cerpen Dari
Sunan Kuning ke Pasar Kembang
Liston
P. Siregar
Dua pil alergi Ambien,
yang mengandung obat tidur, 18 halaman Dokter Zhivago, sisa beban
bergadang deadline, plus perdebatan yang melelahkan, melempar Humala
telak ke pusat mimpi di Hotel Freedom, sekitar satu kilometer dari
pelabuhan Dili, Timor Timur. Rongrongan suara mesin AC di atas jendela
kamar langsung berubah jadi alunan mesin kapal yang terbuai ombak
di Laut Jawa.
Dia bermimpi ketemu Xanana Gusmao
di pintu gerbang kompleks pelacuran Sunan Kuning, Semarang. ‘’Saya
sedang mencari Ramos Horta,’’ katanya. Humala tertawa
lepas; ‘’Komandante pasti bercanda. Kalau mencari Ramos
Horta bukan di sini, tapi di Kantor PBB Jenewa sana atau di Australian
National University.”
“Saya serius,” kata
Xanana sambil mengelus-ngelus janggutnya dan mengamati dengan seksama
orang yang keluar satu persatu. Itu urusan dialah, pikir Humala.
Tapi pas Humala mau melangkah masuk, muncul Wiranto, dengan baju
batik dan topi hijau bergambar Garuda Indonesia di depannya, didampingi
Eurico Guterez, yang berpakaian loreng coklat tanah.
Humala pun langsung berteriak keras
ke Xanana. “Lupakan saja Ramos Horta, Komandante. Ini Wiranto
sama Guterez lebih penting.”
“Ah bung tahu apa. Saya bukan
Komandante tapi Presidente. Sudah bung pergi saja sana melonte,” teriak
Xanana lebih keras lagi sambil pura-pura tidak melihat Wiranto dan
Guterez, yang juga pura-pura tidak melihat Xanana ketika lewat begitu
saja di depan matanya.
Humala naik pitam dan berbalik
mau menghantam Xanana Gusmao. Wiranto dan Guterez memang urusan Xanana,
tapi dia terhina berat karena datang ke Sunan Kuning bukan mau melonte,
tapi mencari Tony Blair –walau seorang teman sudah sejak awal
tertawa mengejek; “kalau mencari Tony Blair ya pergilah ke
Downing Street di London sana atau ke Gedung PBB New York.”
“Tapi itu urusankulah,” tegasnya, “yang
jelas bukan mau melonte.”
Diraihnya potongan batu bata di
dalam pot bunga plastik mawar merah, persis di tepi pintu gerbang
Sunan Kuning, tapi tiba-tiba sirene mobil polisi berdering-dering
memekakkan telinga.
Wekernya; pukul 15.30 waktu Timor
Lorosae. Satu jam lagi wawancara di Yayasan Timor, tapi masih ada
lima hari sebelum deadline berikut.
***
Habis mandi air dingin,
aliran darah di kepala Humala mengalir lembut, dan dia tenggak satu
botol Powerade rasa strawberry dari kantin hotel, seharga dua setengah
dollar Australia –'anjing Australia, dua setengah dollar
untuk sebotol minuman' makinya dalam hati. Tapi Powerade itu
berhasil mengembalikan penuh kesadarannya .
Dia mengaso di salah
satu bangku di halaman depan hotel yang siang itu kosong, selain
seorang pelayan perempuan muda impor asal Filipina yang duduk tak
bernyawa di meja kasir. Ia lepas saja matanya jauh ke horizon laut
biru yang bersih dan lenggang, di seberang jalan. Penerbangan sekitar
empat jam dari Jakarta ke Dili terasa amat melelahkan karena perdebatan
tak berfokus dengan mahasiswa yang duduk di sampingnya –‘siapa
pula nama anak itu...’ Humala berjuang keras mencoba mengingat
namanya.
Dan runyamlah rencana
tidur panjangnya di pesawat untuk membayar hutang begadang 24 jam
suntuk sehari semalam sebelumnya.
“Bang Humala
Gultom kan? Saya dulu pembaca setia Waktu,” kata anak itu langsung
memulai pembicaraan begitu dia tiba di kursinya, bahkan ketika belum
usai meletakkan lap top di kabin atas.
Humala tak sampai
hati untuk langsung memutus pembicaraan, sambil mengaku agak sedikit
senang dikenal salah seorang pembaca Waktu –‘bangga jugalah
awak sikit,’ pikirnya.
