cerpen Batu.
Lelaki Tamak dari Palembang
T.
Wijaya
Selama hampir 20 tahun, Batu mengurung
dirinya di dalam kamar. Dia menikmati panasnya, dinginnya, lembabnya,
dan kebenciannya pada kegagalan. Kegagalan seorang laki-laki, menghadirkan
perempuan yang pergi tanpa pernah memberitahu apakah rahimnya sudah
dibuahi atau belum.
Batu mungkin lelaki yang tamak, dia
sudah punya seorang istri dan telah memberinya tiga anak. Tetapi,
di kamar yang berukuran 5 kali 4 meter—anak dan istrinya tidak
diperbolehkan masuk—Batu menunggu perempuan itu.
Ya, selama 20 tahun, sepulang kerja,
Batu mengurung diri di dalam kamar itu. Minimal satu-dua jam dia
menunggu si perempuan itu di dalam kamarnya.
Apa yang dilakukan seorang lelaki tamak
seperti Batu di dalam kamarnya itu?
Istrinya tidak tahu dan tidak mau tahu.
Pernah istrinya mencoba bertanya, dan ancaman perceraian yang diterimanya.
Kapoklah sang istri, yang memang sangat bersyukur dinikahi Batu;
seorang gadis dusun dari keluarga miskin dan secara kebetulan berkenalan
dengan Batu di sebuah rumah makan. Saat itu, Batu lagi stress, dan
dia melampiaskan kemarahannya pada perempuan itu dengan menikahi
gadis dusun itu.
Namun, di mata si gadis dusun, Batu
tidaklah stress, dia merasa Tuhan telah memberikan rezeki yang sangat
besar buat dirinya dan keluarganya, berwujud manusia bernama Batu.
Batu seorang pimpinan perusahaan sebuah
koran, yang memiliki gaji lumayan besar bila dibandingkan dengan
gaji seorang wartawan di tempatnya kerja.
***
Tiga ratus tahun lalu, kakek Batu seorang
pelaut dari Funan, juga merasakan hal yang sama. Di atas kapal kayunya,
kakek Batu yang bernama Yi Bo, seringkali melamunkan seorang perempuan
yang digambarkannya sebagai putri dari surga.Tak heran, setiap kali
dia mampir ke sebuah kota —tentunya setelah sukses merompak
kapal dagang dari Tiongkok atau Jawa— dia mencari perempuan
itu.
Tidak segan-segan, Yi Bo itu mendobrak
pintu rumah penduduk dan menusuk lelaki yang menghalanginya bila
didengarnya di rumah itu ada perempuan cantik. Tetapi, meskipun sudah
membunuh puluhan lelaki, Yi Bo tidak pernah menemukan perempuan itu.
Bahkan, di masa tuanya, meskipun telah
menikahi gadis dari Jawa dan menetap di Sungai Aur, Palembang, Yi
Bo tetap mencari perempuan itu; dia terus mencari informasi atau
menyewa seseorang untuk menemukan si perempuan, meskipun akhirnya
saat dibawa menghadapnya, Yi Bo kecewa sebab bukan perempuan yang
dicarinya.
Yi Bo lelaki tamak, tentu saja. Dia
tidak sendiri. Seperti rumah-rumah panggung yang berdiri di sepanjang
Sungai Musi. Yang seperti Yi Bo bukan hanya dari Funan, juga dari
Arab, Jawa dan India.
***
Kegagalan Yi Bo menemukan perempuan
itu, menurut Batu, lebih disebabkan belum berkembangnya ilmu pengetahuan
seperti saat ini. Coba kalau ada handphone, pesawat terbang, televisi,
internet, perempuan yang dicari Yi Bo pasti akan ditemukan.
Lalu, mengapa Batu juga gagal menemukan
perempuan itu, meskipun ilmu pengetahuan sudah berkembang seperti
saat ini.
“Perempuan yang diburu kakekku
jelas beda dengan yang kuburu. Tapi, aku juga heran mengapa aku belum
menemukan perempuan itu.” Tulis Batu melalui email kepada kawannya
yang mengaku menetap di Australia.
Di dalam kamarnya, melalui seperangkat
komputer, Batu memburu perempuan itu. Melalui internet dan puluhan
film porno, Batu mengindentifikasi jutaan perempuan. Petunjuk pencarian
Batu hanya bermodalkan sebuah foto; dirinya dan perempuan itu tengah
berpelukan.
Saat keluar kamar, Batu menjadi pucat.
