ceritanet                                              
                                                situs nir-laba untuk karya tulis
              edisi 88 minggu 28 november 2004,  po box 49 jkppj 10210a


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 88

sajak Sesal (Persetubuhan Ini...)
Novy Noorhayati Syahfida

sajak Kebun Ide
Ucu Agustin

komentar Serumpunku Menyapa 'Mati Dem Asal Ngetop'
Taufik Wijaya

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)


ceritanet
©listonpsiregar2000


cerpen Artis yang Tobat (apa artinya?) Sekali Setahun
Firman Firdaus

Aku ini artis yang tobat sekali setahun. Sekali itu lamanya satu bulan. Sejatinya aku hanya mengikuti rekan-rekanku, yang juga tobat sekali setahun. Satu bulan pula.

Pada bulan itu aku harus tampil agak agamis, meski aku tidak begitu paham apa maksud agamis. Pakaian yang biasa ogah-ogahan menempel di tubuhku kini kubebat rapi, tak menyisa sedikit pun permukaan kulit. Aku harus tampil agamis, tak tahu aku maksudnya, demi acara televisi pada bulan orang tobat.

Dalam suatu acara talkshow, aku dianjurkan untuk menangis sambil mengenang gelimang-gelimang dosa saat aku belum tobat, sebelum bulan itu. Mudah saja aku melakukannya. Aku kan artis. Akting adalah jiwaku.

Pada bulan itu juga aku banyak mendapat tawaran sinetron. Sinetron yang agamis, tentunya, dan aku masih tidak begitu paham apa maksudnya agamis.

Aku berperan sebagai seorang anak kaya raya yang broken home, yang kurang mendapat perhatian orang tua, yang keduanya sibuk. Kemudian, begitulah naskah sinetron dalam bulan tobat, aku terjerumus ke dalam kehidupan kelam, sebelum akhirnya aku berkenalan dengan seorang pemuda gagah yang baik hati dan kuat iman, yang kemudian membimbingku menuju jalan yang , katanya, lurus (aku juga tidak terlalu paham apa maksudnya lurus).

Ceritanya berakhir bagus. Happy ending. Tidak ada adegan ciuman atau sekedar bergandeng tangan. Kubolak-balik naskah, dan kosong adegan yang biasa itu.

Bedanya lagi dengan sinetron-sinetronku sebelumnya, aku dilarang tampil dengan pakaian seksi kesukaanku. Aneh juga. Kenapa tidak boleh? Ah, mungkin karena sedang bulan bertobat. Sebelum bulan tobat toh semua oke-oke saja?

Tapi aku ikuti saja keinginan sutradara dan produser, yang penting honor lancar. Begitu batinku. Dalam sinetron tersebut aku juga diajari beberapa dialog dari kitab suci. Sulit sekali menghafalnya. Tapi aku kan artis, menghapal naskah adalah nafasku.
***

Talkshow, sinetron…Oh yaa. Di bulan orang tobat, aku juga harus memandu sebuah acara. Subuh-subuh pula, menemani orang yang makan subuh-subuh. Aku juga tidak diperkenankan memakai pakaian seksi. Pokoknya, katanya, semua harus terlihat agamis, dan aku masih tetap juga belum paham benar maknanya (atau sekedar lawannya seksi?).

Dalam acara ini aku ditemani banyak teman yang juga sedang tobat. Ada pelawak --yang paling banyak malahan-- penyanyi, juga rekan artis sinetron seperti aku. Sekali lagi, aku juga tidak tahu persis maksud acara-acara semacam ini. Intinya adalah tobat dan agamis (apakah ada saudara-saudara yang paham maksud keduanya?).

Pada bulan itu, aku agak suntuk juga sebenarnya. Diskotik tempat biasa nongkrong bersama teman sesama artis malah tutup. Tapi kalaupun diskotik buka mungkin akan kosong karena hampir semua teman sesama artis sedang ikut trend tobat.

Satu-satunya harapan untuk meneguk segelas vodka dingin harus ke hotel berbintang, yang memang agak kendor aturannya dibanding tempat hiburan lain. Aku juga tidak mengerti kenapa bisa begitu, tapi begitulah.

Ketika kutanya teman-teman, jawabnya untuk menghormati orang lain yang sedang beribadah. Malah tambah bingung aku. Apa urusan ibadah mereka dengan aku yang minum vodka? Toh aku tidak mengganggu ibadah mereka? Lagipula mengapa mesti hanya satu bulan saja menghormati orang yang beribadah? Apakah itu artinya pada bulan-bulan lain boleh tidak menghormati ibadah orang lain? Ah, aku makin bingung.

Pernah ada hari di bulan orang tobat itu aku merasa jenuh sekali. Akhirnya kuhidupkan pesawat televisi. Ya ampun. Semuanya mirip acara yang kupandu selama bulan tobat. Ke mana teman-teman penyanyi dangdut? Yang dengan seliar-liarnya memutar-mutar pantatnya di bulan sebelum bulan tobat? Aku juga kesulitan menemukan sinetronku yang baru kelar syuting. Kuutak-atik saluran, nihil.

Kudapati acara yang sama. Apa yang terjadi? Pikirku. Tapi untungnya, sejurus kemudian kutemukan juga acara musik yang bukan acaranya orang-orang yang sedang tobat bulan itu. Musik barat. Ini baru hiburan…
***

Meski rezekiku lumayan meningkat di bulan tobat, aku benar-benar ingin kembali ke keadaan normal, keadaan bukan tobat. Saat semuanya berlaku apa adanya, dan aku berhenti menjadi hipokrit. Aku ingin memandu acara yang aku ngerti, yang tidak perlu menghafal-hafal ayat kitab suci. Aku ingin berpakaian sesukaku; tanpa lengan dengan pusar menganga, dan celana jins ketat. Nyaman sekali.

Aku ingin main sinetron percintaan biasaa. Yang ada adegan cium peluk gandeng pun tak apa. Justru aku dikagumi karena peran-peran demikian.

Aku juga kepingin bisa ke diskotik lagi, tidak perlu ke hotel mewah hanya untuk menenggak bergelas-gelas vodka tonic. Lagipula, aku lebih suka pada sebelas bulan lain, saat diskotik terbuka lebar dan teman-teman sesama artis berkeliaran bebas.

Aku ingin semua berjalan apa adanya. Aku ingin acara televisi kembali seperti semula. Aku rindu teman-teman penyanyi dangdut yang membakar berahi-berahi lelaki dengan goyangan dahsyat dan celana ketat yang menyembulkan pantat padat. Inilah hiburanku sejatinya. Aku juga ingin teman-teman sesama artis kembali berpakaian seperti sedia kala.

Dan menjelang akhir bulan orang-orang tobat, aku mendapat undangan wawancara untuk berita selebritis. Aku terima dengan senang hati. Bukankah wawancara teve merupakan jalan penting bagi seorang artis sepertiku untuk menyulam tenar?

Pertanyaan-pertanyaan masih di seputar bulan tobat dan artis tobat.

“Mbak, apa mbak akan terus menggunakan pakaian tertutup atau nanti kembali seperti sedia kala?”

“Yah, sekali tobat dalam satu tahun kan lebih baik daripada tidak sama sekali?” jawabku. Padahal aku masih belum pasti benar apa itu tobat sejatinya (apakah ada saudara-saudara yang tahu?)
***
Jakarta, 25 Oktober 2004