edisi 82
senin 6 september 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 82

komentar Berkoalisi dengan Tuhan
T. Wijaya

komentar Balada Pak Nyeleneh, Seorang Guru SMP
Deny Suwarja

sajak Kekosongan Hati
Moyank

ceritanet
©listonpsiregar2000

      ceritanet     
                   situs nir-laba untuk karya tulis               


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Seorang demi seorang para penghuni yang menyelimuti diri dengan syal dan jas bulu telah balik ke ruangan di bawah tanah yang tidak dipanaskan dan dulu merupakan gudang untuk telur, tapi kini digunakan oleh panitia rumah tangga sebagai kamar sidang.

Sebuah lesenar-kantor dan beberapa kursi berdiri di satu ujung. Karena kursi kurang banyak, orang telah memasang peti telur kayu kosong yang tua, dibalikkan serta dijejerkan hingga merupakan bangku. Setumpukan peti-peti ini, yang setinggi langit-langit, menjulang di ujung kamar yang terjauh. Di satu sudut ada seonggokan serutan kayu yang lengket berbungkah-bungkah lantaran campur dengan kuning telur beku yang menetes dari telur putih pecah, Tikus-tikus bikin hiruk pikuk di dalamnya, sekali tempo tampil sampai ke tengah lantai batu, lantas lari kembali.

Tiap kali itu terjadi, seorang penghuni wanita yang gemuk naik ke atas sebuah peti sambil berteriak; dengan lembut diangkatnya gaunnya dan seraya menghentakkan tumit sepatunya yang tak ketinggalan mode itu, iapun berseru dengan suara parau, tenang, dan mabuk.

"Olya, Olya, di sini penuh dengan tikus. Nyah, binatang najis! Ai, ai ai! lihat, kaum keparat itu mengerti, mengacipkan gigi mereka yang jahanam. Ai, ai, ai! ia mau naik, ia akan sampai di bawah rokku, aku takut! Berpalinglah tuan-tuan,. Maaf, aku lupa kita sekarang bukan tuan-tuan, tapi kawan-kawan sesama warga kota."

Mantelnya dari wol astrakhan terbuka, memperlihatkan tiga lapisan dagu gendutnya yang bergetaran dan buah dada yang subur serta perutnya yang diselubungi sutra. Dulu ia bunga pujaan di kalangan pedangang kecil serta perakit toko, tapi sekarang matanya yang sekecil mata babi itu tak lebih dari rekah saja antara pelupuk matanya yang bengkak. Seorang penyaingnya pernah mencoba menyiramnya dengan vitriol, tapi ia luput dan hanya satu dua tetes saja yang meninggalkan bekas kecil yang hampir mempereloknya, setitik di pipinya dan setitik di satu sudut matanya.

"Jangan menjerit-jerit, Khrapugina, Bagaimana kita bisa bekerja terus?" tegur utusan wanita dari Dewan Kota, ia telah dipilih jadi ketua dan duduk di belakang lesenar.

Utusan itu sudah kenal rumah itu serta kebanyakan penghuninya seumur hidupnya. Sebelum rapat ia bicara tak resmi dengan Bibi Fatima, si juru kunci yang dulu tinggal bersama suami dan anak-anaknya di satu pojok dalam ruangan kotor di bawah tanah, tapi sekarang dia hanya beserta anak perempuannya dan sudah pindah dalam dua kamar terang di tingkat pertama.

"Nah Fatima, apa kabar?" tanya utusan itu.

Fatima mengeluh bahwa rumah sebesar ini dengan penghuni sebanyak itu terlalu berat baginya seorang diri, pun bahwa ia tak dapat bantuan, sebab sungguhpun tiap keluarga diharapkan bergiliran membersihkan tangga serta ambang pintu, namun tak ada yang berbuat begitu.

"Jangan kuatir Fatima, akan kita tegur mereka. Lagi pula ini panitia rumah tangga macam apa? Terlalu, unsur-unsur jahat diberi perlindungan; orang-orang yang akhlaknya patut dicurigai dibiarkan tak terdaftar. Kita singkirkanlanlah mereka dan memilih panitia lain. Kujadikan kau kepala rumah tangga asal tak bikin ribut."

Bibi fatima mohon supaya dilepas, tapi isian itu tak mau dngar,

Setelah mengedar pandangan dalam kamar dan memutuskan bahwa cukup banyak orang hadir, dia minta supaya orang tenang dan membuka rapat dengan pidato pengantar yang singkat. Ia mengecam keteledoran panita rumah tangga, mengusulkan supaya diajukan calon-calon untuk pembentukan panita baru, lalu beralih ke soal lain.

Sebagai penutup ia bicara sedapat-dapatnya.

