ceritanet                                              
             situs nir-laba untuk karya tulis                                          edisi 92 senin 7 februari 2005,  po box 49 jkppj 10210a


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

ceritanet
©listonpsiregar2000


memoar
Catatan Di Laut Lepas
Nabiha Shahab
Kami berada di perairan mendekati Banda Aceh. Berangkat siang kemarin dari Meulaboh, agak awal, dan mengambil jalan agak ke tengah laut untuk membuat persediaan air bersih lagi. Biasanya kami tidak bisa merapat di Krueng Raya sampai kapal feri dari Pulau We berangkat, jam 2 siang. Di ufuk barat pagi ini bulan hampir penuh sudah cukup rendah, sebentar lagi terang. Angin sekencang 22 knot bertiup dari arah barat. Musim angin barat tampaknya sudah mulai. Sepertinya, waktu kami di Aceh mendekati akhir missi.
selengkapnya

memoar Mengurai Tingkat Kedukaan
Liston P. Siregar
Akhirnya kami bertemu juga di Banda Aceh. Tapi dalam suasana yang amat berbeda dari apa yang kami bayangkan sekitar setahun lalu. Waktu itu dalam sebuah pelatihan, Uzair minta supaya BBC juga menggelar pelatihan wartawan radio di Banda Aceh. Saya menjawab secara ringkas dan benar, 'wah itu keputusan boss, sedang saya cuma pelaksana.' Ketika pemilihan parlemen, dia mendengar laporan saya dari Jayapura dan menulis email; 'kapan ke Banda Aceh?' Saya membalas email itu, juga dengan ringkas dan benar,' wah itu keputusan boss, saya tentu suka-suka saja meliput ke Banda Aceh.'
selengkapnya

sajak Doa Seorang Serdadu Usai Tsunami
Dino F. Umahuk
Tuhan
Mengapa air bah itu kau timpakan kepada kami
Padahal di sini tak ada Nuh
Mengapa murka kau timpakan kepada kami
Padahal kami sedang terlena dalam dosa
Padahal kami sedang asyik menindas saudara-saudara kami
selengkapnya

daftar buku
non-fiksi
Collapse: how societies choose to fail or survive
Toby Green
(Allen Lane)

fiksi
A Hero of Our Time
Mikhail Lermontov (Hesperus)


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Suatu hari sebelum mereka berangkat, timbul badai salju. Kepulan salju abu-abu terbang ke langit, balik ke bumi bagai angin puyuh putih dan meniup jauh di jalanan gelap serta menyelubunginya seperti dengan kafan. Semua bagasi sudah dikemas. Rumah beserta barang-barang yang masih ada di dalamnya, dipasrahkan pada sepasang suami istri yang tua; itulah bekas pelayan toko dengan istrinya, kerabat Yegorovna yang tinggal di Moskow dan pada musim dingin terakhir telah menolong Tonya dengan menjualkan pakaian dan perabot-perabot untuk mendapt kentang dan balok-balok.
selengkapnya