cerpen Que
La Joie Demeure*
Farah
Rachmat
Jakarta, Januari
Aku bukan merasa pahit. Tapi ada rasa yang tak bisa kunyatakan: pedih,
sakit, ngilu dalam relung perasaanku yang terdalam. Aku pedih,
memang. Aku sakit, benar. Aku ngilu, begitu rasanya. Oh, apalagi
ini yang ada dalam kehidupanku?
Aku tidak pernah
ingin lagi mengalami kepahitan, kegetiran dalam hidup ini. Aku melihat
Dana, ia terpekur di seberang meja. Lelaki ini masuk dalam kehidupanku
bukanlah dalam seumur jagung. Kalaupun aku tidak mengerti apa yang
ada dalam benaknya, itu maklum. Aku bukanlah Tuhan Sang Mahapendengar, Sang Mahatahu. Aku hanyalah insan-Nya yang mendengar telinga, yang
disampaikan otak agar aku mengerti.
Dan malam ini, aku
harus mengerti yang kudengar bahwa ia, Dana, ingin meninjau ulang
hubungan kita. Hm. Meninjau ulang saat belum terikat hubungan pernikahan
mungkin lebih mudah. Ini hal lain yang Dana dan aku hadapi. Bukan
hal sembarang. Aku diam saja, beranjak dari kursi. Pergi ke dapur.
Sepertinya aku bergerak sangat lambat, seperti gerak slow motion
dalam film.
Earl Grey yang kuseduh
kali ini tak lagi tercium wangi bergamotnya. Dua cangkir besar teh
siap di tangan, aku bergerak ke meja tempat Dana duduk. Aku duduk,
kusorongkan satu cangkir kepada Dana. Ia meraihnya dan menyeruput
tehnya, pelan.
“Jadi, kau maunya
kita bagaimana?”
Dana mengangkat kepala, “Kita bicarakan.”
Aku mengangguk. Aku menaruh cangkirku, kemudian beranjak mengambil
kertas dan alat tulis, kembali duduk. Aku lebih senang demikian. Nyaman
hatiku.
“Lila, please, kita bicara, bukan aku yang bicara saja. Kau jangan menulis. “
“Aku lebih senang demikian,aku menulis,mendengar dan aku bicara nanti,” kataku
datar, sekilas kulihat tatapan Dana. Oh Dana, jangan tatap aku demikian.
“Bicaralah, Dan, aku dengar kau dulu,” aku mengambil sikap atentif,
akan mendengar dia bicara. Lima menit kami terdiam. Tiada suara keluar dari mulutnya.
“Kalau begitu, aku yang bicara. Sebenarnya, usulmu itu bisa saja aku terima
dengan lapang dada. Dengan kebesaran hati, karena toh kita memang pernah membicarakannya
pada awal ikatan pernikahan ini. Aku sadar, aku bisa saja tidak berpihak pada
hatiku, tapi… hal paling rasional adalah memang mendengar darimu.”
“Tapi, Lila…aku tidak ada alasan sebenarnya. Perasaanku ada sesuatu
yang mengganjal dan aku tak tahu apa. Aku hanya ingin, kita—kau, aku—sama-sama
meregangkan hubungan ini sementara saja. Aku tidak ada masalah apapun denganmu.
Aku hanya ingin… meregang. Ah…rasanya susah, jika diutarakan, karena
semua hanya kurasa…” hembusan nafas beratnya mengakhiri tanggapannya.
Aku diam. Aku tak
mencatat apa-apa. Aku diam. Lama hening menyelimuti kami. Kedua kepala
ini berdengung-dengung sendiri sepertinya. Tanpa sadar suaraku terasa
bagai halilintar, “Baiklah,kita pisah sementara. Pastikan saja
bagaimana nantinya. Aku siap.”
“Lila, maafkan aku…”
Aku diam, beranjak dari kursi dan pergi ke kamar tidur.
***
Penghujung September
Saat itu, mestinya Dana akan
ada di sisiku, mengucapkan selamat ulang tahun. Kali ini, tidak. Tidak
ada Dana. Aku berada di negeri asing, beribu kilometer darinya. Sudah
tiga bulan sejak Juli. Ya, jika kucerna lagi, benar kata Dana, mungkin
kami perlu peregangan… ah seperti senam saja, perlu peregangan
untuk melakukan gerakan yang lebih menggunakan otot. Ah!
Apa aku mau menyamakan
hubunganku dengan senam? Yang benar saja! Ini sudah lebih dari 8
bulan sejak kami memutuskan meregang…ah atau tepatnya memisahkan
diri.
Aku berjalan di tepi
Sungai Seine, kali ini aku mengarah ke Notre Dame de Paris. Mungkin
cukup menyenangkan untuk berjalan di pinggir sungai ini pada musim
panas, tapi ini…September, daun-daun menguning dan gugur dari
ranting dan dahannya. Dan aku merasa… musim gugur begitu memberi
rasa…pedih. Pedih. Ah, mengapa kata itu mampir lagi di otakku.
