ceritanet                                              
situs nir-laba untuk karya tulis                                                        edisi 86 sabtu 6 november 2004,  po box 49 jkppj 10210a


tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

proyek buku
Belajar dan (atau) Bekerja

tulisan edisi 86

esei Rekonsiliasi dan Tragik Spanyol
Aboeprijadi Santoso

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak





cerpen Dari Sunan Kuning ke Pasar Kembang
Liston P. Siregar

Dua pil alergi Ambien, yang mengandung obat tidur, 18 halaman Dokter Zhivago, sisa beban bergadang deadline, plus perdebatan yang melelahkan, melempar Humala telak ke pusat mimpi di Hotel Freedom, sekitar satu kilometer dari pelabuhan Dili, Timor Timur. Rongrongan suara mesin AC di atas jendela kamar langsung berubah jadi alunan mesin kapal yang terbuai ombak di Laut Jawa.

Dia bermimpi ketemu Xanana Gusmao di pintu gerbang kompleks pelacuran Sunan Kuning, Semarang. ‘’Saya sedang mencari Ramos Horta,’’ katanya. Humala tertawa lepas; ‘’Komandante pasti bercanda. Kalau mencari Ramos Horta bukan di sini, tapi di Kantor PBB Jenewa sana atau di Australian National University.”

“Saya serius,” kata Xanana sambil mengelus-ngelus janggutnya dan mengamati dengan seksama orang yang keluar satu persatu. Itu urusan dialah, pikir Humala. Tapi pas Humala mau melangkah masuk, muncul Wiranto, dengan baju batik dan topi hijau bergambar Garuda Indonesia di depannya, didampingi Eurico Guterez, yang berpakaian loreng coklat tanah.

Humala pun langsung berteriak keras ke Xanana. “Lupakan saja Ramos Horta, Komandante. Ini Wiranto sama Guterez lebih penting.”

“Ah bung tahu apa. Saya bukan Komandante tapi Presidente. Sudah bung pergi saja sana melonte,” teriak Xanana lebih keras lagi sambil pura-pura tidak melihat Wiranto dan Guterez, yang juga pura-pura tidak melihat Xanana ketika lewat begitu saja di depan matanya.

Humala naik pitam dan berbalik mau menghantam Xanana Gusmao. Wiranto dan Guterez memang urusan Xanana, tapi dia terhina berat karena datang ke Sunan Kuning bukan mau melonte, tapi mencari Tony Blair –walau seorang teman sudah sejak awal tertawa mengejek; “kalau mencari Tony Blair ya pergilah ke Downing Street di London sana atau ke Gedung PBB New York.”

“Tapi itu urusankulah,” tegasnya, “yang jelas bukan mau melonte.”

Diraihnya potongan batu bata di dalam pot bunga plastik mawar merah, persis di tepi pintu gerbang Sunan Kuning, tapi tiba-tiba sirene mobil polisi berdering-dering memekakkan telinga.

Wekernya; pukul 15.30 waktu Timor Lorosae. Satu jam lagi wawancara di Yayasan Timor, tapi masih ada lima hari sebelum deadline berikut.
***

Habis mandi air dingin, aliran darah di kepala Humala mengalir lembut, dan dia tenggak satu botol Powerade rasa strawberry dari kantin hotel, seharga dua setengah dollar Australia –'anjing Australia, dua setengah dollar untuk sebotol minuman' makinya dalam hati. Tapi Powerade itu berhasil mengembalikan penuh kesadarannya .

Dia mengaso di salah satu bangku di halaman depan hotel yang siang itu kosong, selain seorang pelayan perempuan muda impor asal Filipina yang duduk tak bernyawa di meja kasir. Ia lepas saja matanya jauh ke horizon laut biru yang bersih dan lenggang, di seberang jalan. Penerbangan sekitar empat jam dari Jakarta ke Dili terasa amat melelahkan karena perdebatan tak berfokus dengan mahasiswa yang duduk di sampingnya –‘siapa pula nama anak itu...’ Humala berjuang keras mencoba mengingat namanya.

Dan runyamlah rencana tidur panjangnya di pesawat untuk membayar hutang begadang 24 jam suntuk sehari semalam sebelumnya.

“Bang Humala Gultom kan? Saya dulu pembaca setia Waktu,” kata anak itu langsung memulai pembicaraan begitu dia tiba di kursinya, bahkan ketika belum usai meletakkan lap top di kabin atas.

