edisi 84
senin 11 oktober 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 84

esei Sungai Musi Bukan Pacarku
T. Wijaya

sajak Kaca
Mia Singgih

sajak Memento Mori
Hayat

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

ceritanet
©listonpsiregar2000

   ceritanet  
          situs nir-laba untuk karya tu
lis 


sajak Percepatan Ruang
Arie MP Tamba

Sebuah percepatan telah meleburnya menjadi pengulangan-pengulangan.
Menciptakan kebosanan-kebosanan yang sama bagi setiap persetubuhan.

Lukanya kemudian menganga telanjang seperti sejarah orang lain.
Dan sayap-sayap kemarahan melengkapi perhitungannya.

Ia pun merumuskan dirinya sebagai api tengah malam.
Dan memarak tanpa ragu pada gelap-gelap matamu.

Tapi tubuhnya selalu ringan dan berkelompok seperti awan.
Meluas tanpa sebuah puncak sebagai penjelasan.

Ruang apa ini menjulurkan kerisauan-kerisauan.
Suara siapa ini menistakan perlawanan-perlawanan.

Ia pernah membantai sebuah lelucon menjadi kekacauan.
Hingga dinding-dinding saling bergerak dan melukai.
Dan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab mendesing berupa ratapan sayup.

Tubuh siapa telah memilih ia menjadi persimpangan.

Lalu ia menjelaskan dirinya sebagai lelaki dari tepi pantai.
Mencemburui peradaban yang mengirim kota-kota.

Tapi ruang kemudian menjelmakan ancaman-ancaman tak terduga.
Hingga bikini ia pahami sebagai paradigama-paradigma lunak.
Tentang badai yang lama berkabung di lautan.

Dan para lelaki terlanjur muak atas tonjolan-tonjolan di tubuhnya sendiri.
Dan setiap kali keluar dari kamar tidur di tanah asing.
Mereka mencuci mulut yang semalamam merindukan ibu mereka.

Percepatan ruang telah memadatkan semua kenangan.
Menjadi tanjakan-tanjakan teror dalam pelarian di tubir mimpi.

Maka ia kemudian memaklumi dirinya sebagai logam.
Dan berdentam pada rakitan sebuah mesin pemintal.

Ruang apa ini menisbikan perlawanan-perlawanan.

Maka ia kemudian terbiasa dengan dongeng terbakar.
Memilah-milah segenap ketiadaannya sepanjang hari
.

Taman Mishima

Dunia berlanjut menjadi dirinya sendiri.

Ada pengasingan tiba-tiba merasuk dari cermin itu.
Pemahaman setiap kali gagal menjelaskan tatapanmu.

Maka taman berduka pun tumbuh dari reruntuhan di belakangmu.
Mereka mewujudkan diri berupa bunga-bunga tanpa warna.


Barangkali ada yang lebih dulu berteriak pada batu-batu berlumut itu.
Namun mereka terbang dengan pengetahuan seekor lebah.

Sebab bahasa telah dilumpuhkan menjadi dengung tengah hari.
Bersama orang-orang semakin ramai melepaskan duka mereka.

Tapi tak ada lagi yang hadir pada senja kosong itu.
Kau sedang membangun kekuatan-kekuatan tersembunyi di hatimu.

Variasi kemarahan dan kesedihan tak lagi membuatmu gentar.
Persekongkolanmu dengan cakrawala telah menggandakan bayanganmu.

Menjadi olok-olok yang terus menguras darahmu.
Setiap perbedaan menjadi penghancuran terselubung akhirnya.

Sia-sia kau rusuhkan dosa-dosamu.
Selalu ada yang tak sempurna dari
kedatangan-kedatangan yang kau perbuat. (Seperti lintasan mimpi dan kenangan yang sirna bersamaan).

Waktu adalah gugatan yang sia-sia disimpulkan.
Dan di tempat lain mereka berusaha mempertahankan sebuah cara hidup.

Rangkaian bunga-bunga dimasukkan ke rusuk mereka.
Dengan itu mereka tebarkan keharuman bagi tubuh-tubuh yang hancur.

Sebab telah cukup bagi mereka mengenang kehidupan dengan bau adas.
Karena dunia hanya berlanjut menjadi dirinya sendiri.

Dan di taman berduka itu reruntuhan segera menyergapmu.
Tak ada lagi rencana-rencana setelah kiamat itu.

***