novel Dokter
Zhivago
Boris
Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)
Ia mulai sembuh. Mula-mula
ia terima saja segala-galanya seperti orang setengah sinting. Ia
tak ingat apa-apa, tak melihat hubungan antara yang satu dengan yang
lain, pun tak heran akan apa-apa. Istrinya memberinya roti putih
dan mentega dan teh manis; ia memberinya kopi. Ia sudah lupa bahwa
tak ada barang-barang semacam itu, maka dinikmatinya cita rasanya
seperti puisi atau dongeng, seperti hal yang baik dan sepantasnya
bagi orang sakit yang sedang sembuh. Tapi tak lama kemudian ia mulai
berpikir dan heran.
"Bagaimana kau
dapatkan semua ini?" tanyanya kepada Tonya.
"Granya mendapatkannya untuk kita."
"Granya siapa?"
"Granya Zhivago."
"Granya Zhivago?"
"Ya, adikmu Yevgraf dari Tomsk. Adik tirimu. Ia datang tiap hari selama
kau sakit."
"Dia pakai jas kulit kijang?"
"Betul. Jadi kau lihat juga dia. Kau tak sadar hampir sepanjang waktu. Katanya
ia kepergok kau di tangga dalam sebuah rumah, Ia kenal kau --maksudnya menegurmu
tapi kau bikin dia takut setengah mati. Dipujanya engkau, ia baca tiap kata yang
kau tulis. Apa saja ia berikan pada kita! Beras, kismis, gula! Sekarang ia pulang.
Ia ingin kita ke sana pula Ia anak aneh, agak berteka-teki. Kupikir ada hubungannya
dengan pemerintah. Katanya kita hendaknya menyingkir untuk satu atau dua tahun,
mengungsi dari kota-kota besar, "baliklah ke dusun" untuk sementara,
ujarnya,. Kukenangkan tanah Kruger. Sudah kutanyakan pendapatnya, jawabnya itulah
gagasan yang baik sekali. Kita akan dapat menanam sayur-sayuran, pun ada hutan
di sekitar kita. Tak ada makanannya, kalau mati tanpa berjuang, macam domba."
Bulan April tahun
itu Zhivago bersama seluruh keluarganya berangkat ke bekas tanah
milik Varykino dekta kota Yuryatin, jauh di derah Ural.
***bersambung