Setelah pembicaraan
basa-basi perkenalan yang masih bisa ditolerir dengan informasi secukupnya –Humala
mau meliput nasib aset warga Indonesia paska kemerdekaan dan
anak itu mau jadi sukarelawan di sebuah ornop di Los Palos, kota
paling
Timur di Pulau Timor— ada harapan pembicaraan terhenti.
Nyatanya anak itu
malah menggugatnya.
“Waktu kayaknya
kehilangan arah ya Bang?”
” Ah nggak juga,” katanya malas-malasan.
”Saya kira Waktu sekarang terlalu mata duitan, sampai tulisan sponsor saja
dimakan.”
“Ah nggak juga,” Humala menanggapi biasa, karena itu jugalah pendapat
hampir 93 % wartawan Waktu sekitar dua tahun belakangan --kecuali Pemred,
Wakil Pemred, Redaktur Senior, dan Koordinator Liputan. Toh tak ada juga yang
bisa dilakukan 93 % kelompok wartawan itu.
“Saya dulu pembaca setia Waktu, tapi sejak kasus Gus Dur digulingkan, saya
muak dengan Waktu.”
“ Oh ya,” balas
Humala makin tidak perduli sambil mengambil Dokter Zhivago dari tas
ranselnya di kaki kursi, sebagai isyarat jelas; ‘marilah kita
hentikan perdebatan yang bakal melelahkan dan tak akan kemana-mana
ini.’
Tapi mahasiswa itu –‘lupa
pula aku namanya’ keluh Humala – hampir pasti tak akan
melepaskan kesempatan melepaskan unek-uneknya, tentang sebuah majalah
berita mingguan yang tampaknya pernah dia puja sebelum menjelma menjadi
kemuakan.
“Waktu menulis
profil SBY dan Wiranto begitu kering, tanpa pemahaman demokratisasi
masyarakat sipil sedikitpun. Tidak ada visi sedikitpun,” katanya
sambil memandang tajam, jauh ke dalam bola mata Humala.
” Lha, jadi anda masih baca juga,” jawab Humala sedikit tersenyum,
mencairkan argumentasi yang selama dua tahun belakangan sudah mengalami degradasi
dari sebuah cita-cita, kehormatan, dan harga diri menjadi kopong tak bermakna
dan tak bernyawa karena kehidupan praktis sehari-hari. Visi pemberitaan sudah
tinggal memorabilia bagi dia dan teman-teman wartawannya. Jadi dia buka halaman
pertama Dokter Zhivago, tentang tokoh-tokoh pentingnya. Humala tak pernah akan
bosan mengulang tuturan-tuturan halus terjemahan Trisno Sumardjo.
“Saya membaca
Waktu untuk membuktikan kemuakan saya. Bagaimana mungkin menulis
profil Wiranto tanpa menyinggung sedikitpun kerusuhan Mei 1998, Pamswakarsa,
dan Timor Timur. Itu membodohi masyarakat, Bang. Oklah, kalau SBY
cuma kasus 27 Juli yang terangkat ke khalayak umum walau di belakangnya
banyak yang bisa dikorek. Tapi Wiranto tanpa kerusuhan 1998, tanpa
Panglima TNI yang mengadu domba masyarakat sipil dengan masyarakat
sipil lainnya, tanpa penghancuran sistematis Dili. Jelas tak perlu
memvonis, tapi masak sekedar merelasikan sajapun tidak… Kemane
aje Bang?”
“ Terus mau apa?” tantang Humala mulai lelah dan kesal.
“Maksud saya bukan Bang Humala, tapi kenapa Waktu, yang selama puluhan
tahun menempatkan diri sebagai lembaga demokrasi tiba-tiba jadi pragmatis dan
menghalalkan segala cara, hanya karena Suharto pura-pura menjatuhkan diri.”
"Apanya yang menghalalkan segala cara? Bisnis media harus menguntungkan,
supaya bisa menggaji karyawannya, supaya 500 orang tidak kehilangan pekerjaan,
supaya 1500 orang, termasuk anak istri yang 500 orang tadi, tidak mati kelaparan.”
“Tapi kalaupun tidak ada tulisan sponsor masak iklan berpuluh halaman masih
kurang juga untuk bisnis yang sehat.”
“Tulisan yang mana yang kau bilang bersponsor.”
“Sudahlah Bang, masak kita harus pura-pura tidak tahu.”
“Kau ini yang tak jelas. Tadi bilang sudah muak baca Waktu tapi kau sekarang
malah analisa isi berita-berita Waktu,” sindir Humala sebagai upaya kesekian
menutup perdebatan.
