edisi 85
sabtu 23 oktober 2004

PO Box 49 JKPPJ 10210A

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 85

sajak Syukur
Hendri Kremer

sajak Hiiikayat Buyat 1
Syam Asinar Radjam

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

ceritanet
©listonpsiregar2000

  ceritanet
               situs nir-laba untuk karya tulis


cerpen Que La Joie Demeure*
Farah Rachmat

Jakarta, Januari
Aku bukan merasa pahit. Tapi ada rasa yang tak bisa kunyatakan: pedih, sakit, ngilu dalam relung perasaanku yang terdalam. Aku pedih, memang. Aku sakit, benar. Aku ngilu, begitu rasanya. Oh, apalagi ini yang ada dalam kehidupanku?

Aku tidak pernah ingin lagi mengalami kepahitan, kegetiran dalam hidup ini. Aku melihat Dana, ia terpekur di seberang meja. Lelaki ini masuk dalam kehidupanku bukanlah dalam seumur jagung. Kalaupun aku tidak mengerti apa yang ada dalam benaknya, itu maklum. Aku bukanlah Tuhan Sang Mahapendengar, Sang Mahatahu. Aku hanyalah insan-Nya yang mendengar telinga, yang disampaikan otak agar aku mengerti.

Dan malam ini, aku harus mengerti yang kudengar bahwa ia, Dana, ingin meninjau ulang hubungan kita. Hm. Meninjau ulang saat belum terikat hubungan pernikahan mungkin lebih mudah. Ini hal lain yang Dana dan aku hadapi. Bukan hal sembarang. Aku diam saja, beranjak dari kursi. Pergi ke dapur. Sepertinya aku bergerak sangat lambat, seperti gerak slow motion dalam film.

Earl Grey yang kuseduh kali ini tak lagi tercium wangi bergamotnya. Dua cangkir besar teh siap di tangan, aku bergerak ke meja tempat Dana duduk. Aku duduk, kusorongkan satu cangkir kepada Dana. Ia meraihnya dan menyeruput tehnya, pelan.

“Jadi, kau maunya kita bagaimana?”
Dana mengangkat kepala, “Kita bicarakan.”
Aku mengangguk. Aku menaruh cangkirku, kemudian beranjak mengambil kertas dan alat tulis, kembali duduk. Aku lebih senang demikian. Nyaman hatiku.
“Lila, please, kita bicara, bukan aku yang bicara saja. Kau jangan menulis. “
“Aku lebih senang demikian,aku menulis,mendengar dan aku bicara nanti,” kataku datar, sekilas kulihat tatapan Dana. Oh Dana, jangan tatap aku demikian.
“Bicaralah, Dan, aku dengar kau dulu,” aku mengambil sikap atentif, akan mendengar dia bicara. Lima menit kami terdiam. Tiada suara keluar dari mulutnya.
“Kalau begitu, aku yang bicara. Sebenarnya, usulmu itu bisa saja aku terima dengan lapang dada. Dengan kebesaran hati, karena toh kita memang pernah membicarakannya pada awal ikatan pernikahan ini. Aku sadar, aku bisa saja tidak berpihak pada hatiku, tapi… hal paling rasional adalah memang mendengar darimu.”
“Tapi, Lila…aku tidak ada alasan sebenarnya. Perasaanku ada sesuatu yang mengganjal dan aku tak tahu apa. Aku hanya ingin, kita—kau, aku—sama-sama meregangkan hubungan ini sementara saja. Aku tidak ada masalah apapun denganmu. Aku hanya ingin… meregang. Ah…rasanya susah, jika diutarakan, karena semua hanya kurasa…” hembusan nafas beratnya mengakhiri tanggapannya.

Aku diam. Aku tak mencatat apa-apa. Aku diam. Lama hening menyelimuti kami. Kedua kepala ini berdengung-dengung sendiri sepertinya. Tanpa sadar suaraku terasa bagai halilintar, “Baiklah,kita pisah sementara. Pastikan saja bagaimana nantinya. Aku siap.”
“Lila, maafkan aku…”
Aku diam, beranjak dari kursi dan pergi ke kamar tidur.
***

Penghujung September
Saat itu, mestinya Dana akan ada di sisiku, mengucapkan selamat ulang tahun. Kali ini, tidak. Tidak ada Dana. Aku berada di negeri asing, beribu kilometer darinya. Sudah tiga bulan sejak Juli. Ya, jika kucerna lagi, benar kata Dana, mungkin kami perlu peregangan… ah seperti senam saja, perlu peregangan untuk melakukan gerakan yang lebih menggunakan otot. Ah!

Apa aku mau menyamakan hubunganku dengan senam? Yang benar saja! Ini sudah lebih dari 8 bulan sejak kami memutuskan meregang…ah atau tepatnya memisahkan diri.

