Angel Salamanca dan
Luis Royo adalah dua warga Spanyol yang merasa terpanggil selaku
patriot. Dalam perang saudara (1936-39), Salamanca memihak diktator
Jendral Besar Franco, kemudian membantu tentara Hitler melawan Soviet.
Sepeninggal Franco, dia jadi simbol dari Spanyol yang pro-fasis.
Sebaliknya, Royo adalah pejuang sayap kiri yang melawan fasisme Franco,
kemudian memerangi tentara Nazi-Jerman di Perancis.
Salamanca dan Royo dianggap semacam
personifikasi dari dua sisi medali yang sama. Dan medali tsb adalah
sebuah bangsa yang pernah terkoyak oleh perang saudara. Awal September
2004, pemerintah sosialis Spanyol pimpinan PM Zapaterro mengundang
keduanya menghadiri parade nasional yang digelar “untuk menghormati
semua warga yang pernah berjuang untuk membela prinsip-prinsip yang
mereka yakini.”
Nah, inilah pertama kali suatu
pemerintah di Eropa mengundang eks gembong fasis demi suatu rekonsiliasi
nasional. Bangsa Iberia mendambakan dapat bersatu kembali, sembuh
dari perang saudara 70 tahun silam.
Tetapi, menurut laporan-laporan
pers, yang terjadi persis kebalikannya. Alih-alih merajut rujuk,
publik merasakan bangsanya makin terbelah. Sebuah luka lama mendadak
menganga kembali. Kaum konservatif kecewa, kaum liberal mengeluh
dan kaum kiri memprotes. Undangan resmi kepada Salamanca itu dianggap
sebagai “penghinaan” terhadap mereka yang telah berjuang
dan berkorban dalam melawan fasisme. Parade nasional diboikot. Walhasil,
luka-luka tua itu sesungguhnya tak pernah teratasi. Sejak Franco
mati (1975) dan Spanyol menjadi demokratis, isu-isunya cuma digusur
ke bawah permadani.
Bagi Eropa, kebutuhan rujuk dengan
masa kelam seperti itu tak pernah ada, karena itu, tidak pernah dirasakan
perlu. Fasisme adalah anti-tesis dari demokrasi. Eropa banyak menderita
dan kehilangan jutaan warganya. Jadi, mengapa harus rujuk dengan
gembong-gembong fasis masa silam? Di Belanda, sampai sekarang masih
tersedia tim-tim psikolog untuk melayani keluhan warga yang mengidap
trauma semasa perang. Bagi Eropa Barat, Perang Dunia kedua (PD-II)
dan kejahatan perang pada masa itu hanya untuk dikenang, tapi tidak
untuk dimaafkan. Dalam arus besar itu, Jerman ikut mengubur masa
silam dengan membangun institusi-institusi demokrasi. Dengan kata
lain, bagi Eropa, PD-II itu sebenarnya belum berakhir.
Namun, bagi Spanyol, perang dunia
yang lalu adalah ‘jilid kedua’ dari perang saudara 1930-an.
Seperti terbaca dari riwayat Salamanca dan Royo, perang antara kubu
kubu mereka di Spanyol merupakan latar historis yang bersambung dengan
perang antara Sekutu dan Nazi Jerman. Salamanca melanjutkan “perjuangan”nya
ke Jerman (melawan Sekutu) dan Royo ke Prancis (melawan fasis) – kedua
kasus ini bukan suatu jembatan, melainkan sinambung “alami” antara
perang saudara dan perang dunia. Meski Franco resminya netral dalam
PD-II, tetapi pada prakteknya memihak Hitler dan mengirim tentara,
a.l. Salamanca, untuk membantu Jerman. Akibatnya, PD-II, bagi Spanyol,
adalah wujud baru --metamorfosa-- dari perang saudara Spanyol. Lantas
ketika PD-II berakhir, sementara Eropa tak pernah dilanda perang
saudara, di Spanyol, si pemenang perang saudara, Franco, berkuasa
terus sampai 1975.
Betapa pun peliknya, setiap perang
saudara memerlukan rekonsiliasi. Eropa Barat mencemoohkan kebutuhan
rekonsiliasi dengan fasis, tapi Spanyol memerlukannya-- itulah tragik
Spanyol.
Jadi, kalau Eropa tak pernah mengakhiri
PD-II, Spanyol perlu mengakhirinya. Jika Eropa membuka era baru dengan
Bantuan Marshall untuk membangun ekonomi dan demokrasi selepas perang,
Spanyol baru memulai halaman tersebut 30 tahun kemudian, pada 1975.
Eropa maupun Spanyol mengubur perpecahan di masa silam dengan membangun
demokrasi; yang satu (Eropa) tanpa menggelar rekonsiliasi, sedangkan
yang lain (Spanyol) harus mengukuhkan demokrasi dengan rekonsiliasi.
Spanyol pasca-Franco mengambil langkah strategis dengan membangun
demokrasi lebih dulu sambil menyimpan luka-luka perang saudara di
balik karpet demokrasi, tapi, celakanya, di tengah kemantapan demokrasi,
menyentuh masa silam ternyata masih seperti menyalakan bara saja.
Kasus Spanyol mengesankan bahwa
Spanyol, sama seperti Eropa, sebenarnya juga tidak memerlukan re-konsiliasi
dengan gembong fasis. Salamanca dan Royo tidak hanya menjadi simbol
dari kegagalan re-konsiliasi Spanyol, tapi juga memperlihatkan bahwa
kedua figur ini sesungguhnya bukanlah dua sisi yang sama sebangun
(congruent), sederajat (equivalent) dan semartabat, dari medali yang
sama. Lain fasis, lain anti-fasis – dan demokrasi seharusnya
membela anti-fasis.
Tapi, mengapa rekonsiliasi nasional
antara pihak-pihak yang juga “tidak semartabat” di Afrika
Selatan dan Timor Leste dapat berlangsung cukup lancar? Pertentangan
antara kepercayaan pada keunggulan minoritas putih dan semangat pro-demokrasi
yang majemuk di Afrika Selatan, tak kalah mendalam dengan perang
ideologis di Spanyol.
Begitu juga di Timor Leste: pertentangan
juga mendalam antara antara eks-Fretilin yang nasionalis dan populis-kiri
dan UDT yang konservatif dan pro-Portugal. Keduanya punya pemimpin
bangsa yang dihormati dan kharismatis – Nelson Mandela dan
Xanana Gusmao. Toh bukan di situ kunci sukses rekonsiliasi mereka.
Mulusnya rekonsiliasi Afsel dan
Timor agaknya karena pihak yang menggelar rekonsiliasi adalah mereka
yang menggegam kemenangan politik. Afrika Selatan mengajak kaum hitam
rujuk dengan aparat minoritas putih ketika rezim minoritas itu telah
tumbang. Di Timor Leste, rekonsiliasi digelar tanpa pertentangan
internal yang serius karena tentara pendudukan Indonesia sudah hengkang.
Dengan kata lain, proses rekonsiliasi
agaknya juga mengenal apa yang disebut victor justice (keadilan menurut
si pemenang politik) semacam Tribunal Nurnberg dan Tribunal Tokyo
usai PD-II. Justru segi inilah, yang pada gilirannya, tampaknya,
membuat rekonsiliasi di Indonesia pasca-Soeharto berbeda dan macet.
Aparat penindas Orde Baru tidak pernah tumbang, melainkan cuma minggir
saja --termasuk Soeharto sendiri.
Kasus Eropa dan Spanyol membuktikan
bahwa demokrasi itu sendiri tidak menjamin perlu atau tidak, ataupun
sukses-tidaknya suatu rekonsiliasi bangsa. Tetapi pengalaman Eropa,
khususnya Spanyol, menunjukkan perlunya rumusan rekonsiliasi yang
benar dan momentum yang tepat. Bukan sekedar demi menyembuhkan bangsa,
namun juga sesuai nilai-nilai kontemporer.
Sia-sia, memang, membangun demokrasi
dengan mengajak simbol fasis, tetapi Salamanca dan Royo perlu hadir
selaku warga bangsa --hanya dalam kualitas itu. Dan jangan datang
terlambat --yaitu di saat demokrasi telah mapan dan kelas-kelas mapan
telah membangun oligarki-oligarki baru.
Jadi, menyusul pemilu yang sukses
di Indonesia, layakkah konsolidasi demokrasi ini menjadi momentum
baru bagi rekonsiliasi bangsa?
***