***
“Do you want
another drink?” Tiba-tiba pelayan Filipina yang duduk di meja
kasir sudah berdiri persis di depannya. Humala pura-pura tidak mengerti
dan pasang muka bodoh –‘untuk pelayan saja si pemilik
hotel orang Australia harus mengimport cewek-cewek Filipina,’ keluhnya.
“More drink?” ulang
pelayan Filipina itu dengan suara tinggi dan isyarat tangan meneguk
minuman ke mulutnya.
Humala menggeleng
sambil menajamkan sedikit bibirnya, dan melepas kembali matanya,
jauh ke seberang jalan, ke seberang lautan, seperti melihat sebuah
kehidupan yang lain; kehidupan yang punya media massa yang tidak
pandang bulu menyikat habis penipuan politik atas nama
rakyat. Entah dimana.
Diusapnya ceruk
matanya dengan sisa-sisa embun dingin di dinding botol Powerade,
dan matanya terasa lebih ringan. Masih ada setengah jam lagi sebelum
wawancara dengan Direktur Yayasan Timor. Panas yang terik membuatnya
berat bergerak. Pantatnya melekat ke bantalan kursi tipis, dan matanya
terikat ke laut biru lepas di seberang jalan.
***
“Oklah Bang, soal tulisan
sponsor kita singkirkan dulu. Tapi masak menulis pemilihan umum atau
pemilihan presiden dengan kerangka pesta hura-hura. Dibuatlah profil
tiap partai, profil tiap capres, prediksi kemenangan, ulasan koalisi,
perilaku pemilih, terus ada iklan partai dimana-mana, iklan capres
dimana-mana. Bukannya tugas Waktu mendidik masyarakat pemilih, menegaskan
bahwa pemilihan umum ini tidak akan membawa Indonesia kemana-mana,
partai apapun yang menang dan siapapun presidennya. Kalau cuma hura-hura,
gambar warna-warni, ya itu namanya majalah kuning,” rentetan
masalah baru berlompatan keluar dari mulut mahassiwa itu, seperti
kotak pandora.
“Jadi maumu Waktu mengajak
semua orang golput?” tantang Humala menutup sampul Dokter Zhivagonya.
“Mana mungkin Waktu berani…” balasnya tertawa lepas, sedikit
menghina.
“Jadi mestinya bagaimana.”
“ Menjelaskan bahwa partai-partai yang ada sekarang adalah partai yang
sarat dengan bau korup. Tidak usah memvonis karena itu bukan tugas media, tapi
sekedar mengingatkan Kasus Danatera Bulog tentang kemana persisnya uangnya dipakai,
mewawancarai hakim agung dalam kasus Akbar yang dulu membuat catatan tidak setuju,
mengungkap dugaan kasus suap anggota-anggota DPRD PDI-P di banyak propinsi, mempertanyakan
asal usul dana PAN. Coba Bang Humala… darimana dana PAN itu. Kita tidak
usah berprasangka dulu, sekedar bertanya saja dan mencari jawabannya. Itu yang
PAN. Kalau Wiranto, sebut sajalah dulu kekeliruan Wiranto atau ketidak-mampuanya,
apa kurang peristiwa 1998, Timor Timur, dan jangan lupa Bang, konflik antar agama
Ambon itu di jaman Wiranto juga, gagal kan dia menyelesaikannya. Terus bagaimana
kinerja Megawati, apa yang sudah dicapainya, dan apa tidak urgen mengangkat militerisme
SBY, menelusuri inkonsistensi Amien Rais dari sejak Ketua Muhammadiyah dulu,
masuk ke PAN 1999 terus PAN era 2004-an sampai berpasangan dengan Siswono sekarang.
Jadi ada sebuah upaya menyadarkan masyarakat pemilih. Bahwa mereka kemudian memutuskan
golput atau tetap memilih, ya biarkan rakyat yang menentukan. Tapi sebuah media
massa, yang benar, harus menjelaskan latar belakangnya kepada rakyat.”
Humala diam, membuka kembali halaman
pertama Dokger Zhivago, mencoba menemukan kata terakhir yang dia
baca sebelumnya. Tapi tak berhasil ia temukan, jadi diulangnya kembali
baris pertama tentang tokoh-tokohnya; Zhivago, Yury Andreyovich,
Yura, Yurochka, Paman Yury Zhivago.