Humala tak sampai hati untuk langsung memutus pembicaraan, sambil mengaku agak sedikit senang dikenal salah seorang pembaca Waktu –‘bangga jugalah awak sikit,’ pikirnya.

Setelah pembicaraan basa-basi perkenalan yang masih bisa ditolerir dengan informasi secukupnya –Humala mau meliput nasib aset warga Indonesia paska kemerdekaan dan anak itu mau jadi sukarelawan di sebuah ornop di Los Palos, kota paling Timur di Pulau Timor— ada harapan pembicaraan terhenti.

Nyatanya anak itu malah menggugatnya.

“Waktu kayaknya kehilangan arah ya Bang?”
” Ah nggak juga,” katanya malas-malasan.

”Saya kira Waktu sekarang terlalu mata duitan, sampai tulisan sponsor saja dimakan.”
“Ah nggak juga,” Humala menanggapi biasa, karena itu jugalah pendapat hampir 93 % wartawan Waktu sekitar dua tahun belakangan --kecuali Pemred, Wakil Pemred, Redaktur Senior, dan Koordinator Liputan. Toh tak ada juga yang bisa dilakukan 93 % kelompok wartawan itu.
“Saya dulu pembaca setia Waktu, tapi sejak kasus Gus Dur digulingkan, saya muak dengan Waktu.”

“ Oh ya,” balas Humala makin tidak perduli sambil mengambil Dokter Zhivago dari tas ranselnya di kaki kursi, sebagai isyarat jelas; ‘marilah kita hentikan perdebatan yang bakal melelahkan dan tak akan kemana-mana ini.’

Tapi mahasiswa itu –‘lupa pula aku namanya’ keluh Humala – hampir pasti tak akan melepaskan kesempatan melepaskan unek-uneknya, tentang sebuah majalah berita mingguan yang tampaknya pernah dia puja sebelum menjelma menjadi kemuakan.

“Waktu menulis profil SBY dan Wiranto begitu kering, tanpa pemahaman demokratisasi masyarakat sipil sedikitpun. Tidak ada visi sedikitpun,” katanya sambil memandang tajam, jauh ke dalam bola mata Humala.

” Lha, jadi anda masih baca juga,” jawab Humala sedikit tersenyum, mencairkan argumentasi yang selama dua tahun belakangan sudah mengalami degradasi dari sebuah cita-cita, kehormatan, dan harga diri menjadi kopong tak bermakna dan tak bernyawa karena kehidupan praktis sehari-hari. Visi pemberitaan sudah tinggal memorabilia bagi dia dan teman-teman wartawannya. Jadi dia buka halaman pertama Dokter Zhivago, tentang tokoh-tokoh pentingnya. Humala tak pernah akan bosan mengulang tuturan-tuturan halus terjemahan Trisno Sumardjo.

“Saya membaca Waktu untuk membuktikan kemuakan saya. Bagaimana mungkin menulis profil Wiranto tanpa menyinggung sedikitpun kerusuhan Mei 1998, Pamswakarsa, dan Timor Timur. Itu membodohi masyarakat, Bang. Oklah, kalau SBY cuma kasus 27 Juli yang terangkat ke khalayak umum walau di belakangnya banyak yang bisa dikorek. Tapi Wiranto tanpa kerusuhan 1998, tanpa Panglima TNI yang mengadu domba masyarakat sipil dengan masyarakat sipil lainnya, tanpa penghancuran sistematis Dili. Jelas tak perlu memvonis, tapi masak sekedar merelasikan sajapun tidak… Kemane aje Bang?”

“ Terus mau apa?” tantang Humala mulai lelah dan kesal.
“Maksud saya bukan Bang Humala, tapi kenapa Waktu, yang selama puluhan tahun menempatkan diri sebagai lembaga demokrasi tiba-tiba jadi pragmatis dan menghalalkan segala cara, hanya karena Suharto pura-pura menjatuhkan diri.”

"Apanya yang menghalalkan segala cara? Bisnis media harus menguntungkan, supaya bisa menggaji karyawannya, supaya 500 orang tidak kehilangan pekerjaan, supaya 1500 orang, termasuk anak istri yang 500 orang tadi, tidak mati kelaparan.”

