ceritanet                                              
   situs nir-laba untuk karya tulis                                              edisi 87 kamis 18 november 2004,  po box 49 jkppj 10210a


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 87

sajak Pemandangan Senja, 1
Pedje

sajak Melukis Garis Merah
Dino F. Umahuk

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)


ceritanet
©listonpsiregar2000


komentar Film, Antara Budget dan Kreatifitas
Harry Mulyawan

Ada sebuah cerita menarik. Waktu itu saya tengah duduk santai di depas kelas sebuah kursus presenter. Seorang peserta kursus duduk di samping dan kami mulai terlibat pembicaraan mengenai film.

Peserta kursus itu bertanya, “Kenapa sih orang nggak bikin film yang kayak Ada Apa dengan Cinta? Bikin sinetron aja bisa yang biayanya ratusan juta aja bisa. Banyak lagi.”

Saya hanya tersenyum. Membandingkan film dengan sinetron seperti membandingkan langit dengan Bumi. Bukannya ingin menuduh sinetron jelek, tidak. Ada juga sinetron yang digarap dengan baik.

Kembali pada pertanyaan kenapa tidak banyak orang yang ingin membuat film?
Sebuah pertanyaan yang mudah dengan jawaban sulit. Dari hasil bincang-bincang santai dengan beberapa filmmaker, saya memiliki kesimpulan jika membuat film itu sama dengan berjudi.

Sebuah produksi sinetron rata-rata berbudjet antara 50-250 juta rupiah per episode tergantung pada ketenaran bintang-bintang yang bermain serta yang mejadi sutradara serta penulisnya.

Sementara biaya untuk memproduksi sebuah film seperti AADC Miles menghabiskan dana sekitar 3 milyar rupiah untuk ongkos produksi dan 2 milyar untuk biaya promosi. Sementara Eifel I’m In Love menghabiskan total 7 milyar. Untungnya mereka mendapatkan untung 25 milyar hingga 27 milyar.

Jika film mereka jarang penonton, jelas mereka akan merugi dan gulung tikar jadi gembel. Membuat film Indonesia dengan tema yang disukai adalah hal wajar mengingatkan besarnya uang yang mereka pertaruhkan. Maka tema-tema seperti cinta, komedi dan horor menjadi tema utama dalam membuat film karena tema itu terbukti mampu menarik penonton.

Semua biaya di atas adalah hitungan yang normal, melihat bahan baku dan peralatan yang digunakan serta set dan lokasi yang dipakai. Satu can (1 gulungan rol film) 35mm dengan panjang 400feet dan durasi 4 menit seharga 4 juta rupiah. Hitung saja jika ingin membuat film durasi 1 jam, maka butuh 15 can. Kemudian dikali perbandingan 1:4 atau 1:3 karena tiap kali shooting pasti ada kesalahan. Jika memakai 1:4 maka 15 can butuh 60 can, dikali 4 juta maka untuk bahan baku menghabiskan biaya 240 juta.

Belum termasuk sewa alat seperti kamera seluloid, lampu dan sewa lokasi, honor crew dan sutradara, ditambah biaya persiapan sebelum shooting seperti hunting lokasi, biaya mengadakan casting dan sebagainya serta biaya paska produksi untuk editing, pengisian ilustrasi musik dan proses cetak film yang biasanya besar.

Mendapatkan dana sebesar itu jelas merupakan mimpi di siang bolong bagi para filmmaker pemula. Tetapi dengan adanya revolusi digital banyak membantu para filmmaker dalam menekan ongkos produksi film.

Dengan kamera digital kita sudah dapat membuat film yang kemudian di blowup ke dalam pita 35 atau 16 mm dengan teknik kine transfer yang sekarang sudah bisa dilakukan di Indonesia membantu menekan biaya dan menghasilkan film dengan kualitas yang hampir setara dengan film seluloid standar.

Banyak filmmaker yang menyiasati dengan cara seperti ini seperti yang dilakukan Nia Dinata dalam Arisan, Biarkan bintang Menari produksi TransTV, Biarkan aku menciummu sekali lagi oleh Garin, Jaelangkung dan banyak lagi.

Dalam penggunaan set dan property dengan mengadakan kerjasama dengan pihak-pihak tertentu , kembali untuk menekan ongkos produksi. Syukur-syukur gratis karena teman sendiri.

Dalam membuat film dibutuhkan proses panjang dan butuh persiapan yang matang sebelum shooting yang disebut mise en scene mulai dari analisis naskah, hunting lokasi, script conference, perekutan crew hingga artisnya, disain produksi dan post pro-nya, meleset sedikit biaya akan membengkak. Sedangkan di sinetron proses ini umumnya diabaikan mengingat adanya sistem kejar tayang yang jelas-jelas menekan para sineas pembuatnya untuk bekerja cepat asal selesai dan jadi.

Bila sebuah film jadi tidak otomatis dengan mudah tayang dibioskop. Sudah menjadi rahasia umum jika 21 sebagai pemegang jaringan bioskop terbesar di Indonesia tidak banyak membantu menghidupkan film Indonesia. Butuh sebuah negosiasi yang alot dan kuat untuk dapat menembus jaringan bioskop tersebut dan sebuah film ditayangkan di seluruh Indonesia. Banyak yang menudiang 21 hanya meminta prosentase keuntungan yang besar tapi tidak ingin menanggung kerugian yang terjadi.

Harus diakui film merupakan industri yang padat modal. Di Hollywood sendiri pembuatan film membutuhkan biaya antara 10 juta hingga 300 juta dollar Amerika untuk menjadi film yang tergolong baik. Jumlah ini merupakan angka yang fantastis.
Wajar jika film-film Amerika sangat baik dari segi sinematografis, editing, art directing (set, kostum, make up, property hingga spesial effects) dan acting karena di dukung dana yang sering kali tidak terbatas.

Bicara tentang kreativitas dalam filmaking secara luas, yaitu membuat sebuah tayangan audio visual yang dibuat dengan kaidah sinematografis maka tayangan seperti iklan dan video klip merupakan film pula.

Penulis sering terhenyak menyaksikan kreativitas para pembuat video klip. Seperti yang dilakukan oleh The Jadugar, kumpulan anak-anak senirupa IKJ yang ‘membelot’ bikin video klip dan kelompok Cerahati.

Secara sinematografis klip yang dibuat sering kali kalah kualitas karena mereka menggunakan kamera digital dibandingkan dengan video klip yang dibuat dengan menggunakan Beta Cam seperti yang digunakan Rizal maupun Dimas Jay, apalagi klip penyanyi luar yang memakai seluloid.

Akan tetapi kreativitas yang mereka buat seringkali sangat unik dan orisinal. Sering kali mereka sengaja merusak kualitas gambar untuk mendapat unsur art. Sering juga mereka menggunakan teknik editing menghasilkan hasil klip yang maksimal.

Hal ini kembali untuk menyiasati dana yang terbatas karena rata-rata video klip yang mereka buat adalah dari band-band Indie tapi bila dibandingkan dengan klip-klip dari negara tetangga, klip-klip Indonesia secara konsep sama bagusnya dengan klip dari luar.

Akhirnya harus diakui jika keterbatasan seringkali melahirkan kreativitas yang brilian sepanjang kita terus mau maju.
***