ceritanet                                              
   situs nir-laba untuk karya tulis                                                   edisi 87 kamis 18 november 2004,  po box 49 jkppj 10210a


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 87

sajak Pemandangan Senja, 1
Pedje

sajak Melukis Garis Merah
Dino F. Umahuk

komentar Film, Antara Budget dan Kreatifitas
Harry Mulyawan


ceritanet
©listonpsiregar2000


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Akhir Bulan Maret. Seperti biasanya, beberapa terakhir bulan ini adalah hari-hari pertama yang panas dalam tahun ini, musim semi palsu yang diikuti oleh taraf yang lebih dingin.

Keluarga Zhivago berkemas-keamas untuk berangkat. Guna menyamar sebab-musabab kesibukan, bertuturlah mereka pada para penyewa yang kini menunggu bahwa flat lagi dibersihkan untuk menghadapi Hari Paskah.

Yury tak menyetujui perjalanan. Sampai sekarang ia mengira tak akan terjadi apa-apa dan karena itu ia hanya sepintas-lalu menyatakan keberatannya, tapi rupa-rupanya tibalah waktunya bagi dia untuk pengucapan apa yang benar-benar dipikirnya.

Dibuatnya itu dalam tukar pikiran sekeluarga antara dia sendiri, Tonya, dan ayahnya. "Kamu berpendapat aku salah?" tanyanya akhirnya. "Kamu masiyh ingin bepergian.?"

"Menurut kau kita harus berusaha sedapat mungkin tahun-tahun berikutnya," ujar Tonya, " sampai sistem baru tentang penyewaan tanah terbentuk dan kita bisa dapat tanah untuk menanam sayur-sayuran di luar Moskow. Tapi bagaimana kita akan betah salama itu? Itulah masalah yang betul-betul menarik dan kau belum menjawab."

"Gila benar," ayahnya menyokongnya.

"Baiklah, Yury mengalah. "Yang mengangguku ialah ketidak-tentuan. Kita pergi membuta, ke dalam gelap, ke tempat yang belum kita kenal apa-apanya. Dari tiga orang yang tinggal di Varykino, ibu, dan nenek sudah meninggal, sedangkan kakek ditahan sebagai sandera, andaikata ia masih hidup.

"Kamu maklum, tahun terakhir dalam perang ini ia mengadakan semacam penjualan, dijualnya hutan-hutan dan pabrik-pabrik, ataupun bukti miliknya itu ditulis atas nama orang lain, bank atau orang partikelir, entahlah. Sebetulnya kita tak tahu apa-apa. Tanah itu tanah siapa? Bukan maksudku kepunyaan siapa, aku tak ambil pusing tentang itu, tapi siapa yang bertanggung-jawab? Siapa yang menyelenggarkannya? Apakah pohon-pohon sedang ditebang? Pabrik-pabrik bekerja, tidak? Dan yang terpenting siapakah yang berkuasa di bagian tanah air di situ, atau lebih tepat, siapa akan berkuasa pada saat kita tiba di sana?

"Kau percaya bawah Mikulitsin, pemimpin tua itu akan menolong kita, tapi siapa dapat mengatakan bahwa ia masih di sana? Bahkan bahwa ia masih hidup? Bagaimanapun juga, apa yang kau ketahui tentang dia selain namanya saja --itupun kita ingat hanya karena kakek kepayahan melafaskannya."

"Tapi akupun tak akan menimbulkan kesulitan saja. Kamu telah bertekad dan aku sudah setuju. Tak ada alasan menundanya. Kita cuma harus mengetahui bagaimana cara orang bepergian sekarang."
***bersambung