ceritanet
          situs nir-laba untuk karya tulis                                                            
 edisi 92 senin 7 februari 2005,  po box 49 jkppj 10210a


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 92

sajak Duh Gusti
Hayat

sajak Jihad
Gendhotwukir

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

ceritanet
©listonpsiregar2000


memoar Pantai Barat dari Rainbow Warrior
Nabiha Shahab

Tidak terasa hampir lima minggu sudah sejak pantai barat Aceh dihantam bencana.

Cepat sekali rasanya waktu berlalu di kapal. Kami sudah bolak-balik empat kali ke Meulaboh dan empat kali ke Lamno mengantar peralatan sanitasi dan medis untuk Medecin Sans Frontieres MSF, makanan untuk Action Contre la Faim ACF sampai kebutuhan sekolah untuk UNICEF. Tujuan kami kali ini adalah Teunom.

Rencananya, karena MoU dengan Medecin Sans Frontieres sudah habis waktunya
Jumat kemarin, kami akan keluar dari Aceh setelah kiriman terakhir ini atau tanggal 31 Januari plus minus dua hari. Tapi dalam pertemuan kru siang kemarin, disepakati bahwa kalau memang jasa kapal kami sekarang masih berguna dan bila kami pergi kekosongan jalur distribusi ke pantai barat belum bisa digantikan, maka sebaiknya kami tetap bekerja selama mungkin.

Sebagian besar kru sudah terlihat capek. Kapal kami bukan kapal kargo, dan tidak biasanya kru bekerja bongkar muat barang sebanyak dan selama ini dalam iklim yang sepanas ini. Tapi ternyata semangat kru masih cukup tinggi untuk tetap bekerja. Bahkan dua orang yang sudah habis masa kerjanya, memutuskan untuk tetap tinggal dan bekerja sukarela untuk ACF, tentunya kalau urusan visa mereka beres.

Rainbow Warrior, RW, dijadwalkan harus berada di Jepang untuk kampanye berikutnya awal Maret, jadi batas akhir kami berada di Aceh adalah pertengahan Februari. Pertimbangannya, agak konyol rasanya kalau kapal menganggur selama dua minggu sementara masih ada orang-orang yang terancam kelaparan dan masih ada yang bisa kami dilakukan untuk membantu.

Memang terlihat jelas meningkatnya kapasitas lokal dan berangsur lancarnya jalur distribusi, tapi masih belum merata ke semua daerah. Kemarin kami lihat sekitar 20 kontainer Palang Merah Perancis tiba di pelabuhan Malahayati. Crane pengangkat dan truk container sudah mulai beroperasi. Pelabuhan sudah lumayan bersih dari puing- puing, bekas gudang pelabuhanpun terlihat mulai dibangun kembali. Kabarnya pula, jalan darat ke Teunom sudah bisa dilalui, tapi TNI masih belum mengijinkan untuk dipakai. Entah sebab apa dan seberapa lama.

Kami masih bekerjasama dengan ACF sekarang, LSM Perancis yang bekerja di bidang nutrisi dan seperti namanya --Action Contre la Faim atau Aksi Melawan Kelaparan--mencegah terjadinya kekurangan pangan pada daerah yang dilanda bencana atau konflik. Muatan yang kami bawa kali ini adalah beras, mi instan, ikan kaleng, biskuit dan minyak goreng. Mulut sungai di Teunom terhalang gosong (sand bar) yang menyulitkan bahkan untuk kapal kecil sekalipun. Jadi pengiriman kali ini akan cukup menantang. Mudah-mudahan kapal nelayan lokal bisa membawa barang dari RW ke darat.

Perjalanan ke Teunom ditempuh sekitar 15 jam dari Krueng Raya. Kita akan tiba dan mulai membongkar muatan besok hari Minggu pagi. RW akan berlaku sebagai 'gudang terapung' selama tiga hari, karena ACF belum punya gudang di Teunom. Hampir semua bangunan runtuh di sana. Kabarnya mereka menemukan satu bangunan yang ruangannya bisa dipakai sebagai gudang, tapi kedengarannya masih belum memadai. Jadi setiap harinya kami akan membongkar sebagian muatan untuk langsung didistribusikan ke wilayah yang membutuhkan.
***

Pantai barat Aceh, Sabtu, 29 Januari 2005