Dia lelah mengulang kembali perdebatan
yang itu-itu juga selama dua tahun belakangan, yang diperdebatkan
di kantin, di ruang rapat, di koridor kantor, di lift, di perpustakaan,
dimana-mana. Dan lintasan waktu pulalah yang membuat soal
itu menjadi hambar; seonggok nasi basi yang tidak bisa dibuang, juga
tak bisa
dimakan.
Teronggok, terlewatkan, terabaikan, terlupakan, tapi nasi basi itu
tetap di sana menyebarkan bau busuknya kemana-mana.
“Bukan saya menekan Bang Humala. Terus terang tulisan Bang Humala masih
Oklah, paling tidak masih mencoba menyentil-nyentil dikit. Tapi tulisan utama,
pasti kering. Mengejek memang masih bisa, tapi tanpa pendalaman. Begitulah Waktu
di jaman paska Suharto sekarang. Persis seperti koran kuning, kalau sedang tidak
menjilat pastilah mencerca.”
“ Jadi kau ini memang tidak membaca Waktu lagi, tapi mengamatinya,” sindir
Humala, tapi dengan sedikit nada berdamai, berkompromi.
“ Soal harapan sebenarnya Bang. TV tak akan bisa diharapkan karena sifatnya
memang terlalu komersial, koran juga tak mungkin lagi karena persaingan makin
kencang dan motif utama tinggal menjual berita. Waktu masih pemain utama di mingguan,
dan kalaupun lebih cerdas, lebih mendalam seperti dulu, tak akan kekurangan iklan,
tak akan bangkrut secara komersial. Masalahnya kenapa Waktu sekarang ikut melacur,
padahal dulu tidak dan toh bertahan hidup dengan sejahtera. Kalau
koran
Pengarah
memang
dari
dulu
kerjanya
jilat
pantat
Suharto dan sampai sekarang semua dijilat. Tujuannya memang sebagai konglomerat
yang kemana-mana maju terus, tapi ya terus menjilati. Sedang Waktu lain
kasusnya,
dari
sebuah pranata demokrasi menjadi pelacur kelas tinggi, dan tragisnya merasa heroik
lagi. Kalau Waktu sudah melacur juga, tak ada lagi yang bisa
diharapkan
untuk
penyadaran massa. Makin terpuruk dan terhinalah bangsa Indonesia kita,” tambah
mahasiswa itu.
Humala diam lagi, menatap kosong
sandaran kursi di depannya. Halaman satu Dokter Zhivago masih terbuka
di pahanya.
“Benar nggak Bang?”
“Ya ada benarnya, tapi tidak semudah itu kawan,” balas Humala mencoba
mencairkan kembali persoalan.
“Buat saya mudah Bang.”
“Buatku tidak, karena aku tidak punya saham satu lembar pun di sana. Aku
cuma satu dari 500 karyawannya.”
“Tapi kan bisa mengangkat masalah itu, mengusulkannya, merentangkannya
sehingga semua Direktur Waktu sadar kalau keuntungan 20 milyar dengan 15 milyar
tak ada artinya demi pengembangan sebuah bangsa. Masak Bang Humala yang sudah
termasuk senior tidak didengar suaranya. Mungkin soalnya sudah jadi rutin. Orang
memang gampang jadi kebal atau bebal karena rutinitas, karena kemapanan,” mahasiswa
itu menolak untuk mencairkan persoalan."
“ Repot kita kalau sudah bicara bangsa… Tapi kau sendiri kenapa tidak
jadi wartawan, dan memperbaiki dari dalam.”
”Memang dulu aku sempat mau jadi wartawan. Biarpun anak Biologi, tapi aku
mau jadi wartawan, cuma lama-lama aku muak lihat media, jadi aku bunuh rencana
itu. Lebih bagus langsung terjun untuk advokasi masyarakat. Kelompok kecil tapi
efektif walau mainnya panjang karena tak bisa langsung ke massa seperti pers.”
”Nah kenapa kau tidak advokasi kesadaran media masyarakat. Memberdayakan
rakyat supaya tidak membeli media yang cuma bermotif komersial. Membangun masyarakat
pers yang kritis dan mencela pers yang kau bilang makan sponsor tapi membeli
rame-rame pers yang memberi penjelasan mendalam. Coba kalau semua orang kayak
kau, pastilah media berlomba-lomba memberi pendalaman materi?” tantang
Humala.
“ Bisa juga, tapi panjang jalannya. Kalau Waktu kan sudah tersedia, dan
paling tidak menjadi alternatif sajalah, ada pilihan bagi orang untuk mendapat
yang lain. Kita tidak mau mendikte rakyat, tapi memberi pilihan, memberi alternatif.