“Tapi kalaupun tidak ada tulisan sponsor masak iklan berpuluh halaman masih kurang juga untuk bisnis yang sehat.”
“Tulisan yang mana yang kau bilang bersponsor.”
“Sudahlah Bang, masak kita harus pura-pura tidak tahu.”
“Kau ini yang tak jelas. Tadi bilang sudah muak baca Waktu tapi kau sekarang malah analisa isi berita-berita Waktu,” sindir Humala sebagai upaya kesekian menutup perdebatan.
***

“Do you want another drink?” Tiba-tiba pelayan Filipina yang duduk di meja kasir sudah berdiri persis di depannya. Humala pura-pura tidak mengerti dan pasang muka bodoh –‘untuk pelayan saja si pemilik hotel orang Australia harus mengimport cewek-cewek Filipina,’ keluhnya.

“More drink?” ulang pelayan Filipina itu dengan suara tinggi dan isyarat tangan meneguk minuman ke mulutnya.

Humala menggeleng sambil menajamkan sedikit bibirnya, dan melepas kembali matanya, jauh ke seberang jalan, ke seberang lautan, seperti melihat sebuah kehidupan yang lain; kehidupan yang punya media massa yang tidak pandang bulu menyikat habis penipuan politik atas nama rakyat. Entah dimana.

Diusapnya ceruk matanya dengan sisa-sisa embun dingin di dinding botol Powerade, dan matanya terasa lebih ringan. Masih ada setengah jam lagi sebelum wawancara dengan Direktur Yayasan Timor. Panas yang terik membuatnya berat bergerak. Pantatnya melekat ke bantalan kursi tipis, dan matanya terikat ke laut biru lepas di seberang jalan.
***

“Oklah Bang, soal tulisan sponsor kita singkirkan dulu. Tapi masak menulis pemilihan umum atau pemilihan presiden dengan kerangka pesta hura-hura. Dibuatlah profil tiap partai, profil tiap capres, prediksi kemenangan, ulasan koalisi, perilaku pemilih, terus ada iklan partai dimana-mana, iklan capres dimana-mana. Bukannya tugas Waktu mendidik masyarakat pemilih, menegaskan bahwa pemilihan umum ini tidak akan membawa Indonesia kemana-mana, partai apapun yang menang dan siapapun presidennya. Kalau cuma hura-hura, gambar warna-warni, ya itu namanya majalah kuning,” rentetan masalah baru berlompatan keluar dari mulut mahassiwa itu, seperti kotak pandora.

“Jadi maumu Waktu mengajak semua orang golput?” tantang Humala menutup sampul Dokter Zhivagonya.
“Mana mungkin Waktu berani…” balasnya tertawa lepas, sedikit menghina.
“Jadi mestinya bagaimana.”

“ Menjelaskan bahwa partai-partai yang ada sekarang adalah partai yang sarat dengan bau korup. Tidak usah memvonis karena itu bukan tugas media, tapi sekedar mengingatkan Kasus Danatera Bulog tentang kemana persisnya uangnya dipakai, mewawancarai hakim agung dalam kasus Akbar yang dulu membuat catatan tidak setuju, mengungkap dugaan kasus suap anggota-anggota DPRD PDI-P di banyak propinsi, mempertanyakan asal usul dana PAN. Coba Bang Humala… darimana dana PAN itu. Kita tidak usah berprasangka dulu, sekedar bertanya saja dan mencari jawabannya. Itu yang PAN. Kalau Wiranto, sebut sajalah dulu kekeliruan Wiranto atau ketidak-mampuanya, apa kurang peristiwa 1998, Timor Timur, dan jangan lupa Bang, konflik antar agama Ambon itu di jaman Wiranto juga, gagal kan dia menyelesaikannya. Terus bagaimana kinerja Megawati, apa yang sudah dicapainya, dan apa tidak urgen mengangkat militerisme SBY, menelusuri inkonsistensi Amien Rais dari sejak Ketua Muhammadiyah dulu, masuk ke PAN 1999 terus PAN era 2004-an sampai berpasangan dengan Siswono sekarang. Jadi ada sebuah upaya menyadarkan masyarakat pemilih. Bahwa mereka kemudian memutuskan golput atau tetap memilih, ya biarkan rakyat yang menentukan. Tapi sebuah media massa, yang benar, harus menjelaskan latar belakangnya kepada rakyat.”

Humala diam, membuka kembali halaman pertama Dokger Zhivago, mencoba menemukan kata terakhir yang dia baca sebelumnya. Tapi tak berhasil ia temukan, jadi diulangnya kembali baris pertama tentang tokoh-tokohnya; Zhivago, Yury Andreyovich, Yura, Yurochka, Paman Yury Zhivago.

