sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 8, Rabu 21 Maret 2001

 

ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis

esei Malaysia Meniti Bukit Terjal
Asep Setiawan

Berita tentang Anwar Ibrahim sekarang-sekarang ini tidak lagi seramai dulu, dan tekanan-tekanan yang ia hadapi juga tak lagi memancing aksi-aksi turun ke jalan. Padahal Anwar sedang bergelut melawan gangguan kesehatan. Seorang dokter spesialis dari kawasan Eropa --yang setelah perdebatan panjang dengan istri dan pengacara Anwar akhirnya diijinkan juga memeriksa Anwar-- menyimpulkan Anwar perlu berobat ke luar Malaysia, tapi pemerintah Mahathir Mohammad menegaskan fasilitas kesehatan di Malaysia sudah cukup. Anwar Ibrahim, yang pernah disebut-sebut putra mahkota Mahathir, terpuruk sendirian di ruang selnya. Sakit-sakitan.

Tapi sebenarnya Anwar berhasil juga menabur benih-benih perlawanan, paling tidak Mahathir semakin meningkatkan tekanannya. Mahathir masuk ke stadium paranoid yang lebih akut. Kini, penahanan maupun intimidasi terhadap tokoh-tokoh oposisi Malaysia telah menjadi bagian dari kehidupan Malaysia. Dan awalnya adalah gerakan reformasi yang dilancarkan mantan Wakil Perdana Menteri Anwar Ibrahim Oktober 1998. Sejak itu, kalangan oposisi menjadi sasaran penguasa. Anwar sendiri dalam satu jurus didakwa dengan 10 tuduhan sekaligus, dari yang serius sampai sodomi.

Orang terbaru yang menerima intimidasi adalah Mohamad Ezam Mohamad Noor, mantan sekretaris politik Anwar. Menjelang Idul Adha tangga; 5 Maret lalu ia dijemput polisi karena dituduh menghasut masyarakat. Pasalnya, Ezam pernah mengatakan akan mengajak para pendukungnya turun ke jalan melancar tuntutan rakyat ala Filipina yang menjatuhkan Presiden Joseph Estrada.

Pekan lalu Ezzam dibebaskan dengan uang jaminan. Ia mengakui intimidasi penguasa langsund diarahkan pada dirinya, yang dilakukan dengan cara menangkapnya sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Dan itu baginya sudah merupakan siksaan tersendiri, namun ia bertekad tidak akan mundur.

Bagaimanapun langkah oposisi untuk mereformasi sistem politik Malaysia --yang dengan gigih diperjuangkan oleh Partai Islam Se-Malaysia (PAS), Partai Rakyat Malaysia atau Partai Keadilan Nasional-- sedang berada dalam periode paling sulit dan penuh dengan ketidakpastian. Setidaknya ada empat hambatan utama bagi reformasi Malaysia.

  • Pertama, Mahatahir Mohamad dalam posisi kuat meski telah diguncang prahara ekonomi tahun 1998. Basis kekuatannya dalam tubuh Organisasi Nasional Malaysia Bersatu (UMNO) masih kokoh. Setelah guncangan politik akibat pemecatan Anwar, segera Mahathir membersihkan sampai total UMNO dari anasir-anasir yang anti dia. Pembersihan yang masih dilakukan terus sampai sekarang. Model kekuasaan yang ditampilkan Mahathir ini disebut Harold Crouch sebagai sebuah sistem semi authoritarian. Demokrasi hanya ditampilkan agar terkesan demokrasi, sedang kenyataannya instrumen demokrasi hanyalah alat propaganda pemerintah. Realitasnya demokrasi itu tidak ada, karena kekuasaan sepenuhnya dipegang penguasa. Salah seorang tokoh UMNO menyebut sistem yang dibangun Mahathir itu sebagai sebuah sistem dengan posisi pemerintah yang kuat.

  • Kedua, penguasa memiliki posisi menguntungkan karena berbagai perangkat hukum sangat membuka peluang untuk memenangkan tujuan politiknya. Adanya Akta Keselamatan Negara, yang populer dengan nama ISA, yang semula digunakan penguasa kolonial, sekarang dijadikan senjata pamungkas membungkap oposisi. Undang-undang itu bagaikan sebuah alat penyapu serba-guna untuk menyingkirkan gerakan politik yang akan menjatuhkan penguasa. Tidak hanya itu, penguasa Malaysia --seperti era Soeharto dulu-- juga dibekali dengan Undang-undang Penyiaran dan Percetakan, Undang-undang Universitas dan Undang-undang Penghasutan Masyarakat. Tonggak-tonggak intelektualitas dikekang sepenuhnya.

  • Ketiga, pada saat sekarang kalangan oposisi tidak memiliki kekuatan memadai untuk menandingi UMNO atau Barisan Nasional, yang merupakan koalisi 17 partai. Memang Partai Islam Se-Malayasia meraih keuntungan juga dalam krisis politik setelah pemecatan Anwar. PAS sepertinya paling diuntungkan ketika terjadi cakar-cakaran antara para tokoh UMNO yang pro-Anwar dan pro-Mahathir. Pemilihan lokal terakhir di Malaysia menjadi saksi bagaiman PAS memetik buah dari krisis itu, berupa kemenangan di negara bagian Trengganu, selain Kelantan yang secara tradisional merupakan basis politik PAS.

