edisi 83
selasa 28 september 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 83

komentar Pram dan Hadiah Nobel
Z. Afif

sajak Hujan Bulan Juli (1)
Ucu Agustin

sajak Mencari Rumah: Perjalanan (1)
Sutrisno Budiharto

ceritanet
©listonpsiregar2000

ceritanet  
situs nir-laba untuk karya tulis      


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Malam gelap sekali. Di sekitar mereka gelap semata-mata. Hanya lingkaran kecil cahaya dari lampu saku. Demina berloncatan dari angin salju yang satu ke angin salju yang lain, empat lima langkah ke muka, lebih membingungkan daripada menerangi jalan. Di sekitar mereka gelap melulu dan mereka telah tinggalkan rumah, tempat banyak orang mengenal Lara, tempat ia sering datang sewaktu gadis dan konon tempat Antipov, suaminya dibesarkan.

"Betul bisa cari jalan tanpa lampu kawan dokter?" Demina secara main-main melindunginya. "Kalau tidak, saya pinjamkan lampu ini. Percayalah, saya sungguh berpengaruh atasnya, waktu kami masih kecil. Mereka punya perusahaan menjahit. Saya magang di bengkelnya. Saya ketemu dia tahun ini. Ia berhenti di tengah jalannya ke Moskow. Saya bilang: "Mau kemana, tolol? Tinggallah di sini. Tinggal bersama kami. Kami cari pekerjaan untukmu." Sia-sia saja, ia tak mau. Nah urusan dialah itu. Ia bersuamikan Pasha dengan otaknya, tidka dengan hati; sejak itu dia sinting. Maka pergilah ia."

"Awas, licin. Entah sudah berapa kali saya katakan pada mereka, jangan buang air kotor dari pintu, sama saja dengan mengomongi tembok. Pikiran saya tentang dia? Apa maksud tuan dengan pikiran? Apa mesti saya pikirkan? Tak ada waktu untuk berpikir. Di sinilah saya tinggal. Satu hal tak saya ceritakan padanya, adiknya lelaki yang di tentara itu, saya kira sudah ditembak. Soal ibunya yang dulu majikan saya, akan saya urus dia. Nah, saya mesti masuk sini. Selamat jalan."

Begitulah mereka pisah. Cahaya lampu kecil Demina menyoroti gerbang batu sempit dan laju terus, menerangi tembok-tembok bernoda serta tangga kotor, sedangkan Yury tinggal dikelilingi gelap. Di sebelah kanannya adalah Jalan Taman Kemenangan di sebelah kirinya Jalan Taman Kereta. Menjulur sampai kejauhan hitam penuh salju itu lebuh-lebuh ini bukan lagi jalanan, melainkan galangan di tengah rimba gedung-gedung batu, seperti galangan di hutan-hutan lebat Siberia atau Ural.

Di rumah adalah terang lagi hangat.

"Mengapa terlambat?" tanya Tonya. "Ada kejadian luar biasa, selama kau pergi tadi," sambungnya sebelum mendapat jawaban. "Sungguh tak terduga. Kemarin ayah merusakkan weker, aku lupa menyampaikan padamu, dia susah sekali sebab itulah lonceng satu-satunya yang jalan di rumah. Ia coba membetulkannya, dia kutik-kutik terus, tapi percuma. Tukang arloji di ballik pojok itu minta upah yang tak masuk akal, tiga pon roti. Aku bingung dan ayahpun putus asa. Nah kira-kira satu jam yang lalu, percaya tidak?, tiba-tiba ada bunyi mendering, keras, menusuk, membisingkan, kami takut sampai hilang akal! Itulah weker tadi! Dapat kau bayangkan? Ia mulai berbunyi lagi, dengan sendirinya saja."

"Saat tiphusku tiba," Yury berkelakar. Diceritakannya tentang pasien tiphus dan lonceng karilyon.
***