ceritanet    
 edisi 89 selasa 14 desember 2004,  po box 49 jkppj 10210a                                               situs nir-laba untuk karya tulis     


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 89

Masih Ingat Greg Dyke?
Liston P. Siregar

sajak Pelangi
Mia Singgih

 

ceritanet
©listonpsiregar2000


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Pada waktu itu Alexander Alexandrovich beberapa kali dipanggil selaku penasehat pada Dewan Tinggi Ekonomi dan Yury dipanggil untuk mengobati seorang anggota pemerintah yang sakitnya berbahaya. Kedua-duanya dibayar dengan yang ketika itu paling tinggi nilainya, yakni girik-girik untuk toko pertama barang-barang konsumsi yang baru diadakan dan dijaga keras.

Gedung itu gudang tua tentara di sebelah Biara Santa Simon. Dokter dan profesor lewat biara dan pekarangan tangsi, langsung melalui pintu batu rendah sampai ke kolong berkubah. Kolong itu landai, melebar pada ujungnya yang terjauh, dimana ada lang membujur dari dinding ke dinding; dibelakangnya ada seorang pekerja, sibuk menimbang, mengukur dan menyampaikan barang-barang dengan gerak-gerik tenang tak tergesa, mencoret pos-pos dalam daftarnya dan sekali-sekali mengisi lagi persediaannya dari gudang sebelah belakang.

Langganan tak banyak, hingga mereka segera dapat giliran. "Wadahnya," kata kepala gudang sambil menengok ke girik-girik. Dokter dan profesor itu mengacungkan berbagai sarung bantal besar kecil, maka dengan mata melotot mereka melihatnya diisi dengan tepung, gandum makaroni, gula, lemak, sabun korek api dan bungkusan-bungkusan kertas yang kelak ternyata berisi keju Kaukasia.

Terharu oleh kemurahan hati kepala gudang dan tak ingin membuang waktu lagi, buru-buru mereka masukkan segala bingkisan itu ke dalam karung-karung besar, lalu mengendongnya.

Dengan terpesona mereka keluar dari kolong itu, bukan karena memikirkan makanan saja, tapi karena sadar bahwa merekapun berguna di dunia dan tidak ingin hidup percuma juga bahwa mereka sudah sepantasnya menerima pujian serta terima kasih yang dilimpahkan Tonya kepada mereka di rumah.
***