ceritanet    
 edisi 89 selasa 14 desember 2004,  po box 49 jkppj 10210a                                               situs nir-laba untuk karya tulis     


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 89

sajak Pelangi
Mia Singgih

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)


 

ceritanet
©listonpsiregar2000


memoar Masih Ingat Greg Dyke?
Liston P. Siregar

Nama Greg Dyke melesat ke dunia internasional Kamis 29 Januari 2004, sehari setelah diumumkannya laporan penyelidikan Lord Hutton tentang kematian Dr. David Kelly, ilmuwan Inggris yang bunuh diri karena pertentangan antara BBC dan pemerintah Inggris dalam soal alasan pemerintah Inggris untuk perang Irak. Dua puluh empat jam setelah pengumuman Laporan Lord Hutton, Greg Dyke mengundurkan diri dari jabatan Direktur Jenderal BBC, dan wajahnya terpampang di banyak media internasional.

Greg tiba-tiba menjadi perlambang kemandirian media dalam menghadapi kekuasaan pemerintah. Laporan Lord Hutton diberitakan oleh sejumlah besar media Inggris secara negatif dengan menyebutnya sebagai pembersihan karena, sama sekali tidak diduga, menyerang kebijakan editorial BBC habis-habisan tanpa sedikitpun menyinggung masalah intinya; 'apakah pemerintah Inggris membesar-besarkan alasan perang Irak?'

Dari dalam BBC sendiri, sejumlah karyawan turun berunjuk rasa mendukung Greg Dyke, dan meminta dia kembali ke kursinya. Para karyawan BBC bahkan sampai patungan untuk memasang iklan mendukung Greg Dyke di harian terbesar Inggris, The Daily Telegraph, dan uang yang dikumpulkan melebihi biaya iklan sampai perlu disumbang ke sebuah lembaga amal. Untuk pertama kalinya dalam sejarah BBC, kepergian seorang pimpinan puncak BBC diratapi karyawannya.

Hurb Schlosser, yang pernah menjabat Presiden Direktur NBC di Amerika bahkan sampai menulis surat kepada Greg Dyke; "saya melihat di internet kalau karyawan BBC berunjuk rasa mendukung pimpinan puncaknya. Ini merupakan yang pertama dalam sejarah Dunia Barat." Dan orang biasa yang berpapasan dengan Greg Dyke tak lupa mengucapkan selamat, baik itu di pasar maupun di pantai.

Sepekan setelah itu masih berseliweran berita-berita tentang Greg Dyke, sebelum akhirnya menghilang. Dia kembali ke jagat ciliknya; ke dunia media Inggris -- seperti sebelum dia menjabat Direktur Jenderal BBC. Walau terkenal di kalangan pertelevisian Inggris --karena tangan dinginnya-- nama Greg Dyke memang baru muncul ke panggung umum Inggris setelah menjadi Direktur Jenderal BBC, jabatan paling berpengaruh dalam sektor media Inggris, dan jelas salah satu jabatan yang berpengaruh di dunia

Bulan September lalu, Greg Dyke menerbitkan otobiografi; Inside Story, setebal 330 halaman dalam edisi hardcover --sebelum edisi papeback muncul tahun depan. Dan berikut cuplikan kecilnya.

Kesalahan Hutton
"...Beberapa bulan setelah Gavyn Davies dan aku mengundurkan diri dari BBC, dan dalam kasusku bersamaan dengan pemintaan maaf tanpa catatan dari Lord Ryder, BBC telah menghentikan upaya untuk mempertahankan posisi yang diambilnya sepanjang Penyelidikan Hutton; bahwa merupakan keputusan yang benar untuk menyiarkan liputan Andrew Gilligan sehubungan dengan masalah Dr. Kelly.

Ini berarti bahwa beberapa bulan sejak pengumuman Laporan Lord Hutton, sebuah mitos dikembangkan. Mitosnya adalah Gilligan dan BBC melakukan kesalahan yang amat serius. Tapi jelas bukan demikian halnya. Gilligan melakukan kesalahan, dan beberapa diantaranya serius, namun Lord Hutton --dan bukan BBC-- yang secara mendasar melakukan kesalahan.

Selama beberapa bulan setelah itu, BBC semestinya menantang mitos ini. Namun, dengan pimpinan penjabat sementara Ketua Dewa Gubernur, BBC malah lari bersembunyi. Begitu Lord Ryder mengajukan permintaan maaf --dengan didampingi penjabat sementara Direktur Jenderal yang cemasdi sampingnya-- tak satupun orang BBC yang diijinkan untuk mengajukan alasan yang berbeda. Hal ini berpengaruh besar terhadap integritas BBC dan juga terhadap reputasi jurnalistik di Inggris dan, lebih penting lagi, di seluruh dunia.