"Jadi begitulah, kawan-kawan. Terus terang saja, ini rumah besar, baik untuk losmen. Coba, kita tak tahu dimana menempatkan semua delegasi yang datang di kota untuk mengunjungi konperensi-konperensi. Sudah diputuskan mengambil alih gedung ini untuk penginapan Dewan Kota bagi tamu-tamu dari dalam negeri serta menyebutkan Penginapan Tiverzin, guna menghoramti kawan Tiverzin yang tinggal di sini sebelum ia dibuang, seperti yang tiap orang maklumi. Tak keberatan? Sekarang soal tangggal. Tak usah buru-buru, ada waktu setahun penuh. Kaum pekerja akan diberi perumahan kembali, lain-lainnya harus cari akomidasi sendiri dan diberi waktu setahun.

"Kami semua pekerja! Tiap kami! Kami semua buruh!" seru hadirin dari tiap penjuru, dan satu suara mengisak-isak: "Itulah Sjovinisme Rusia Raja!. Semua bangsa kini sama! Kutahu apa yang kau sindir."

"Jangan semua berbareng. Siapa mesti kujawab lebih dulu? Apa hubungan bangsa-bangsa dengan ini, warga Valdyrkin? Tengok si Khrapukina, adakah kau lihat soal kebangsaan berhubung dengan soal dia? Namun kita pasti mengeluarkan dia."

"Apa? Apa? Coba saja keluarkan aku, kita lihat nanti. Hai dipan jebol! Sprei kumal!" Khrapugina menjerit-jerit, menyebut utusan itu dengan tiap nama gila yang ditemukannya dalam kancah perselisihan itu.

"Setan betina," Bibi Fatima bringas, "Kau tak malu?"

"Jangan ikut campur, Fatima, dapat kujaga diri sendiri," kata utusan itu. "Tutup mulut Khrapugina, kutahu segala tentang kau. Ayo tutup mulut, kalau tidak kuserahkan kau pada penguasa sekarang juga, sebelum kau ditangkap sedang bikin vodka dan buka tempat sembunyi maling-maling."

Keributan sedang memuncak waktu Yury masuk, pada orang pertama yang sempat mendengarkannya, ia tanyakan apakah dapat ia ketemu dengan seorang dari panitia rumah tangga . Yang ditegurnya itu mencorongi mulutnya dengan tangannya dan berserulah ia mengatasi hiruk pikuk: "Ga-li-ull-li-na! Ada tamu."

Yury keheran-heranan. Perempuan tua yang kurus dan sedikit bongkok --Bibi Fatimao-- mendekatinya; wajahnya akan cukup bukti bahwa ia Ibu Galiullin. Namun ia tak segera mengenalkan diri dan berkata: "Seorang penghuni kena typhus." (Disebutnya namanya).

"Harus ada macam-macam persiapan untuk mencegah menularnya. Lagi pula si sakit harus dibawa ke rumah sakit. Akan kutulis surat ijin, panitia rumah tangga perlu menanda-tanganinya. Bagaimana dan di mana bisa saya dapat?"

Perempuan itu menyangka yang dimaksudkan ialah: "Bagaimana membawa si sakit ke rumah sakit," maka dijawabnya: "ada kereta darang dari Dewan Kota untuk kawan Demina, utusan itu. Kawan Demina itu baik benar, kuceritakan padanya pasti ia bolehkan si sakit naik keretanya. Jangan kuatir kawan dokter, dia akan sampai juga ke sana."

"Bagus sekali, yang saya maksud sebenarnya, dimana dapat saya tulis surat ijin itu? Tapi kalau soal kereta sudah beres... Boleh saya tanya, apakah nyonya adalah ibu dari Letnan Galiullin? Kami satu regu di medan perang."

Galiullin sangat terperanjat dan pucat. Dipegangnya tangan Yury; "Mari keluar. Kita bicara di pekarangan saja."

Sampai di luar pintu, ia berkata cepat-cepat. "Bicaralah dengan lembut demi Tuhan, jangan kuatir bikin saya celaka, Yusupha sudah kesasar. Coba pikir, apakah ia? Ia magang, pekerja. Mestinya ia mengerti - orang sekarang jauh lebih baik nasibnya, orang buta dapat melihat itu, tak ada yang dapat menyangkal. Entah bagaimana pikiran tuan sendiri, mungkin tak mengapa bagi tuan, tapi Yusupha berdosa. Tuhanlah mengampuninya. Bapak Yusupha orang partikelir, ia dibunuh, konon mukanya hancur kena tembakan dan lengannya dan kakinya.

Suaranya bergetar, ia menungu sampai lebih tenang, lalu sambungnya.

"Mari. Saya ambil kereta. Saya kenal tuan, Dia pernah ke sini beberapa hari lamanya. Dia cerita. Dia bilang, tuan kenal Lara Guishar. Gadis baik hati, kuingat dia, dulu dia bisa datang menengok kami. Bagaimana dia sekarang, entahlah --siapa tahu hal ihwal kamu? Sudah sewajarnya bangsawan taat pada bangasawan. Tapi mengenai Yusupha, itu dosa. Mari, kita mintalah kereta itu. Saya yakin kawan Fatima akan suka meminjakannya pada tuan. Tuah tau siapa kawan Fatima? Dialah Olya Demina, dulu tukang jahit, bekerja untuk ibu Lara; itulah dia dan dia pun dari sini. Dari rumah ini juga. Mari." *** bersambung