Dia sangat dingin ketika menjamah istrinya yang mengaku menjadi perempuan
paling beruntung di dunia. Istri Batu itu ibarat seorang pedagang
jamu yang mendapat pinjaman modal dari Bank Dunia; tidak sadar jika
dia harus membayar utangnya hingga anak dan cucunya.
***
Perempuan itu yang pertama kali mengajarkan
Batu bagaimana menjaga sperma agar tidak menyiksa perempuan. Pelajaran
itulah yang membuatnya harus kehilangan perempuan itu selamanya.
“Kau lelaki ceroboh,” kata
perempuan itu, saat Batu masih berumur 19 tahun.
“Aku ingin punya anak,” jawab
Batu yang tidak pernah tahu hari ulangtahunnya.
“Siapa yang mengandung? Siapa
yang sakit? Siapa yang kehilangan kesempatan menjelajahi dunia seperti
yang kau impikan itu? Aku kan, aku yang hanya diselesaikan oleh kecerobohanmu
itu,” kata si perempuan yang tidak pernah mengaku berapa umurnya.
Batu diam seperti perabot di rumah kontrakan
perempuan itu. Wajahnya mencoklat seperti patung Napoleon Bonaparte.
Selanjutnya Batu membiarkan perempuan
itu pergi. Melepaskan kapal-kapal layar yang telah mereka lukis di
atas ranjang…
***
Batu, lelaki tamak dari Palembang. Seperti
kakeknya, dia beristri dan mempunyai anak lalu berharap menemukan
perempuan yang dicintainya; pergi mengelilingi dunia dan menjadi
muda selamanya.
Kesombongannya dengan menguasai ilmu
pengtahuan, sama sekali tidak memuaskan ketamakannya. Banyak sudah
perempuan yang dikira perempuan yang diburunya menanggung kecorobohan
dirinya. Hanya, mungkin Tuhan tak mampu merubah perjanjian roh Batu;
dia dibebaskan dari penyakit AIDS dan berulangkali berhaji.
Ketamakan Batu hanya dapat disejajarkan
dengan seekor ayam, yang terus mengais tanah dan sampah mencari makan;
makan dan mising. Seperti di kantornya, satu per satu pegawai baru —yang
perempuan— dicobanya, seperti seorang pemakan mencicipi hidangan
dalam sebuah pesta perkawinan.
Pegawai-pegawai itu tidak menangis.
Rahim mereka adalah penjelajahan untuk menemukan kekuasaan dari sebuah
perbudakan industri. Berkuasa atas buruh-buruh ibarat berdiri di
atas kapal; berteriak dan membuat jutaan burung lari ketakutan.
“Kalian adalah perempuan yang
tidak mempersoalkan apakah bau ketiak seorang lelaki adalah masalah
atau bukan. Itu bagus. Tetapi, maaf, perempuan itu ternyata bukan
dirimu. Perempuan itu sangat mempersoalkan bau ketiak seorang lelaki.
Aku adalah lelaki yang aroma ketiaknya tak sedap. Apek! Tengik! Mengapa
kalian tersenyum saat menjilati ketiakku. Memuakkan!”
Di dalam pencariannya, perempuan itu
ibarat vodka dan blues di kafe; selalu muda dan meliuk-meliuk mengikuti
betotan bass.
***
Kamar itu terus ngelotok tubuh Batu
selama 40 tahun. Dengan ilmu pengetahuannya, dia tak mampu bertahan
muda. Tanpa sinar matahari kamar itu ibarat mencatat menit-menit
kematian. Sampai pada akhirnya yang biasa saja—di pikiran Batu—istrinya
meninggal dunia dan anaknya pergi lantaran berkeluarga. Kamar itu
dibakarnya.
Melalui pesawat terbang dan tabungan
uangnya dari 40 tahun bekerja sebagai pimpinan perusahaan koran,
Batu pergi ke sebuah desa di Selandia Baru. Dia menghadiri penguburan
perempuan itu.
Batu tidak sendiri. Yi Bo dan suami
perempuan itu menangis pada saat pemakaman. Ketika orang-orang meninggalkan
pemakaman itu, Yi Bo dan Batu berebut menggali kuburan si perempuan
itu; mereka mencari tempat agar dapat dikuburkan bersama si perempuan.
Dengan tenaga tuanya, suami perempuan
itu menimbun Yi Bo dan Batu yang menyempil di antara jasad perempuan
itu.
***
Palembang, Desember 2004