ceritanet
          situs nir-laba untuk karya tulis                                                            
 edisi 92 senin 7 februari 2005,  po box 49 jkppj 10210a


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 92

memoar Pantai Barat dari Rainbow Warrior
Nabiha Shahab

sajak Jihad
Gendhotwukir

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

ceritanet
©listonpsiregar2000


sajak Duh Gusti
Hayat

rasanya belum lama, selaksa pilu kau gerojokkan
gempa di alor, di nabire
banjir bandang yang meluluhlantakan bohorok,
banjir bandang yang melahap sawah-sawah penduduk di watu kelir, di cawas, di langkat
tanah longsor di mandalawangi, di ende
langganan kebakaran hutan di kalimantan
kecelakaan pesawat bertubi-tubi
kematian misterius orang-orang pemberani

dan kini…
tsunami menggilas habis seluruh isi perkampungan kami
bayi-bayi kami, orang tua ,handai taulan dan sahabat kami
sisa gelombangnya menghantam bathin kami
mengiris hati , mengucurkan hujan airmata yang sangat deras
mengapa laut yang biasa menghidupi kami berubah menjadi si pembunuh ?

apa yang bisa kami lakukan
untuk menahan murka-Mu

cukupkah hanya menangis?
cukupkah hanya bertanya pada rumput yang bergoyang?

rasanya kamilah yang terlalu bodoh
tak bisa membaca ayat-ayat kauniah-Mu

seringkali jelasnya isyarat yang engkau sampaikan
kukaburkan maknanya
agar sesuai keinginanku

mengenang korban gempa bumi di aceh 26 desember 2004

Duh Gusti! (2)

Duh Gusti!
jangan-jangan ayam goreng tepung
yang kukubur di perut gendutku
di goreng dengan darah para peternak

Duh Gusti!
jangan-jangan air minum kemasan
yang merawat ginjalku
di sedot dari keringat petani

Duh Gusti!
jangan-jangan ikan kalengan
yang berjejalan di lambungku
di bumbui jantungnya para nelayan

Duh Gusti!
kenapa aku hanya memikirkan diriku sendiri
tak hirau kemiskinan disekitarku

***