sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 8, Rabu 21 Maret 2001

tentang ceritanet

       ceritanet
              situs nir-laba untuk karya tulis

 

cerpen Anak Saya Terjebak Jaring Laba-Laba
T Widjaja

Empat tahun lalu, anak saya lahir pada Jumat subuh. Proses kelahirannya normal. Seperti kelahiran anak Anda. Dia menangis keras. Dari jarak 235 kilometer, dia berbisik: Abah, saya melihat matahari yang redup. Saya melihat manusia memakan manusia. Saya melihat karbondioksida mendesak oksigen yang membuat manusia dan kambing kering bagai padang pasir.

Lanjutnya, Abah apakah saya harus belajar dari semua itu. Jika benar, saya ingin pulang ke rahim ibu. Saya tidak mau masuk ke jarring laba-laba ini. Saya ingin membangun negara di surga. Para malaikat setiap saat akan menyanyikan tembang kemerdekaan.

Sayangnya, setelah empat tahun, anak saya tidak dapat menolak hidup di negara ini. Janji manis setelah Soeharto jatuh, terus ditekuninya sebagai gambar-gambar robot dan kapal terbang. Ya, dia harus mengalami pembesaran, pelebaran, dan kematian.

Anak saya mandi. Telanjang. Dia kencing. Air seninya mengalir, membentuk peta di kamar mandi. Ada ribuan gajah bergerak di peta tersebut. Kaki-kaki gajah itu menghantam tanah. Retak. Roboh pohonan. Gunung-gunung gemetar. Tikus-tikus lari ketakutan seperti mesin pencuci tua. Sapi-sapi menjelma menjadi lonte. Macan dan harimau menjadi kucing, dan sembunyi di rumah-rumah para pemilik pabrik. Semuanya sepi bagai kandang ayam yang meledak. Para gajah telah bangkit. Mereka ingin menindas manusia. Aksi balas dendam.

Setelah puas menghancurkan manusia di Indonesia, mereka mengadakan kongres di Muara Takus, Jambi. Mereka menyusun rencana menyerang gedung PBB di New York dan menghancurkan ratusan instalasi nuklir serta pabrik-pabrik makanan instant.

Tiba-tiba, seekor gajah kecil, tampak lemah, dan kulitnya berwarna coklat muda, memperingatkan teman-temannya, "Saya setuju dengan rencana ini. Tapi saya minta kita jangan menggunakan senjata api. Jika menggunakan senjata api, artinya kita sama dengan manusia."

Semua gajah setuju. Mereka tidak memakai senjata api. Mereka hanya mengandalkan massa tubuh dan kekebalan kulit. Layaknya ribuan Samson membunuh ribuan tentara Mesir.

Sayangnya, ketika gajah-gajah itu baru menginjakan kakinya ke kota New York, anak saya menarik tangan saya. Hujan belum turun.

Anak saya lelaki. Wajahnya hampir 100 persen mirip ibunya. Hidungnya rendah, dan berkulit hitam. Sebagai lelaki, apakah dia boleh menindas perempuan, tanya istri saya. Sulit juga menjawabnya. Sistem social dan politik yang ada saat ini memungkinkan lelaki menindas perempuan. Mengeksploitasi perempuan seperti sabun mandi. "Tergantung nanti. Tergantung maunya Tuhan," jawab saya sebagai lelaki tradisional.

Istri saya tidak puas. Dia berhenti memasak, dan dibiarkannya anak saya telanjang. Matanya melotot. Ujarnya, lelaki harus setara dengan lelaki. Kesalahan sejarah, sejak anak-anak pembiasan gender itu sudah dibangun. Saya bingung. Anak kembali masuk ke kamar mandi.

Lantas, inikan kehendak system yang ada? Tidak bisa! Tidak bisa. Sistem ini harus diubah. "Saya percaya, kesadaran feodal ini akan musnah. Saya percaya," katanya, terus menggoreng ikan laut.

Anak saya masuk ke bak mandi. Istri saya berteriak. Saya masuk ke bak mandi. Dunia ternyata bukan hanya kerja dan memantau perilaku.
***

Anak saya menggambar rumah. Katanya, saya akan membuka toko. Saya akan membagikan makanan kepada setiap orang yang datang. Tanpa uang. Dari mana makanan itu? Banyak orang yang akan menyumbang, katanya lagi.

Tak ada jalan yang pasti. Saya berteriak. Saya ingin menjadi seorang ibu! Melahirkan ratusan anak yang kemudian menembaki kapal terbang yang melintas di atas rumah kami. Saya tahu, dan saya mohon Tuhan, jangan biarkan anak saya melompat dari lantai 78 dari sebuah gedung di Tokyo.

Saya masuk ke rumah, dan membakar kertas tisu. Abu.
***

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar