edisi 85
sabtu 23 oktober 2004

PO Box 49 JKPPJ 10210A

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 85

cerpen Que La Joie Demeure*
Farah Rachmat

sajak Syukur
Hendri Kremer

sajak Hiiikayat Buyat 1
Syam Asinar Radjam

   ceritanet  
          situs nir-laba untuk karya tu
lis   
   


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Selama hampir dua minggu ia menggigau dengan selingan waktu. Ia mimpi bahwa Tonya meletakkan dua lebuh atas meja tulisnya. Jalan Taman Kereta di sebelah kiri dan Jalan Taman Kemenangan di sebelah kanan, pun telah menyalakan lampu di meja; cahayanya hangat dan jingga itu menerangi lebuh-lebuh tadi dan kini ia dapat menulis. Maka menulislah ia.

Ia menulis apa yang seharusnya sudah lama ditulisnya dan senantiasa ingin ditulisnya, namun tak pernah sanggup. Sekarang soalnya mudah sekali; ia menulis dengan semangat dan mngatakan tepat apa yang ia ingin menyatakan. Hanya sekali tempo datanglah seorang pemuda, pemuda dengan mata Kirghis yang sipit, pakai jas kulit kijang tak dikancing, bulu-bulunya di sebelah luar, seperti baisa dipakai di Ural atu Siberia.

Ia tahu dengan pasti, pemuda itu adalah roh mautnya atau untuk menyebutnya secara sederhana sekali, dialah mautnya. Tapi bagaimana mungkin ia mautnya, kalau ia membantunya menulis sajak? Bagaimana maut bisa berfaedah, bagaimana mungkin baginya untuk menolong.

Sasaran sajaknya bukanlah penguburan ataupun kebangkitan kembali, melainkan masa diantaranya; judulnya adalah 'Kekacauan.'

Ia selalu ingin melukiskan bagaimana selama tiga hari bumi hitam yang penuh cacing dan mengamuk telah menyerang jelmaan abadi cinta kasih, menyerbunya dengan batukarang dan batu longsor --laksana gelombang yang terbang meloncati pantai, menutupi dan mengaramkannya-- betapa tiga hari lamanya taufan hitam bumi mengamuk, maju dan mundur.

Dua baris berkali-kali kembali dalam kepalanya:

Kami senang di dekatmu
dan
Bangkitlah, sudah waktunya

Di dekatnya adalah neraka, kebusukan, kerapuhan, maut yang menyentuhnya; tapi musim semi dan Maria Magdalena dan penghidupan sama juga dekat padanya. Dan sudah waktunya untuk bangun. Waktu untuk bangun dan bangkit. Waktu untuk berdiri dan hidup kembali.
***bersambung

ceritanet
©listonpsiregar2000