ceritanet
          situs nir-laba untuk karya tulis                                                             edisi 92 senin 7 februari 2005,  po box 49 jkppj 10210a

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 92

memoar Pantai Barat dari Rainbow Warrior
Nabiha Shahab

sajak Duh Gusti
Hayat

sajak Jihad
Gendhotwukir

ceritanet
©listonpsiregar2000

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Mereka tinggalkan rumah waktu fajar. Para penghuni lainnya mestinya masih tidur, tapi seorang dari mereka, Zerovotina, sangat gemar mengatur peristiwa sosial, maka dibangunkannya seisi rumah: "Perhatian! Perhatian! Kawan-kawan; Lekas! Pamitlah dengan bekas kaum Gromeko.

Orang membanjiri serambi belakang (pintu depan sekarang terus dipalang) dan berdiri dalam separuh lingkaran, seakan hendak dipotret.

Mereka menguap dan menggigil, menarik-narik jas tua yang tersampir ke atas bahu, mengentak-entak dengan sepatu vilt besar yang terpasang buru-buru ke kaki telanjang mereka.

Markel telah berhasil memabukkan diri dengan sesuatu minuman busuk ; ia berhasil mendapatkannya bahkan dalam masa 'kering' ini, maka tak ubahnya dengan mayat ia terkulai atas kisi-kisi lapuk di serambi yang hendak roboh di bawah bebannya. Ia ingin membawa bagasi ke stasiun dan merarsa sangat dihina ketika tawarannya ditolak; akhirnya ia menjauhkan orang dan keluar dari jalanan cabang.

Hari masih gelap. Angin telah reda dan salju turun lebih tebal dari pada malam yang lalu. Butir-butir salju besar yang seperti wol melayang tenang ke bawah, mengambang atas tanah, bimbang akan menetap di bumi.

Di Jalan Arbat hawa lebih terang. Di situ salju luruh laksana kelir pentas selebar lebuh, turun pelan-pelan dan melilirkan lawi-lawinya ke kaki orang lewat, hingga orang sama sekali tak merasa bergerak maju, seolah hanya memukul irama.

Tak ada orang lain kecuali yang sedang bepergian itu, tapi segera mereka terkejar oleh sebuah kereta dengan kuda seputih salju dan sais yang nampak seperti digulingkan dengan dalam tepung dengan pembayaran yang luar biasa (kurang dari seharga satu kopek waktu itu) dibawanya merka ke stasiun beserta bagasi. Hanya Yury yang jalan kaki atas permintaanya sendiri.
***