  • Adapun Partai Rakyat Malaysia pimpinan Syed Husein Ali tidak memiliki basis kuat dalam menggalang kekuatan politik di perkampungan. Partai ini lebih banyak bergerak di kawasan perkotaan, termasuk di Petaling Jaya Selatan -tempat maraknya kerusuhan antar suku baru-baru ini. Daerah itu merupakan konstituen Syed Husein Ali, dan di sana dia kalah dari Barisan Nasional, walau dengan suara amat tipis. Agakanya latar belakang Husein Ali, yang dituduh komunis, menjadi belenggu untuk mempopulerkan partainya.

    Sedangkan Partai Keadilan Nasional, PKN, yang lahir dari krisis ekonomi dan politik Malaysia berusaha membangun platform nasional. Jadi bukan dengan politik aliran seperti yang sudah lama populer di Malaysia, namun tetap saja dalam pemilu terbaru, ternyata jumlah suara yang dikumpulkan PKN jauh dari harapan. Keempat, situasi ekonomi Malaysia yang relatif stabil sangat tidak subur bagi oposisi untuk mempromosikan gagasannya. Dengan cepat Malaysia pulih dari gelombang tekanan ekonomi. Berbeda dengan Indonesia, yang setelah krisis ekonomi yang berbuntut politik berusaha keluar dengan sebuah proses demokrasi yang mendapat acungan jempol dunia. Namun ternyata proses demokratisasi itu tidak melahirkan pilar ekonomi yang kuat. Sedangkan di Malaysia, oposisi yang membesar-besarkan penyelewengan kekuasaan Mahathir tidak mendapat sambutan sebagian besar lapisan masyarakat. Apatisme telah menjadi bagian dari sistem demokrasi semu itu.

Empat kondisi itu tidaklah mudah bagi kubu oposisi yang terpecah belah. Anwar yang tidak berdaya di penjara mendorong semakin terjalnya bukit yang harus dilalui oposisi untuk sampai kepada tujuannya. Gerakan oposisi yang berpusat di kota-kota besar tidak sampai menyentuh lapisan masyarakat bawah. Rakyat Malaysia sudah kenyang makan. Oleh sebab itu, seruan oposisi untuk menjatuhkan Mahathir itu tidak -atau sebutlah belum-terlalu kuat gemanya.

Jadi darimana perubahan akan datang ? Akankah oposisi Malaysia kelak mendapat kesempatan naik ke panggung kekuasaan seperti di Indonesia sekarang. Jawaban yang paling mudah --dan sudah menjadi bagian dari pendapat kalangan pakar politik-- perubahan akan datang apabila Mahathir meninggal.

Tahun 1997 lalu, Dekan Fakultas Sosial, Kemasyarakatan dan Kemanusiaan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Prof Dr Shamsul Amri Baharudin pernah menyebutkan Anwar Ibrahim akan naik menggantikan Mahathir bila perdana menteri itu meninggal. Namun kalau perdana menteri masih hidup ceritanya akan lain. Mahathir sampai sekarang masih sehat walafiat, dan akibatnya perjalanan sejarah Malaysia menjadi berbeda.

Perubahan akan datang pula apabila kelas menengah Malaysia sudah mendapat tekanan yang merugikan dari perilaku ekonomi dan politik Mahathir. Tanda-tanda itu cukup signifikan dikalangan intelektual, pengusaha muda dan kalangan agamawan. Jumlah mereka memang tidak begitu besar, tetapi menjadi inti penggerak yang penting. Jadi dalam proses penyadaran politik ini, kalangan perkotaan mendapatkan akses lebih mudah terhadap situasi politik sesungguhnya. Tidaklah mengherankan apabila Mahathir tidak mau berkompromi dengan lubernya informasi dari oposisi kedalam masyarakat.

Contoh konkrit adalah Surat kabar Harakah, yang dikhususkan beredar hanya untuk anggota partai segera dilarang beredar. Alasannya, tiras Harakah mencapi 300.000 per minggunya; sebuah loncatan yang jauh sekali mengingat koran mingguan ini seelumnya hanya bertiras di bawah 10.000 eksemplar.

Peluang lainnya bisa muncul apabila koalisi Barisan Nasional bubar karena kepemimpinan UMNO tidak lagi memberikan harapan. Kongres UMNO tahun lalu, misalnya, dikritik kalangan muda UMNO karena masih menampilkan wajah-wajah lama. Jadi jika UMNO melemah, bisa saja koalisi baru terbentuk dimana Partai Keadilan Nasional naik menggantikan Barisan Nasional, dengan isi partai yang berbeda. Atau malah sebagian partai pendukung Barisan Nasional sekarang menyeberang kepada platform baru.

Dari obrolan singkat saya dengan Ezam yang masih berusia 30-an itu, jelas bisa dirasakan kalau penguasa Malaysia tidak mau lagi memberikan angin sedikitpun untuk kalangan oposisi agar bisa berkembang. Segala cara dilakukan, mulai dengan ancaman, intimidasi sampai penahanan yang tampaknya makin memperburuk posisi kalangan oposisi. Namun demikian tidak berarti kalau masa depan oposisi berhenti. Simpati dari sebagian kalangan masyarakat mungkin sedang berkembang, sejalan dengan bertambahnya usia gerakan reformasi. Meski Anwar dipenjara, benih yang ditaburkannya sepertinya berkembang sehingga menakutkan Mahathir Mohammad. Dan penguasa yang paranoid adalah penguasa yang lemah.
***

situs nir-laba
untuk
karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar