ceritanet
          situs nir-laba untuk karya tulis                                                             edisi 92 senin 7 februari 2005,  po box 49 jkppj 10210a


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 92

memoar Pantai Barat dari Rainbow Warrior
Nabiha Shahab

sajak Duh Gusti
Hayat

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

ceritanet
©listonpsiregar2000


sajak Jihad
Gendhotwukir

Telah kau ludahi tanah,
tempat istrimu berzinah.
Dan setelah itu berbenah,
pendam amarah tuju ziarah.

Setelah dendam berlabuh di pusaka hormat,
berjihat tanpa alamat.
redam-meredam ibarat hasrat,
bercahaya gegap di awan pekat.

Bapa bangsa sekarat,
Bunda pertiwi melarat,
Anak negeri laknat,
Dunia bejat,
karena semua berjihat di dunia yang sudah penat

Wittlich, 290904

La Bella Pastorella
** Liedvariation für zwei Violinen und Basso Continuo

Menarilah di kubangan dingin,
dalam deru pekat yang gentayangan.
Gempita berkejaran meneduh di dua Biola,
disambut sukma Cello tak mendua.

Kejar-kejarlah Biola,
sedikit lagi khan di perhentian.
Penantian akan segra tersingkap,
tatkala Bintang Timur menggerlap.

La Bella Pastorella tercipta,
di genggaman waktu purba 1623-1680.

Mendekap adven, terulang di mata terpuja.

Johann Heinrich Schmelzer,
memantul di harmoni dua Biola,
menyatu sukma Cello.

Konser Musica Antiqua Cologne, 011204


Aku Ingin Tidur di Biru Matamu
** Kepada Muriel

Setelah perjalanan melelahkan ini,
aku ingin tidur di biru matamu.
Berkerudung langit biru matamu,
diayun gelombang langit birumu,
memecah asa di tumpahan karang menderu.
Terayun-timang ditimang terhampar di negri biru,
sejuk-senyap biru matamu menghembus sepoi.

Biru matamu yang berkaca-kaca kilap,
lincah menggoda tuk segera terdekap.

Kepada langit birumu kukata,
runtuhkan hujan hiburmu,
membasahi tanah kerinduan yang keronta merindu.

Kepada laut birumu kurayu,
tumpahkan ceria-riak-gerak mendayu,
tuk hantar bayu senja tak disendu.

Di jiwa menjerit sepi,
birumu membelai-mendepak duka di kerona senja,
meski cahya padam seketika-tergenang di nyanyi senyap.

Di birumu ada kedamaian,
tidak kesenderian, tetapi bersamamu keabadian.

Di birumu ada keheningan,
tidak kegaduhan, tetapi nyiur buka wahana.

Di situlah terlelap pening dan penat,
setelah bermil-mil melintasi padang kesendirian.

Di situlah ayun lagu sepi berlabuh diayu terjamu.

Selamanya aku ingin tidur di biru matamu.
***
Hochschule, 061204