Dewan Gubernur BBC telah membiarkan mitos menjadi sebuah kearifan yang bisa diterima karena ketakutan bahwa membuka kembali seluruh masalah ini akan memicu kembali pertarungan dengan pemerintah, sementara sejumlah orang di tingkat manajemen --yang mengetahui seluruh cerita-- dan tercoreng selama penyelidikan Hutton, tak banyak mengungkapkan secara terbuka. Sebagai hasilnya, kesalahan yang terkandung dalam inti Laporan Hutton dibiarkan mengandung racun tanpa sama sekali diusik. Ini saatnya untuk memperbaikinya.

Kita semua tahu bahwa liputan Andrew Gilligan jelas bukan merupakan 'gunung kebohongan,' seperti yang disebutkan Tony Blair dalam pidato di parlemen tanggal 4 Februari 2004. Juga bukan '100 peresen salah' seperti disebutkan Alistair Campbell dalam suratnya kepadaku tanggal 26 Juni 2003. Kita tahu ini semua karena Kajian Lord Butler mengenai intelijen tentang senjata pemusnah massal mengatakan demikian. Ini juga berarti bahwa ketika Campbell mengatakan bahwa BBC --mulai dari Ketua Dewan Gubernur dan Direktur Jenderal sampai ke bawah-- telah berbohong, pernyataan itu jelas tidak akurat dan tidak benar, yang keluar dari seorang yang secara sengaja menyesatkan Komisi Urusan Luar Negeri Parlemen ketika memberikan kesaksian dalam masalah Dr. Kelly, dan yang sudah terkenal amat pelit dengan kejujuran..."

Pemain keliling
Greg Dyke, anak seorang pegawai perusahan asuransi, masuk sekolah Hayes Grammar School --dengan ujian masuk ketat-- namun di tahun pertama dia berada di peringkat 132 dari 132 murid di kelasnya. Setamat sekolah, Greg langsung kerja di toko sepatu sebelum loncat ke Mark Spencer dan empat bulan kemudian dia dipecat, antara lain karena memcahkan rekor dalam memecahkan biskuit ketika bertugas di gudang penyimpanan.

Pengalaman dipecat itu bukan yang pertama kalinya, karena ketika masih sekolah --saat berusia sekitar 14 atau 15 tahun-- Greg juga pernah dipecat dari pekerjaaan loper koran. Waktu itu Greg panas melihat pemilik kios koran tak pernah menyiapkan koran-koran yang harus diantarkan sehingga dia dan teman-temannya harus kerja ekstra sebelum mengantarkan koran dari rumah ke rumah. Si pemilik kios cuma tidur atau merokok. Jadi Greg mengajak kawan-kawannya mogok dengan datang telat satu jam kemudian, namun pemilik kios akhirnya menemukan provokatornya.

Setelah dipecat dari Mark Spencer, Greg menolak tawaran bekerja di perusahaan asuransi, seperti yang dianjurkan bapaknya. Lontang-lantung menganggur, Greg sekali waktu main ke koran lokal di London Barat, Hillingdon Mirror, dan karena asyik ngobrol sama editornya, dia menjadi wartawan. Walau Hillingdon Mirror merupakan tabloid, di sinilah Greg Dyke mulai terlibat dalam politik lokal Inggris dan semakin dalam ketika pindah ke koran serius, Evening Mail.

Sebagai wartawan media serius, Greg Dyke merasa perlu pendidikan tinggi dan dia masuk Universitas York, aktif di koran kampus dan pada tahun 1974 sempat menuntut koran lokal karena kasus pencemaran nama baik.

"Aku menuntut permintaan maaf dari editor York Evening Press, dan editor itu menolak karena tidak tahu bahwa yang menuntut pernah dilatih menjadi wartawan. Ujungnya, aku dapat permintaan maaf, ganti rugi untuk seluruh biaya peradilan, dan uang tunai sebesar £ 250," tulis Greg Dyke di Inside Story.

Tamat universitas, Greg Dyke kembali ke koran lokal yang lain, yang menurutnya kesalahan besar karena "aku harus melupakan semua yang aku pelajari di universitas untuk menjadi wartawan media populer." Enam bulan kemudia dia lupakan profesi wartawan dan memutuskan untuk berbuat sesuatu kepada masyarakat; sebagai pengelola komunikasi dalam Kantor Hubungan Masyrakat Dewan Kota Wandsworth. Tugasnya antara lain meningkatkan kesadaran akan hubungan antar ras, baik itu di dikalangan masyrakat maupun pemerintah.