Aku sudah cukup pedih! Aku ke Paris bukan untuk berpedih-pedih, aku
juga bukan hanya berlibur, ada sesuatu yang kucari, entah apa.
Aku jadi teringat
sepenggal bait 'Le Pont Mirabeau' karya Appollinaire: Sous le pont
Mirabeau coule la Seine/Et nos amours/Faut-il qu’il m’en
souvienne/La Joie venait toujours après la peine…L’amour
s’en va comme comme cette eau courante/L’amour s’en
va/Comme la vie est lente/Et comme l’Espérance est violente…
Angin musim ini tidak
bersahabat untukku yang memang tidak tahan dingin. Tibalah aku di
sebuah kedai es krim, Jakob sudah tiba lebih dulu. Kawanku ini, kawan
lama, tidaklah sulit mencari sosoknya di kedai kecil itu. Jakob dengan
rambut warna rambut jagung, kacamata, dan tubuh cekingnya. Aku membalas
lambaiannya, melepas topi dan bergegas kea rah ia duduk.
“Ca va, Jakob?” aku
menyapanya sambil menghampirinya.
“Bien”, ia menyambutku dengan tangan terbuka, memelukku dengan hangat,
sikap persahabatan kami.
“Mana Charlotte?” tanyaku. Ia mengedikkan bahu dengan jenaka ia menimpali, “Yah
begitulah, kami berpisah untuk projek kami, jadi ia ada di Bretagne dan aku mengajar
di Paris.Ia sedang mengejar awan!” Ia tersenyum.
“Eh, kok Charlotte tidak cerita?”
“Aha! Itu memang sudah tabiatnya, bukan? Ayolah, kau mau pesan apa?”
Aku melihat pesanannya, “Hm,
aku mau kopi saja seperti kau. Aku mati kedinginan dengan dingin
angin macam ini! Uh, aku tidak pernah tahan jika sudah September
begini,” aku mengeluh.
Jakob tertawa perlahan.
Ia mengangkat tangan memanggil pelayan dan memesan secangkir kopi
double espresso untukku dan dua potong tarte de pomme.
Kami bicara panjang
lebar, dari satu hal ke lain hal tanpa henti sambil menikmati musik
dan kopi sampai kedai itu hampir tutup.
“Bon, Lila…ne sois pas triste, tu trouveras ton bonheur, crois-moi,” begitu
kata Jakob ketika ia mengantarku ke dalam metro. Ya, aku akan menemukan kebahagiaanku.
Entah, kapan akan terjadi. Kata orang, kebahagiaan itu selalu ada, hanya kita
saja yang tidak menyadarinya. Ah!
***
Bandung, Januari: setahun
setelah perpisahan dengan Dana.
“Kau suka dengan rumah kayuku, Lil?” Dinda meyadarkan aku dari lamunan
panjangku. Aku mengangguk. Kami baru saja tiba di rumah Dinda di Lembang. Rumah
kayu yang ia idam-idamkan baru saja selesai dibangun dalam dua bulan lalu. Ah,
aku dulu memimpikan rumah pohon, dari kayu. Tapi sungguh, rumah Dinda membuatku
iri. Mengingatkanku pada impian masa kecil, rumah pohon.
“Kau sudah menulis apa lagi
saat ini, Lil? Kulihat banyak tulisanmu di majalah-majalah perempuan.
Hebat kau!”
Aku tersenyum. “Kalau aku tidak menulis, aku dapat uang dari
mana?”
Dinda tersenyum, “Hm, Lil, sore ini ada kawan-kawan datang, sengaja
aku undang, kan sudah lama aku tidak mengundang kawan-kawan, kebetulan
kan rumah ini sudah jadi. Mumpung akhir pekan, mereka kuundang ke Bandung.
Bantu aku menyiapkan makanan, yuk?” Ia menggeretku ke dapur.
Malam kian larut. Dinda, aku dan
kawan-kawan Dinda sedang bercengkrama di ruang tamu ketika terdengar
suara mobil memasuki pekarangan rumah. Dinda bangkit dari duduknya
dan menghampiri jendela dan kemudian menuju pintu.
Aku yang masih asyik mengobrol
dengan kawan Dinda mengikuti geraknya. Sesaat jantungku berdebar
keras ketika kudengar suara yang kukenal baik. Ah, tidak mungkin.
Aku mengalihkan perhatianku dan pergi ke dapur. Ah, mengapa dapur
menjadi tempatku berkelit dari segala keresahan diri? Aku berdiam
diri di dalam dapur. Entah apa yang kuperbuat di sana. Merenung dengan
secangkir…lagi-lagi earl grey tea di tangan.
