ceritanet                                  
 edisi 91 rabu 26 januari 2005,  po box 49 jkppj 10210a               situs nir-laba untuk karya tulis                                                       


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 91

memoar Catatan Di Laut Lepas
Nabiha Shahab

memoar Mengurai Tingkat Kedukaan
Liston P. Siregar

sajak Doa Seorang Serdadu Usai Tsunami
Dino F. Umahuk

ceritanet
©listonpsiregar2000


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Suatu hari sebelum mereka berangkat, timbul badai salju. Kepulan salju abu-abu terbang ke langit, balik ke bumi bagai angin puyuh putih dan meniup jauh di jalanan gelap serta menyelubunginya seperti dengan kafan.

Semua bagasi sudah dikemas. Rumah beserta barang-barang yang masih ada di dalamnya, dipasrahkan pada sepasang suami istri yang tua; itulah bekas pelayan toko dengan istrinya, kerabat Yegorovna yang tinggal di Moskow dan pada musim dingin terakhir telah menolong Tonya dengan menjualkan pakaian dan perabot-perabot untuk mendapt kentang dan balok-balok.

(Markel tak dapat dipercaya. Pada pos milisi yang dipilihnya sebagai perkumpulan politiknya betul tak disebutnya bahwa bekas majikannya mengisap darahnya namun dituduhknya mereka telah membuatnya tak berpengetahuan selama bertahun-tahun ini dan sengaja menyembunyikan dari padanya bahwa dunia berasal dari monyet)

Tonya membawa suami istri itu untuk memeriksa rumah akhir kalinya; ia cobakan semua kunci pada gembok, membuka dan menutup laci serta lemari, mengingat-ingat perintah untuk saat-saat penghabisan.

Segala kursi dan meja dipepetkan ke dinding, tirai diturunkan dan ada setumpuk bungkusan di sudut. Kamar-kamar kosong yang kehilangan alat-alat penyaman untuk musim dingin, sedang diamat-amati oleh badai dari jendela tak berhias, mengenangkan tiap mereka pada perasaan yang lampau. Yury teringat pada kematian ibunya, Tonya dan Alexander Alexandrovich mengingat kematian dan penguburan Anna. Meskipun tak pada tempatnya mereka merasa seolah malam ini malam terakhir di rumah itu dan mereka akan melihatnya kembali; sungguhpun tak melahirkan firasat mereka agar tak saling menyedihkan, namun hatipun pilu; dan merekapun bergulat dengan air mata, waktu menoleh ke penghidupan masing-masing di bawah atap ini.

Walaupun ia menghadapi semua ini, Tonya bersusah payah juga untuk menyembuniykan perasaannya, maka bicaralah ia tak henti-heitnya dengan istri penjaga rumah. Dalam hatinya ia melebih-lebihkan hutang budinya kepada suami istri itu, maka agar tak disangka kurang tahu budi, iapun berkali-kali minta maaf, pergi ke rumah sebelah dan pulang dengan membawa hadiah-hadiah untuk si istri --blus-blus dan banyak kain katun dan sutra. Bahan-bahan itu semua berwana muram dengan pola kotak-kotak atau polka; dan lebuh yang seolah menjenguk lewat jendela gundul pada malam perpisahan ini adalah muram juga dengan batu berkotak-kotak serta salju berpola polka.
***