Aku berjalan di tepi Sungai Seine, kali ini aku mengarah ke Notre Dame de Paris. Mungkin cukup menyenangkan untuk berjalan di pinggir sungai ini pada musim panas, tapi ini…September, daun-daun menguning dan gugur dari ranting dan dahannya. Dan aku merasa… musim gugur begitu memberi rasa…pedih. Pedih. Ah, mengapa kata itu mampir lagi di otakku. Aku sudah cukup pedih! Aku ke Paris bukan untuk berpedih-pedih, aku juga bukan hanya berlibur, ada sesuatu yang kucari, entah apa.

Aku jadi teringat sepenggal bait 'Le Pont Mirabeau' karya Appollinaire: Sous le pont Mirabeau coule la Seine/Et nos amours/Faut-il qu’il m’en souvienne/La Joie venait toujours après la peine…L’amour s’en va comme comme cette eau courante/L’amour s’en va/Comme la vie est lente/Et comme l’Espérance est violente…

Angin musim ini tidak bersahabat untukku yang memang tidak tahan dingin. Tibalah aku di sebuah kedai es krim, Jakob sudah tiba lebih dulu. Kawanku ini, kawan lama, tidaklah sulit mencari sosoknya di kedai kecil itu. Jakob dengan rambut warna rambut jagung, kacamata, dan tubuh cekingnya. Aku membalas lambaiannya, melepas topi dan bergegas kea rah ia duduk.

“Ca va, Jakob?” aku menyapanya sambil menghampirinya.
“Bien”, ia menyambutku dengan tangan terbuka, memelukku dengan hangat, sikap persahabatan kami.
“Mana Charlotte?” tanyaku. Ia mengedikkan bahu dengan jenaka ia menimpali, “Yah begitulah, kami berpisah untuk projek kami, jadi ia ada di Bretagne dan aku mengajar di Paris.Ia sedang mengejar awan!” Ia tersenyum.
“Eh, kok Charlotte tidak cerita?”
“Aha! Itu memang sudah tabiatnya, bukan? Ayolah, kau mau pesan apa?”

Aku melihat pesanannya, “Hm, aku mau kopi saja seperti kau. Aku mati kedinginan dengan dingin angin macam ini! Uh, aku tidak pernah tahan jika sudah September begini,” aku mengeluh.

Jakob tertawa perlahan. Ia mengangkat tangan memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi double espresso untukku dan dua potong tarte de pomme.

Kami bicara panjang lebar, dari satu hal ke lain hal tanpa henti sambil menikmati musik dan kopi sampai kedai itu hampir tutup.
“Bon, Lila…ne sois pas triste, tu trouveras ton bonheur, crois-moi,” begitu kata Jakob ketika ia mengantarku ke dalam metro. Ya, aku akan menemukan kebahagiaanku. Entah, kapan akan terjadi. Kata orang, kebahagiaan itu selalu ada, hanya kita saja yang tidak menyadarinya. Ah!
***

Bandung, Januari: setahun setelah perpisahan dengan Dana.
“Kau suka dengan rumah kayuku, Lil?” Dinda meyadarkan aku dari lamunan panjangku. Aku mengangguk. Kami baru saja tiba di rumah Dinda di Lembang. Rumah kayu yang ia idam-idamkan baru saja selesai dibangun dalam dua bulan lalu. Ah, aku dulu memimpikan rumah pohon, dari kayu. Tapi sungguh, rumah Dinda membuatku iri. Mengingatkanku pada impian masa kecil, rumah pohon.

“Kau sudah menulis apa lagi saat ini, Lil? Kulihat banyak tulisanmu di majalah-majalah perempuan. Hebat kau!”
Aku tersenyum. “Kalau aku tidak menulis, aku dapat uang dari mana?”
Dinda tersenyum, “Hm, Lil, sore ini ada kawan-kawan datang, sengaja aku undang, kan sudah lama aku tidak mengundang kawan-kawan, kebetulan kan rumah ini sudah jadi. Mumpung akhir pekan, mereka kuundang ke Bandung. Bantu aku menyiapkan makanan, yuk?” Ia menggeretku ke dapur.

Malam kian larut. Dinda, aku dan kawan-kawan Dinda sedang bercengkrama di ruang tamu ketika terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah. Dinda bangkit dari duduknya dan menghampiri jendela dan kemudian menuju pintu.

Aku yang masih asyik mengobrol dengan kawan Dinda mengikuti geraknya. Sesaat jantungku berdebar keras ketika kudengar suara yang kukenal baik. Ah, tidak mungkin. Aku mengalihkan perhatianku dan pergi ke dapur. Ah, mengapa dapur menjadi tempatku berkelit dari segala keresahan diri? Aku berdiam diri di dalam dapur. Entah apa yang kuperbuat di sana. Merenung dengan secangkir…lagi-lagi earl grey tea di tangan.

