sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 8, Rabu 21 Maret 2001

                          ceritanet
             situs nir-laba untuk karya tulis

novel Dokter Zhivago XI
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Pada musim panas timbul kegelisahan antara para pekerja dinas kereta api di jaringan Moskow. Orang-orang dari trayek Moskow-Kazan mogok dan rekan-rekan dari trayek Moskow-Brest diharapkan ikut serta. Putusan untuk mogok sudah diambil, tapi panitia pemogokan masih berselisih tentang tanggalnya. Tiap orang jawatan kereta api tahu akan ada pemogokan ; pencetusannya hanya memerlukan suatu alasan.

Gadis dari Dunia Lain
Peperangan dengan Jepang belum selesai, tapi dibayangi oleh peristiwa-peristiwa yang tak tersangka. Gelombang-gelombang revolusi menyapu bumi Rusia, masing-masing lebih besar dan luar biasa dari yang dulu-dulu,. Pada waktu inilah Amalia Karlovna Guishar, seorang wanita Rusia kelahiran Perancis dan janda seorang insinyur Belgia tiba di Moskow dari daerah Ural bersama dua anaknya --yang lelaki Roydon, yang perempuan Larissa. Ia masukkan anak laki-lakinya dalam akademi militer dan anak perempuannya dalam sekolah menengah wanita; justru di sekoah itu dan di kelas yang sama duduklah Nadya Kologrivova.

Suami nyonya Guishar telah mewariskan adanya uang simpanannya yang jumlahnya mula-mula tambah besar, tapi kini mulai menurun. Guna mencegah kekeringan sumbernya dan juga agar ada yang dikerjaknannya, ia membeli perusahan kecil, yakni perusahaan pakaian Levitskaya dekat gapura Kemenangan* ; diperolehnya itu dari para ahli waris Levitskaya, beserta kemaian baik pemilik firma itu dan semua penjahit wanita dan para magangnya.

Ia berbuat begitu atas nasehat Komarovsky, seorang pengacara, teman mendiang suaminya dan sekarang penyokongnya yang terbesar, pengusaha berhati-dingin yang kenal akan dunia usahawan Rusia seperti dikenalnya punggung tanganya. Bersama dialah nyonya Gusihar mengatur kepindahannya dengan surat-menyurat; dia bertemu dengannya serta anak-anaknya di stasiun lalu diantarnya mereka ke ujung lain kota Moskow, ke Hotel Montenegro di Jalan Oruzheiny**, dimana telah dipesannya kamar-kamar. Dialah pula yang menganjurkan supaya Rodya dikirim ke akademi militer dan Lara ke sekolah yan dipilihnya; iapun berkelakar bebas dengan si anak lelaki sedangkan si gadis dipandangnya nanap, sampai ia merah padam.
***

Mereka tinggal kira-kira sebulan di Hotel Montenegro, sebelum pindah ke rumah petak kecil dengan tiga kamarnya yang berdampingan dengan bengkel penjahitan, Tempat itu adalah yang paling kotor di Moskow, lorong-lorong belakang, warung-warung gelap, sarang likachi*** dan kampung-kampung percabulan.

Anak-anak itu tidak putus asa menghadapi kamar kotor, kutu ranjang dan perabot-perabot yang bobrok. Sejak si ayah meninggal, ibu mereka senantiasa hidup dalam kecemasan terhadap kemiskinan. Rodya dan Lara sudah biasa mendengar bahwa mereka di tepi jurang keruntuhan. Mereka sadar bahwa mereka lain dari anak-anak yang bergelandangan di jalan-jalan, namun tak ubahnya dengan anak-anak yang dibesarkan dalam rumah piatu, mereka merasa takut sampai keulu-hati terhadap orang kaya.

Ibu mereka meberi bukti yang hidup tentang rasa takut ini. Nyonya Gishar adalah wanita gendut berambut pirang, kira-kira tiga puluh tahun umurnya; serangan penyakit jantungnya silih berganti dengan cetusan kekonyolannya. Ia pengecut yang luar biasa dan sangat ketakutan terhadap lelaki. Itu sebabnya ia lantaran panik dan bingungnya, terombang-ambing antara pelukan pacar yang satu dan pacar lainnya.

Di Hotel Montenegro keluarga itu tinggal di kamar 23, sedangkan kamar 24 sejak hotel itu didirikan sudah didiami oleh pemain cello Tishkevich, orang baik hati yang gundul, berkeringat deras dan memakai rambut palsu; kalau ia hendak meyakinkan orang tentang sesuatu, ia tangkupkan tangan-tangannya seakan berdoa, lalu menekankannya ke hati. Kalau main untuk pesta-pesta laziman di gedung-gedung konser, iapun mendongak dan memutar-mutar matanya seperti kena pesona. Ia jarang di kamarnya dan tinnggal sehari-harian di Bolshoi dan di Konservatorium. Mereka itu tetangga yang tenggang-menenggang dan hal ini merapatkan yang satu pada yang lain.

Karena selama kunjungan-kunjungan Komarovsky itu kehadiran anak-anak ada kalanya membuat si ibu malu, Tishkevich suka memberikan kunci kamarnya agar dapat digunakan olehnya. Lambat laun kebaikan budi ini dianggapnya sudah lazim, hingga dalam beberapa hal ia mengetuk saja pintu Tishkevich, lalu dengan air mata bercucuran ia minta dilindungi terhadap sang majikan.
***

*. Perkampungan orang miskin
**. Jalan Oruzheiny : Jalan Meriam atau Jalan Persenjataan
***. Supir-supir taxi tertentu yang sebagai kelas mempunyai nama buruk disebabkan hubungan mereka dengan pelacur-pelacur.

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar