ceritanet                                              
situs nir-laba untuk karya tulis
                                          edisi 88 minggu 28 november 2004,  po box 49 jkppj 10210a


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 88

sajak Sesal (Persetubuhan Ini...)
Novy Noorhayati Syahfida

sajak Kebun Ide
Ucu Agustin

komentar Serumpunku Menyapa 'Mati Dem Asal Ngetop'
Taufik Wijaya

cerpen Artis Yang Tobat (apa artinya?) Sekali Setahun
Firman Firdaus

ceritanet
©listonpsiregar2000


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Maka pergilah Yury ke stasiun Yaroslavsky untuk menyelidiki.

Antrian penumpang tak berujung bergerak lewat bangsal-bangsal turut titian antara sandaran kayu. Menggeletak di lantai batu, di bawah mereka ada orang-orang yang berbaju tentara kelabu yang batuk-batuk, meludah, berguling-guling dan bicara dengan suara yang tak terduga kerasnya, tanpa memperhitungkan bahwa ruangan berkubah di situ memperganda gema.

Kebanyakan mereka ada pasien-pasien typhus yang sering dilepas oleh rumah-rumah sakit yang penuh sesak itu, sehari sehabis krisis. Sebagai dokter, Yurypun kerapkali harus berbuat begitu, tapi tak pernah dibayangkannya bahwa sebanyak itu orang-orang celaka ini atau bahwa mereka terpaksa mengungsi ke stasiun kereta api.

"Tuan mesti dapat prioritet," tutur seorang kuli yang memakai apron putih. "Dan harus datang tiap hari untuk menanyakan apa ada kereta api. Sekarang kereta api sama jarangnya dengan emas, jadi soal untung-untungan. Dan tentunya (ibu jarinya menggeser-geser pada dua jari lainnya) sedikit tepung atau apa... Roda tak berputar tanpa minyak, yang penting lagi(ia mengetuk jakunnya) tuan tak sampai jauh kalau tak ada vodka."
***