Jadi
ada rencana untuk kumpulan memoar jilid 2.
Bedanya
dari yang pertama, jilid 2 akan terfokus
pada kenangan akan kerja dan belajar. Keduanya
memang praktis melekat dalam kehidupan orang
biasa di jaman modern, kecuali cucunya Ratu
Elizabeth 2, mungkin, atau ahli waris Bill
Gate, juga mungkin. Sedangkan
orang biasa, ya harus belajar supaya
kelak dapat kerja
dan kelak pula mampu membiayai
anaknya belajar, supaya si anak nanti
kelak bisa mendapat
pekerjaan. Begitulah umumnya siklus
kehidupan.
Tapi
belajar dan bekerja yang dimaksud ceritanet
berada dalam konteks yang amat luas. Bukan
sekedar di dalam kampus universitas atau
dinding perkantoran; luas, lentur, dan lunak.
Bisa dimana saja, kapan saja, dan dengan
siapa saja.
Contohnya
adalah setiap saya bertemu
Carmel Budiardjo --tokoh LSM Tapol di
London-- dan ngobrol
tentang apa saja, saya merasa
sedang belajar, juga tentang apa saja
atau , mungkin, tentang
siasat hidup. Carmel, saya
yakin dia tidak tahu soal ini, jelas
menjadi salah satu tempat
saya belajar. Guru lainnya,
tentu istri saya, Lisa --tapi bukanlah
bermaksud untuk bercerita
tentang cara saya belajar.
Maksudnya
cuma mau menekankan bahwa intinya adalah
belajar. Pengertiannya
yang paling sederhana
adalah kita mendengar, melihat,
maupun meniru seseorang.
Begitu
juga dengan pengertian bekerja.
Seorang ibu rumah tangga --saya menuliskan
ini dengan
semangat netral-- bekerja
penuh satu hari penuh dengan multi ketrampilan--dan
saya
menuliskan ini dengan semangat
kagum. Atau ada yang berusaha mendapatkan
pekerjaan formal
di kantor selama bertahun-tahun,
dan tak kunjung dapat jua.
Jelaslah
ada banyak diantara orang
biasa yang secara rutin berangkat ke
kantor, duduk di mejanya,
pulang ke rumah dan setiap
tahun cuma mendapat kenaikan gaji sesuai
angka inflasi resmi
pemerintah. Atau seorang
teman saya, di pekerjaan yang dulu, yang
terkenal mengeluh setiap
menit tentang pekerjaannya,
tentang atasannya, atau tentang peralatan
kerjanya, tapi toh
dia tetap bekerja di tempat
itu juga selama bertahun-tahun--walau
saya dengar sekarang
sudah dikeluarkan dan sedang
menggugat secara hukum.
Satu
lagi, untuk yang sudah punya
anak bersekolah. Sebagai orang tua, sesekali
kita sok membantu
anak kita mengerjakan PR,
atau bikin prakarya. Saya kadang frustasi,
karena ternyata cara
menghitung anak jaman sekarang
berbeda dengan jaman saya dulu, juga
frustasi karena ada
beberapa yang saya tidak
tahu jawabannya, dan sering pula saya
yang akhirnya malah
justru belajar dari anak
saya, salah satunya dalam urusan dinosaurus.
Jadi
memang ada banyak cerita
kita, orang biasa, tentang belajar dan
(atau) bekerja. Dan ikutilah
proyek buku memoar 2, walau
bisa dipastikan bakal tidak akan ada
honor dalam bentuk uang.
Ceritanet, seperti pengalaman
dalam memoar 1, hanya mampu memberikan
honor dalam bentuk
buku.
Akhirnya
tentu saja proyek
nenoar ceritanet 2 ini baru akan
terwujud jika
naskah yang masuk
memang mencukupi
untuk diterbitkan sebagai buku. Jika
tidak,
maka naskah yang
sudah sempat masuk akan dimuat
di www.ceritanet.com.
Petunjuk
Praktis
1.
Pilih bagian yang mana dari
seluruh proses belajar
atau bekerja yang ingin
anda ceritakan.
2. Ceritakan peristiwa itu berdasarkan kenangan
3. Ceritakan secara personal, seperti anda sedang bercerita secara lisan (curhat)
kepada sahabat anda.
4. Karena kenangan, tidak usah kuatir kalau tidak terlalu faktual, walau fakta
tetap jadi dasarnya. Kata-kata 'sepertinya, rasanya, seingatku, dsb' bisa digunakan
untuk fakta yang diragukan.
5. Walau kenangan, upayakan tetap jujur berdasarkan ingatan.
6. Ditail-ditail amat membantu agar cerita jadi menarik. Misalnya, bukan sekedar
rumah tua, tapi; 'yang atap sengnya sudah berwarna merah tua dan di dindingnya
terlihat bercak-bercak bekas tepisan air hujan yang sudah kering.'
7. Coba gunakan perbandingan dengan situasi atau bentuk sekarang. Misalnya;
'Taman itu dulu sekedar ada saja, cuma rumput setengah kering dan beberapa
pohon mawar yang kurus kering tidak terawat, amat beda dengan Taman di Monas
yang megah dengan pagar tinggi berukir dan pohon yang subur.'
8. Jika bisa, masukkan unsur humor atau jenaka.
9. Intinya adalah menceritakan sebuah peristiwa dari kacamata personal.
10. Jangan bermaksud untuk sebuah pencapaian, walaupun pencapaian dan kegagalan
tentu bisa juga diceritakan, tapi tetap dengan inti bercerita.
11.
Jangan kuatir dengan kata-kata informal,
jargon, atau bahasa daerah. Yang penting
beri catatan
kaki.
12.
Juga jangan kuatir kalau tidak bisa bertutur
secara mengalir, dan bisa digunakan sub-bab
sub-bab.
13.
Panjang tulisan bisa diabaikan, namun upayakan
minimal 5 halaman Word sedang maksimalnya sepanjang
mungkin.
14. Upayakan mengingat --atau
riset-- tentang situasi besar saat itu, misalnya ketika jatuhnya Suharto, atau
nilai rupiah sedang anjlok, atau AS sedang menyerbu Irak. Konteks seperti ini
tidak mutlak perlu, tapi akan baik jika disertakan.
15. Beli dan baca Keping Kenangan, kumpulan memoar orang biasa
16. Penulis di Keping Kenangan 1
--mohon maaf sebesar-besarnya-- tidak diperkenankan
ikut serta dalam proyek memoar ceritanet 2
karena semangatnya
mengajak penulis-penulis baru. Kelak di jilid
3 akan diberi kesempatan lagi atau dimuat di
www.ceritanet.com.