Dia lelah mengulang kembali perdebatan yang itu-itu juga selama dua tahun belakangan, yang diperdebatkan di kantin, di ruang rapat, di koridor kantor, di lift, di perpustakaan, dimana-mana. Dan lintasan waktu pulalah yang membuat soal itu menjadi hambar; seonggok nasi basi yang tidak bisa dibuang, juga tak bisa dimakan. Teronggok, terlewatkan, terabaikan, terlupakan, tapi nasi basi itu tetap di sana menyebarkan bau busuknya kemana-mana.

“Bukan saya menekan Bang Humala. Terus terang tulisan Bang Humala masih Oklah, paling tidak masih mencoba menyentil-nyentil dikit. Tapi tulisan utama, pasti kering. Mengejek memang masih bisa, tapi tanpa pendalaman. Begitulah Waktu di jaman paska Suharto sekarang. Persis seperti koran kuning, kalau sedang tidak menjilat pastilah mencerca.”

“ Jadi kau ini memang tidak membaca Waktu lagi, tapi mengamatinya,” sindir Humala, tapi dengan sedikit nada berdamai, berkompromi.

“ Soal harapan sebenarnya Bang. TV tak akan bisa diharapkan karena sifatnya memang terlalu komersial, koran juga tak mungkin lagi karena persaingan makin kencang dan motif utama tinggal menjual berita. Waktu masih pemain utama di mingguan, dan kalaupun lebih cerdas, lebih mendalam seperti dulu, tak akan kekurangan iklan, tak akan bangkrut secara komersial. Masalahnya kenapa Waktu sekarang ikut melacur, padahal dulu tidak dan toh bertahan hidup dengan sejahtera. Kalau koran Pengarah memang dari dulu kerjanya jilat pantat Suharto dan sampai sekarang semua dijilat. Tujuannya memang sebagai konglomerat yang kemana-mana maju terus, tapi ya terus menjilati. Sedang Waktu lain kasusnya, dari sebuah pranata demokrasi menjadi pelacur kelas tinggi, dan tragisnya merasa heroik lagi. Kalau Waktu sudah melacur juga, tak ada lagi yang bisa diharapkan untuk penyadaran massa. Makin terpuruk dan terhinalah bangsa Indonesia kita,” tambah mahasiswa itu.

Humala diam lagi, menatap kosong sandaran kursi di depannya. Halaman satu Dokter Zhivago masih terbuka di pahanya.

“Benar nggak Bang?”
“Ya ada benarnya, tapi tidak semudah itu kawan,” balas Humala mencoba mencairkan kembali persoalan.
“Buat saya mudah Bang.”
“Buatku tidak, karena aku tidak punya saham satu lembar pun di sana. Aku cuma satu dari 500 karyawannya.”
“Tapi kan bisa mengangkat masalah itu, mengusulkannya, merentangkannya sehingga semua Direktur Waktu sadar kalau keuntungan 20 milyar dengan 15 milyar tak ada artinya demi pengembangan sebuah bangsa. Masak Bang Humala yang sudah termasuk senior tidak didengar suaranya. Mungkin soalnya sudah jadi rutin. Orang memang gampang jadi kebal atau bebal karena rutinitas, karena kemapanan,” mahasiswa itu menolak untuk mencairkan persoalan."

“ Repot kita kalau sudah bicara bangsa… Tapi kau sendiri kenapa tidak jadi wartawan, dan memperbaiki dari dalam.”
”Memang dulu aku sempat mau jadi wartawan. Biarpun anak Biologi, tapi aku mau jadi wartawan, cuma lama-lama aku muak lihat media, jadi aku bunuh rencana itu. Lebih bagus langsung terjun untuk advokasi masyarakat. Kelompok kecil tapi efektif walau mainnya panjang karena tak bisa langsung ke massa seperti pers.”
”Nah kenapa kau tidak advokasi kesadaran media masyarakat. Memberdayakan rakyat supaya tidak membeli media yang cuma bermotif komersial. Membangun masyarakat pers yang kritis dan mencela pers yang kau bilang makan sponsor tapi membeli rame-rame pers yang memberi penjelasan mendalam. Coba kalau semua orang kayak kau, pastilah media berlomba-lomba memberi pendalaman materi?” tantang Humala.

