ceritanet    
 edisi 91 rabu 26 januari 2005,  po box 49 jkppj 10210a                                               situs nir-laba untuk karya tulis     


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 91

memoar Catatan Di Laut Lepas
Nabiha Shahab

sajak Doa Seorang Serdadu Usai Tsunami
Dino F. Umahuk

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

ceritanet
©listonpsiregar2000


memoar Mengurai Tingkat Kedukaan
Liston P. Siregar

Akhirnya kami bertemu juga di Banda Aceh. Tapi dalam suasana yang amat berbeda dari apa yang kami bayangkan sekitar setahun lalu. Waktu itu dalam sebuah pelatihan, Uzair minta supaya BBC juga menggelar pelatihan wartawan radio di Banda Aceh. Saya menjawab secara ringkas dan benar, 'wah itu keputusan boss, sedang saya cuma pelaksana.'

Ketika pemilihan parlemen, dia mendengar laporan saya dari Jayapura dan menulis email; 'kapan ke Banda Aceh?' Saya membalas email itu, juga dengan ringkas dan benar,' wah itu keputusan boss, saya tentu suka-suka saja meliput ke Banda Aceh.' Obrolan email kami masih berlanjut dan dia sempat mengiming-imingi, 'nanti saya bawa jalan-jalan di Banda Aceh, bisa ke pantai, atau ke Pulau Sabang.'

Petang itu, setibanya di Banda Aceh, kami berpelukan mengenang angan-angan itu. Sampai dua hari setelah bencana tak ada kabarnya, tapi akhirnya jauh di seberang lautan sana kami mendengar Uzair selamat walau beberapa wartawan Radio Prima FM hilang. "Tujuh orang masih hilang," kata Uzair di halaman belakang rumah dinas Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam yang jadi pos wartawan.

Kami kemudian berkeliling kota. Sekitar pukul 8 malam, kawasan yang dilanda bencana gelap gulita, tak ada cahaya sepercikpun selain sinar mobil yang membawa kami, satu-satunya kenderaan yang melintas di sana. Kami lewat di depan Masjid Raya Baiturahman, yang biasanya, sebelum bencana, merupakan bagian kota Banda Aceh yang paling ramai. Malam itu, lima belas hari setelah bencana, suasana di wilayah bencana masih mati.

Keesokan harinya saya melihat sendiri apa yang dikatakan Colin Powell
sebagai kondisi yang tidak pernah dia lihat walau dia seorang tentara yang dulu sering terjun ke medan perang. Saya juga menyaksikan apa yang disamakan wartawan BBC Andrew Harding, yang tiba di Banda Aceh tiga hari setelah bencana, dengan kota Grozny di Chechnya sehabis dihantam meriam-meriam Rusia, atau yang menurut Sekjen PBB seagai bencana yang belum pernah ada sebelumnya.

Seorang kawan Aceh, yang mengantarkan saya berkeliling dengan motor menyebutnya sebagai kiamat. Dia kehilangan ayah, adik dan adik iparnya, sedang ibunya selamat karena ada di Takengon.

Semakin sering saya bertemu dengan orang-orang, semakin banyak pula bertemu dengan orang-orang yang kehilangan keluarga. Di tempat saya nginap, rumahnya teman dari teman saya, ada karyawan pemasaran Harian Serambi Indonesia, Masdi, yang kehilangan istri dan kedua anaknya. Di kantor Dinas Transmigrasi, ada seorang karyawan, Putut, yang juga kehilangan istri dan dua anaknya walau dua anaknya yang lain selamat. "Tapi saya harus tegar Mas, karena saya harus bantu orang lain yang lebih berduka." Saya bingung, apakah ada tingkat kedukaan? Tapi pria asal Solo yang sudah 14 tahun tinggal di Banda Aceh ini sudah mengalaminya langsung.

Sekitar lima belas menitan ngobrol di halaman kantin dengan beberapa
karyawan lain, yang punya catatan kehilangan maupun yang selamat karena
tinggal di daerah tinggi, seorang tamu pria datang menanyakan seorang
pegawai. Pria itu bersama anak remaja belasan tahun di belakangnya. Saya taksir usianya satu atau dua tahun di atas putra sulung saya, jadi sekitar 11 atau 12 tahun. Anak itu memakai sendal jepit baru yang masih mengkilat, oblong dan rompinya juga masih baru, wajahnya bersih karena terlihat usai mandi sore. Seorang karyawan kemudian bergegas pindah ke meja lain bersama mereka. Anak itu kehilangan bapak, ibu, kakak, dan adiknya. Saya menangis.

Jika 100.000 lebih hilang atau mati hanya dalam waktu beberapa menit, dan
rumah-rumah hancur rata sama dengan tanah, mungkin jadi ada relatifitas
kedukaan. Ada pengungsi yang mengatakan 'alhamdulilah, keluarga saya selamat semua walau rumah hancur' atau 'sepupu saya yang hilang, kalau dia itu istrinya hilang.'

Atau mungkin soal menunda saja. Suatu pagi saya bangun dan Masdi sedang
duduk merokok menunggu jam berangkat kantornya. Suasana pagi itu agak ringan dan saya merasa ringan pula ngobrol dengan dia, bukan sekedar menyatakan simpati atau duka cita saja.

Dia mengatakan masih merasa kedua anak dan istrinya menunggu di rumah dan masih terang di ingatannya istri dan kedua anaknya berdiri selamat di depan rumah yang rusak kena gempa. Namun gelombang tsunami yang datang sekitar 15 menit kemudian tidak menyisakan banyak. "Mungkin kalau keadaan sudah normal, baru saya baru jatuh," katanya. Dia kemudian berdiri, berangkat ke kantor, "cuma bersih-bersih peralatan yang tertimbun lumpur," tambahnya.

Malam sebelumnya, istri saya menelepon dari London, 'Kau baik-baik saja' tanyanya. "Ya, amat baik," saya jawab yakin walau kepala agak pusing, badan letih, dan kedinginan karena tersiram hujan tapi masih harus mengirim laporan. Dari Banda Aceh, jawaban saya itu bukan basa basi.

***
*. Disalin dari Radio BBC Siaran Indonesia, Senin 16 Januari 2005