Dan menurut saya Waktu punya peluang dan potensi untuk itu. Yakinlah Bang, brand
image Waktu masih kuat, jadi kalau dia kembali ke idealisme pemberdayaan masyarakat
sipil, pastilah tidak akan rugi. Untung memang berkurang, tapi pasti masih untung.”
“ Kau ini maunya Waktu itu mengubah semuanya, sementara kau lupa prinsip
dasar berbisnis.”
”Saya ngerti, tapi ada yang namanya corporate responsibility.
Tanggung-jawab perusahaan untuk tidak sekedar mencari keuntungan sebesar-besarnya
tapi memberi ke masyarakat. Kalau memang mau cari untung, kenapa Waktu tidak
ganti saja jadi majalah khusus sinetron, pasti untungnya lima kali lipat. Soalnya
sekarang adalah sekedar kembali ke khittah saja. Waktu punya sejarah, punya peluang
dan juga potensi untuk menjadi berbeda dan bermakna. Itu sudah pasti, cuma memang
komitmen sudah luntur dan visi pun sudah lenyap. Disayangkan, disesalkan.”
Humala sempat tergoda untuk menjelaskan
panjang lebar tentang posisinya, bersama puluhan teman-temannya yang
lain. Tentang perdebatan yang sudah mereka mulai dua tahun lalu,
yang selalu mental di tembok tak berkuping, yang dimentahkan dengan
keangkuhan perhitungan pendapatan kotor sekitar 2 milyar rupiah setiap
bulannnya, tentang sekrup-sekrup di sebuah mesin besar yang efektif
dan dingin; sekrup-sekrup yang tak banyak artinya, yang bisa digantikan
kapan saja. Bahkan juga tentang dampak dari pensekrupan elemen-elemen
jurnalisme ke dalam sebuah mesin bisnis, yang membuat bahwa sekedar
profesionalisme saja menjadi terlalu sulit untuk diwujudkan, atau
membuat pemikiran
akal sehat yang paling sederhana sekalipun jadi sia-sia.
Dia capek, dan pingin tidur panjang.
“Mungkin masalah rutinitas,
kemapanan. Dan itulah taktik Orde Baru dulu. Begitu ekonomi hancur
barulah semuanya bangun, itupun cuma sebentar,” mahasiswa itu
menegaskan inti gugatannya.
“Kau sudah kawin belum?” tanya Humala berupaya membebaskan diri dari
perangkap si mahasiswa.
“Hehehe… Itu alasan lama. Kalau sudah kawin, sudah punya anak, pasti
orang berubah. Idealismenya luntur, cara pandangnya lain… Aku belum kawin
memang, tapi kalaupun sudah kawin pasti begini terus Bang,” jawab mahasiswa
itu tesenyum kecil. “Tapi percayalah, saya bukan menggugat Bang Humala,
tapi mengecam Waktu sebagai lembaga yang tamak, yang mata duitan, yang membodohi
rakyat demi uang, sama dengan koruptor-koruptor lainnya” tambahnya.
***
Telepon tangan Humala
berdering. Diliriknya monitor; Yayasan Timor. Dimatikannya telepon
itu, diangkatnya pantatnya dari bantalan kursi dan kembali masuk
kamar. ‘Masih ada lima hari lagi,’ celutuknya dan menelan
lagi dua butir Ambien.
Dan Humala bermimpi lagi; dia bertemu mahasiswa itu, yang dia masih saja lupa
namanya, di kompleks pelacuran Pasar Kembang, Yogyakarta.
“Mau kemana
Bang,” tanya mahasiswa itu di gerbang masuk Pasar Kembang.
“Ah cuma mau melonte sebentar,” jawabnya ringan sambil matanya melototi
kamar-kamar di kompleks pelacuran itu.
”Jangan kelamaan Bang, nanti lupa kerjaan,” tegur mahasiswa itu.
“Beres. Kau sendiri ngapain di sini,” tanyanya.
”Ah, cuma mau lihat siapa yang masuk dan siapa yang keluar.”
“Apa banyak yang masuk tapi tak keluar lagi?”
”Banyak, makanya tadi aku ingatkan Bang.”
Telepon tangan Humala
berdering lagi, tapi di mimpi Humala dering itu terdengar sebagai
lullaby yang disenandungkan seorang pelacur Pasar Kembang, yang sebelum
bioskop Studio 21 berdiri bekerja sebagai sinden. Indah dan menyerap
masuk ke dalam hati.
Jadi Humala pun
meneruskan mimpinya. ***