ceritanet    
 edisi 91 rabu 26 januari 2005,  po box 49 jkppj 10210a      situs nir-laba untuk karya tulis     


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 91

memoar Mengurai Tingkat Kedukaan
Liston P. Siregar

sajak Doa Seorang Serdadu Usai Tsunami
Dino F. Umahuk

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

ceritanet
©listonpsiregar2000


memoar Catatan Di Laut Lepas
Nabiha Shahab

Kami berada di perairan mendekati Banda Aceh. Berangkat siang kemarin dari Meulaboh, agak awal, dan mengambil jalan agak ke tengah laut untuk membuat persediaan air bersih lagi. Biasanya kami tidak bisa merapat di Krueng Raya sampai kapal feri dari Pulau We berangkat, jam 2 siang.

Di ufuk barat pagi ini bulan hampir penuh sudah cukup rendah, sebentar lagi
terang. Angin sekencang 22 knot bertiup dari arah barat. Musim angin barat tampaknya sudah mulai. Sepertinya, waktu kami di Aceh mendekati akhir missi. UNICEF masih berminat untuk minta bantuan memindahkan barang-barangnya.

Kami lebih mengutamakan bahan makanan atau obat-obatan sebagai bantuan darurat. Kemarin kami mengangkut peralatan sekolah dan sanitasi untuk UNICEF ke Meulaboh.Organisasi kemanusaian lain tampaknya belum siap untuk memanfaatkan bantuan Rainbow Warrior.

Kapasitas lokal tampaknya sudah mulai pulih. Banyak kapal nelayan yang siap
bekerja membantu bongkar muatan, dan di sepanjang perjalanan kami juga lihat banyak kapal-kapal dalam negeri yang disewa oleh berbagai LSM dan organisasi kemanusiaan yang beroperasi di pantai barat.

Di Meulaboh kemarin, Christian turun ke darat untuk membuat dokumentasi akhir.
Karena cuma ada satu yang bisa Bahasa Indonesia, aku terpaksa tinggal di kapal untuk bantu mengatur bongkar muatan. Jadi Bernard yang menggantikan aku, pergi menemani Christian. Karena badannya yang besar, Bernard selalu harus bekerja
bongkar-muat barang dan selama hampir satu bulan di lepas pantai Aceh, dia tidak pernah menginjak daratan. Beberapa orang kru lain juga tidak mendapat kesempatan turun ke darat.

Alat-alat berat mulai membersihkan bagian-bagian perumahan yang masih bertimbun
puing. Puing-puing didorong menjadi tumpukan-tumpukan besar, dan dibakar.

Malam kemarin, dari kapal, terlihat beberapa api besar berkobar. Mulailah ditemukan
sejumlah besar mayat yang selama ini terjebak di bawah reruntuhan, terjepit di antara
potongan beton. Semua kru yang mendengar cerita dan melihat gambar-gambar Christian, hanya bisa menahan napas. Jeruk dan apel yang mereka bawa untuk bekal ternyata tidak disentuh sama sekali. Bernard yang tinggi besar ternyata lemah hatinya waktu melihat topi kecil dan boneka yang terselip di antara puing-puing.

Di beberapa tempat lain mungkin banyak jenazah yang tidak akan pernah sempat
terambil dan dikubur dengan layak.
***
*. Di kapal Rainbow Warrior, lepas pantai Banda Aceh, 25 Januari 2005