, perempuan itu ternyata bukan dirimu. Perempuan itu sangat mempersoalkan bau ketiak seorang lelaki. Aku adalah lelaki yang aroma ketiaknya tak sedap. Apek! Tengik! Mengapa kalian tersenyum saat menjilati ketiakku. Memuakkan!”

Di dalam pencariannya, perempuan itu ibarat vodka dan blues di kafe; selalu muda dan meliuk-meliuk mengikuti betotan bass.
***

Kamar itu terus ngelotok tubuh Batu selama 40 tahun. Dengan ilmu pengetahuannya, dia tak mampu bertahan muda. Tanpa sinar matahari kamar itu ibarat mencatat menit-menit kematian. Sampai pada akhirnya yang biasa saja—di pikiran Batu—istrinya meninggal dunia dan anaknya pergi lantaran berkeluarga. Kamar itu dibakarnya.

Melalui pesawat terbang dan tabungan uangnya dari 40 tahun bekerja sebagai pimpinan perusahaan koran, Batu pergi ke sebuah desa di Selandia Baru. Dia menghadiri penguburan perempuan itu.

Batu tidak sendiri. Yi Bo dan suami perempuan itu menangis pada saat pemakaman. Ketika orang-orang meninggalkan pemakaman itu, Yi Bo dan Batu berebut menggali kuburan si perempuan itu; mereka mencari tempat agar dapat dikuburkan bersama si perempuan.

Dengan tenaga tuanya, suami perempuan itu menimbun Yi Bo dan Batu yang menyempil di antara jasad perempuan itu.
***
Palembang, Desember 2004