Kontak kepada politik praktis ini mendorong Greg Dyke masuk Partai Buruh --belakangan pemerintahan Partai Buruh yang menendangnya secara tidak langsng dari jabatan Direktur Jenderal BBC. Pada tahun 1997, Greg berhasil jadi calon anggota Dewan Kota London di saat Partai Buruh sedang berada di titik nadir. Hasilnya --untuk daerah pemilihan Greg-- mayoritas Partai Buruh yang sebelumnya 4000 suara direbut oleh Partai Konservartif dengan selisih suara 7000. Musnahlah ambisi Greg di dunia politik praktis, sementara dia sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya.

"Aku harus mengakui sepenuhnya gembira dengan kekalahan dalam pemilihan itu. Aku sudah menyaksikan terlalu banyak orang yang terjun ke politik namun akhirnya kecewa dan tidak mendapatkan apa-apa."

Greg menganggur dan seorang temannya di koran lokal dulu, berhasil masuk ke program Weekend World di ITV, yang program beritanya bergengsi tapi jumlah pemirsa tipis. Greg diminta melamar jadi periset dengan jaminan dari temannya itu 'pasti lolos sampai tahap wawancara.' Tapi Greg tidak diterima dan dianjurkan jadi reporter, yang menjadi papan loncat untuk mencapai jabatan- jabatan puncak media di Inggris; Chief Executive London Weekend Television LWT, Chief Executive Pearson Television, dan Direktur Jenderal BBC.

Pada masa-masa awal di LWT, Greg Dyke, sempat menjadi perwakilan serikat buruh dan antara lain berhasil memperjuangkan fasilitas tambahan maupun kenaikan gaji 18% dari tuntutan 20%. "...ketika aku menjadi Dierktur Pelaksana pada tahun 1990 aku harus merundingkan kembali sejumlah kesepakatan aneh yang sebelumnya aku dapat dari pihak manajemen waktu aku masih jadi perwakilan serikat buruh..."

Greg Dyke juga pernah menjadi salah seorang Direktur Manchester United dan ikut menikmati kemenangan triple United tahun 1999; Liga Inggris, Piala FA, dan Piala Champion.

Tersia-sia?
Kini Greg Dyke antara lain menjadi kolumnis tetap di suplemen media Harian The Independent, yang menentang keras perang Irak dan keputusan pemerintah Inggris dalam mendukung Amerika untuk melancarkan perang Irak. Dia menulis kolom tetap, antara lain tentang proses digitalisasi dunia broadcasting Inggris, maupun tentang kebijakan BBC, yang didanai oleh iuran TV masyarakat.

Memang sudah dipastikan bahwa sampai tahun 2007 nanti, ketika berakhirnya Piagam BBC yang berlaku saat ini, BBC masih akan tetap mendapatkan dana dari iuran TV masyarakat. Namun sudah beredar wacana agar BBC dilepas sama denan saluran TV lainnya; bersaing sama kuat atau sama lemah dengan saluran TV lainnya.

BBC, jika nanti bersaing sama tinggi dengan stasiun komersial lain, rasanya memerlukan Greg Dyke, yang mengutamakan program, yang perduli pada penonton --walau banyak yang mengkritik Greg Dyke terlalu berorientasi pada rating-- dan mampu mengangkat moral para karyawan. Di masa kepemimpinannya, Greg Dyke meluncurkan program Making It Happen, sebuah lembaga yang menampung usulan karyawan, dari sekedar mengunjungi pabrik anggur, menggelar konser piano di lobby kantor, merenovasi kantor maupun membuat program radio atau TV yang unik.

Greg Dyke juga menetapkan sasaran partisipasi kelompok minoritas dalam manajemen BBC dari 2% menjadi 4% pada tahun 2003, dan 8% pada tahun 2008 --walau tampaknya sudah bukan prioritas lagi bagi manajemen paska Greg. Keterwakilan kelompok minoritas ini juga ingin dia tingkatkan dalam penampilan di layar TV BBC.

Tak lama setelah bertugas sebagai Direktur Jenderal BBC, Greg Dyke menulis email ke seluruh karyawan tentang niatnya untuk bertemu sebanyak mungkin karyawan dan mewujudkannya. Dia sempatkan antara lain berkunjung langsung ke BBC Siaran Indonesia, Siaran Vietnam, maupun Siaran Thailand sambil ngobrol singkat dengan para wartawannya.

Dengan pemerintahan Tony Blair --yang tidak menghadapi perlawanan kuat dari kubu oposisi walau kredibilitasnya sudah carut marut-- sulit rasanya bagi Greg Dyke untuk kembali ke BBC. Tapi dia pemimpin yang tampaknya diperlukan BBC dalam menuju digitalisasi; mengerti isi program, punya kemampuan manejerial, berpengalaman luas, penuh inisiatif, berani bersikap, dan --yang sama pentingnya-- bisa mengangkat semangat karyawan BBC.

Di sektor media dimanapun di dunia ini, tak banyak orang seperti Greg Dyke; seorang wartawan bagus yang menjadi manajer bagus pula.
***