“Apa kabar, Il?”suara
bariton yang khas itu, aku menoleh ke asal suara, aku yakin, mukaku
merah padam, ia memanggilku dengan panggilannya untukku dulu! Kang
Icang! Aduh!
“Kang, apa kabar?” aku gugup menyapanya. Aduh, rasanya ia pasti tahu
betapa mukaku merah padam! Bagaimana tidak, Kang Icang ini…aduh, bagaimana
rasanya bertemu dengan pacar lama? Tidak lagi bersikap wajar rasanya, aku…aku
jadi canggung dan bingung.
“Baik. Dinda cerita kamu di sini. Tidak apa kan aku datang menjenguk kawan
lama?” ia tersenyum. Aduh! Aku jadi seperti anak bingung. Bagaimana ini?
Untung Dinda datang, “Eh Kang Icang sudah bertemu Lila. Ayo, kita ke depan
lagi, kukenalkan dulu Kang dengan yang lain,” celoteh Dinda sambil menarik
tangan Kang Icang ke ruang tamu. Oh Dinda…my saviour!
Malam itu rasanya malam terpanjang
karena batinku merasa tersiksa. Ah, mengapa aku begini kaku menghadapi
segala yang bermunculan dalam hidup ini. Apa pula ini? Aku merasakan
spontanitasku semakin lama semakin jauh dikatakan terkendali. Ah,
bicara apa. Yang jelas dalam malam itu aku merasakan kegelisahan.
Aku yang baru saja benar-benar secara juridis berpisah dengan seorang
pendamping hidup dihadapkan dengan situasi macam ini. Oh, alangkah!
Aku menemani Dinda mengantar kawan-kawan
meninggalkan kami. Kang Icang pulang belakangan. Kami bertiga ngobrol
sampai larut. Kekakuanku menghadapi Kang Icang mencair saat itu dan
tak dinyana aku merasakan hatiku mencair, atau tepatnya melentur
untuk bicara dengannya. Ah, malam itu memang malam terpanjang.
***
Jakarta, April
tahun yang sama.
Cerita lama sebenarnya, masih Kang Icang. Sejak pertemuan di rumah
Dinda, Kang Icang menghubungiku lagi. Aku tahu bahwa ia tidaklah jauh
berbeda statusnya denganku. Aku hanya menjalankan naluriku, aku tidak
terlalu berminat memberikan hint apa-apa, aku hanya melanjutkan silaturahmi
yang terputus. Ah, sejujurnya… aku tak tahu lagi bagaimana mencintai… .
Hari itu aku berpayah-payah
menunggu editor dari majalah terkenal di sebuah restoran dekat kantornya.
Aku memang sudah berjanji untuk bertemu, kami hanya ingin makan siang.
Lama sudah bermenit-menit aku menunggu. Aku berkeputusan untuk meraih
telepon genggamku, mencari kepastian dimanakah gerangan sang editor
itu.
Selagi aku sibuk
mencari-cari benda itu, suara berat yang kukenal baik menyapa, “Menunggu
siapa, Il? Aku tergagap dan seketika menengadah, Kang Icang. No!
Ah, kok bertemu di sini… “Eh, Kang… sedang menunggu
kawan dari Majalah MNM. Entah kenapa kok belum tiba juga, Kang Icang
mau kemana?”
Ah senyumnya… aku
jadi serba salah, aku masih merogoh tasku mencari telpon genggamku. “Nggak
kemana-mana. Baru makan di seberang, dari tadi kuperhatikan kau seperti
menunggu seseorang. Sampai aku selesai makanpun kau masih di sini,” Aku
mengisyaratkan untuk menelpon sebentar. Kami mengobrol tak lama karena
ia harus kembali ke kantornya segera setelah ia mendapatkan panggilan
telepon. Begitulah, ia pergi dan aku tetap menunggu.
***
Januari lagi,
tahun kedua sejak perpisahan itu.
Hidupku tak lagi sendu, pahit. Aku bahagia dengan hidupku ditemani
Matahari dan Rembulanku. Kalaupun Dana pernah lewat dalam hidupku…itu
adalah satu episode dalam hidup. Begitupula Icang, ia juga episode
lama yang kebetulan mampir lagi untuk diputar dengan versi baru kala
itu. Aku pikir, pertemuan beberapa kali dengannya membuatku merasa… kami
berkawan saja.
Tak lebih tak kurang.
Hariku yang masih panjang menanti. Aku pikir, beginilah harus bersikap
dalam hidup. Menerima apa yang lewat, memilah apa yang tak perlu
dan kemudian…kembali pada jalur kita sendiri. Aku melihat hidup
kali ini memang demikian adanya: melihat dua sosok tercinta berkejaran
di taman sana, episodeku kali ini… Que la joie demeure.
***
Jakarta, 29 September 2004: hadiah untuk kawan-kawanku tercinta
yang ultah hari ini
*.
Semoga Kebahagiaan Menyertai (mu)