edisi 8, Rabu 21 Maret 2001
ceritanet situs nir-laba untuk karya tulis
komentar Dari Mata Perempuan
Dhamayanti Suhita
Pembantaian, jika dilihat dari sisi wanita, yang selalu jadi korban pertikaian ego, mungkin perlu juga disimak. Apalagi di lingkungan Jawa yang sejak kecil selalu diingatkan akan perbedaan dan kemungkinan friksi , tapi dengan filsafat 'ngalah ditresnani Gusti Allah' atau mengalah itu dikasihi Allah, maka kita akan selalu bisa hidup berdampingan.
Pada era dimana kemajuan ekonomi tidak seimbang, keadilan tidak merata, dan pendidikan tidak sesuai, maka pada akhirnya kelas bawah --atau yang dalam bahasa marketing disebut kelas DE atau kelompok masayarakat yang punya pendapatan hanya sekedar cukup untuk makan saja -- yang notabene sering menjadi korban --atau merasa menjadi korban maupun sering dikorbankan-- akan gampang sekali terusik . 'Harga diri' tinggal satu-satunya yang masih dimiliki ditengah-tengah 'harga naik' yang tidak mampu dibayar, sehingga menyebabkan 'harga mati' jiwa raga yang dipertaruhkan.
Komentar ini memang acak-acakan, tapi secara pribadi saya sudah capek hidup ditengah masyarakat yang tidak kita kenal seperti jaman ketika saya kecil. Masyarakat yang gotong royong, dan kata gotong royong belum mengalami inflasi menjadi sekedar slogan politik atau tercetak di buku wajib sekolah saja, tapi memang benar-beanr hidup dan terasakan langsung sehari-hari. Dan seandainya para pemimpin tidak cuma rajin berkomentar dan saling tuduh atas yang sudah terjadi --tapi sebaliknya gulung lengan baju dan mencoba menolong-- mungkin kisahnya agak lebih baik. Saya, dan saya yakin bukan saya sendiri saja, capek.
***
situs nir-laba untuk karya tulis ceritanet
kirim tulisan
©listonpsiregar2000sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar