edisi 85
sabtu 23 oktober 2004

PO Box 49
JKPPJ 10210A

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan
ikut mailing list

buku
non-fiksi

Salonica: City of
Ghost
Mark Mazower

(HarperCollins)

fiksi
Loot
Nadine Gordimer
(Bloomsbury)


ceritanet
©listonpsiregar2000

ceritanet  
situs nir-laba untuk karya tulis     

cerpen Que La Joie Demeure*
Farah Rachmat

Aku bukan merasa pahit. Tapi ada rasa yang tak bisa kunyatakan: pedih, sakit, ngilu dalam relung perasaanku yang terdalam. Aku pedih, memang. Aku sakit, benar. Aku ngilu, begitu rasanya. Oh, apalagi ini yang ada dalam kehidupanku? Aku tidak pernah ingin lagi mengalami kepahitan, kegetiran dalam hidup ini. Aku melihat Dana, ia terpekur di seberang meja. Lelaki ini masuk dalam kehidupanku bukanlah dalam seumur jagung.
selengkapnya



  
Pesan Buku Keping Kenangan

proyek buku memoar 2
Belajar dan (atau) Bekerja


saja
k Syukur
Hendri Kremer
Bersinarlah bulan purnama, seindah tulusnya cinta kita. Dan sayangnya, tidak selamban, waktu yang kutatap kini. Andaikan kau peluk bumi ini. Sampai mati pun aku pasrahkan kau pergi. Hanya saja, kupinta kau tetap-NYA bersinar hingga aku mati. Bebola itu, berpijar laju dan mulai bergaris lingkari angsana yang mulai subur di pinggir jalan.
selengkapnya

sajak Hiiikayat Buyat 1
Syam Asinar Radjam
:
Andini
Pada setiap anak telah dibagikan masing-masing satu luka,
Hanya padanya terasa demikian runcing mengendap
Luka-luka yang menusuk mata
Mencari celah melukai kantung-kantung air mata
Kering! Kering!
Lukanya luka yang tak harus ada
selengkapnya


novel
Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Selama hampir dua minggu ia menggigau dengan selingan waktu. Ia mimpi bahwa Tonya meletakkan dua lebuh atas meja tulisnya. Jalan Taman Kereta di sebelah kiri dan Jalan Taman Kemenangan di sebelah kanan, pun telah menyalakan lampu di meja; cahayanya hangat dan jingga itu menerangi lebuh-lebuh tadi dan kini ia dapat menulis. Maka menulislah ia. Ia menulis apa yang seharusnya sudah lama ditulisnya dan senantiasa ingin ditulisnya, namun tak pernah sanggup. Sekarang soalnya mudah sekali; ia menulis dengan semangat dan mngatakan tepat apa yang ia ingin menyatakan. Hanya sekali tempo datanglah seorang pemuda, pemuda dengan mata Kirghis yang sipit, pakai jas kulit kijang tak dikancing, bulu-bulunya di sebelah luar, seperti baisa dipakai di Ural atu Siberia.
selengkapnya