“Apa kabar, Il?”suara bariton yang khas itu, aku menoleh ke asal suara, aku yakin, mukaku merah padam, ia memanggilku dengan panggilannya untukku dulu! Kang Icang! Aduh!
“Kang, apa kabar?” aku gugup menyapanya. Aduh, rasanya ia pasti tahu betapa mukaku merah padam! Bagaimana tidak, Kang Icang ini…aduh, bagaimana rasanya bertemu dengan pacar lama? Tidak lagi bersikap wajar rasanya, aku…aku jadi canggung dan bingung.
“Baik. Dinda cerita kamu di sini. Tidak apa kan aku datang menjenguk kawan lama?” ia tersenyum. Aduh! Aku jadi seperti anak bingung. Bagaimana ini? Untung Dinda datang, “Eh Kang Icang sudah bertemu Lila. Ayo, kita ke depan lagi, kukenalkan dulu Kang dengan yang lain,” celoteh Dinda sambil menarik tangan Kang Icang ke ruang tamu. Oh Dinda…my saviour!

Malam itu rasanya malam terpanjang karena batinku merasa tersiksa. Ah, mengapa aku begini kaku menghadapi segala yang bermunculan dalam hidup ini. Apa pula ini? Aku merasakan spontanitasku semakin lama semakin jauh dikatakan terkendali. Ah, bicara apa. Yang jelas dalam malam itu aku merasakan kegelisahan. Aku yang baru saja benar-benar secara juridis berpisah dengan seorang pendamping hidup dihadapkan dengan situasi macam ini. Oh, alangkah!

Aku menemani Dinda mengantar kawan-kawan meninggalkan kami. Kang Icang pulang belakangan. Kami bertiga ngobrol sampai larut. Kekakuanku menghadapi Kang Icang mencair saat itu dan tak dinyana aku merasakan hatiku mencair, atau tepatnya melentur untuk bicara dengannya. Ah, malam itu memang malam terpanjang.
***

Jakarta, April tahun yang sama.
Cerita lama sebenarnya, masih Kang Icang. Sejak pertemuan di rumah Dinda, Kang Icang menghubungiku lagi. Aku tahu bahwa ia tidaklah jauh berbeda statusnya denganku. Aku hanya menjalankan naluriku, aku tidak terlalu berminat memberikan hint apa-apa, aku hanya melanjutkan silaturahmi yang terputus. Ah, sejujurnya… aku tak tahu lagi bagaimana mencintai… .

Hari itu aku berpayah-payah menunggu editor dari majalah terkenal di sebuah restoran dekat kantornya. Aku memang sudah berjanji untuk bertemu, kami hanya ingin makan siang. Lama sudah bermenit-menit aku menunggu. Aku berkeputusan untuk meraih telepon genggamku, mencari kepastian dimanakah gerangan sang editor itu.

Selagi aku sibuk mencari-cari benda itu, suara berat yang kukenal baik menyapa, “Menunggu siapa, Il? Aku tergagap dan seketika menengadah, Kang Icang. No! Ah, kok bertemu di sini… “Eh, Kang… sedang menunggu kawan dari Majalah MNM. Entah kenapa kok belum tiba juga, Kang Icang mau kemana?”

Ah senyumnya… aku jadi serba salah, aku masih merogoh tasku mencari telpon genggamku. “Nggak kemana-mana. Baru makan di seberang, dari tadi kuperhatikan kau seperti menunggu seseorang. Sampai aku selesai makanpun kau masih di sini,” Aku mengisyaratkan untuk menelpon sebentar. Kami mengobrol tak lama karena ia harus kembali ke kantornya segera setelah ia mendapatkan panggilan telepon. Begitulah, ia pergi dan aku tetap menunggu.
***

Januari lagi, tahun kedua sejak perpisahan itu.
Hidupku tak lagi sendu, pahit. Aku bahagia dengan hidupku ditemani Matahari dan Rembulanku. Kalaupun Dana pernah lewat dalam hidupku…itu adalah satu episode dalam hidup. Begitupula Icang, ia juga episode lama yang kebetulan mampir lagi untuk diputar dengan versi baru kala itu. Aku pikir, pertemuan beberapa kali dengannya membuatku merasa… kami berkawan saja.

Tak lebih tak kurang. Hariku yang masih panjang menanti. Aku pikir, beginilah harus bersikap dalam hidup. Menerima apa yang lewat, memilah apa yang tak perlu dan kemudian…kembali pada jalur kita sendiri. Aku melihat hidup kali ini memang demikian adanya: melihat dua sosok tercinta berkejaran di taman sana, episodeku kali ini… Que la joie demeure.
***
Jakarta, 29 September 2004: hadiah untuk kawan-kawanku tercinta yang ultah hari ini
*. Semoga Kebahagiaan Menyertai (mu)