“ Bisa juga, tapi panjang jalannya. Kalau Waktu kan sudah tersedia, dan paling tidak menjadi alternatif sajalah, ada pilihan bagi orang untuk mendapat yang lain. Kita tidak mau mendikte rakyat, tapi memberi pilihan, memberi alternatif. Dan menurut saya Waktu punya peluang dan potensi untuk itu. Yakinlah Bang, brand image Waktu masih kuat, jadi kalau dia kembali ke idealisme pemberdayaan masyarakat sipil, pastilah tidak akan rugi. Untung memang berkurang, tapi pasti masih untung.”

“ Kau ini maunya Waktu itu mengubah semuanya, sementara kau lupa prinsip dasar berbisnis.”
”Saya ngerti, tapi ada yang namanya corporate responsibility. Tanggung-jawab perusahaan untuk tidak sekedar mencari keuntungan sebesar-besarnya tapi memberi ke masyarakat. Kalau memang mau cari untung, kenapa Waktu tidak ganti saja jadi majalah khusus sinetron, pasti untungnya lima kali lipat. Soalnya sekarang adalah sekedar kembali ke khittah saja. Waktu punya sejarah, punya peluang dan juga potensi untuk menjadi berbeda dan bermakna. Itu sudah pasti, cuma memang komitmen sudah luntur dan visi pun sudah lenyap. Disayangkan, disesalkan.”

Humala sempat tergoda untuk menjelaskan panjang lebar tentang posisinya, bersama puluhan teman-temannya yang lain. Tentang perdebatan yang sudah mereka mulai dua tahun lalu, yang selalu mental di tembok tak berkuping, yang dimentahkan dengan keangkuhan perhitungan pendapatan kotor sekitar 2 milyar rupiah setiap bulannnya, tentang sekrup-sekrup di sebuah mesin besar yang efektif dan dingin; sekrup-sekrup yang tak banyak artinya, yang bisa digantikan kapan saja. Bahkan juga tentang dampak dari pensekrupan elemen-elemen jurnalisme ke dalam sebuah mesin bisnis, yang membuat bahwa sekedar profesionalisme saja menjadi terlalu sulit untuk diwujudkan, atau membuat pemikiran akal sehat yang paling sederhana sekalipun jadi sia-sia.

Dia capek, dan pingin tidur panjang.

“Mungkin masalah rutinitas, kemapanan. Dan itulah taktik Orde Baru dulu. Begitu ekonomi hancur barulah semuanya bangun, itupun cuma sebentar,” mahasiswa itu menegaskan inti gugatannya.
“Kau sudah kawin belum?” tanya Humala berupaya membebaskan diri dari perangkap si mahasiswa.
“Hehehe… Itu alasan lama. Kalau sudah kawin, sudah punya anak, pasti orang berubah. Idealismenya luntur, cara pandangnya lain… Aku belum kawin memang, tapi kalaupun sudah kawin pasti begini terus Bang,” jawab mahasiswa itu tesenyum kecil. “Tapi percayalah, saya bukan menggugat Bang Humala, tapi mengecam Waktu sebagai lembaga yang tamak, yang mata duitan, yang membodohi rakyat demi uang, sama dengan koruptor-koruptor lainnya” tambahnya.
***

Telepon tangan Humala berdering. Diliriknya monitor; Yayasan Timor. Dimatikannya telepon itu, diangkatnya pantatnya dari bantalan kursi dan kembali masuk kamar. ‘Masih ada lima hari lagi,’ celutuknya dan menelan lagi dua butir Ambien.

Dan Humala bermimpi lagi; dia bertemu mahasiswa itu, yang dia masih saja lupa namanya, di kompleks pelacuran Pasar Kembang, Yogyakarta.

“Mau kemana Bang,” tanya mahasiswa itu di gerbang masuk Pasar Kembang.
“Ah cuma mau melonte sebentar,” jawabnya ringan sambil matanya melototi kamar-kamar di kompleks pelacuran itu.
”Jangan kelamaan Bang, nanti lupa kerjaan,” tegur mahasiswa itu.
“Beres. Kau sendiri ngapain di sini,” tanyanya.
”Ah, cuma mau lihat siapa yang masuk dan siapa yang keluar.”
“Apa banyak yang masuk tapi tak keluar lagi?”
”Banyak, makanya tadi aku ingatkan Bang.”

Telepon tangan Humala berdering lagi, tapi di mimpi Humala dering itu terdengar sebagai lullaby yang disenandungkan seorang pelacur Pasar Kembang, yang sebelum bioskop Studio 21 berdiri bekerja sebagai sinden. Indah dan menyerap masuk ke dalam hati.

Jadi Humala pun meneruskan mimpinya. ***

ceritanet
©listonpsiregar2000