edisi 82
rabu 1 september 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan
ikut mailing list

buku
non-fiksi

The History of Costume Design in The West
Francois Boucher

(Thames & Hudson)

fiksi
Birds Without Wings
Louis de Bernieres
(Secker)

      ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis


laporan
Berkoalisi dengan Tuhan
Taufik Wijaya
Politik itu kotor mungkin masih diyakini sejumlah masyarakat di Indonesia , termasuk mereka yang hidup di pedalaman pergunungan Dempo, Sumatra Selatan. Lalu, apa yang menarik dari dunia politik sehingga membuat orang mau menghabiskan banyak uang, menipu, serta melakukan kekerasan. Jawabnya tentu saja soal kekuasaan.Konon kabarnya hanya dengan berpolitik sebuah kekuasaan dapat diraih. Dan, jika politik itu kotor mengapa orang "sebersih" Gus Dur dan Amien Rais menjadi sibuk dengan Pemilu 2004. Dan, kabarnya lagi untuk memperbaiki sesuatu yang kotor dibutuhkan sebuah kekuasaan. selengkapnya


komentar
Balada Pak Nyeleneh
Deny Suwarja
Dustamin, begitulah teman-temannya memanggil dia. Sebutan tersebut disematkan oleh teman-temannya di dada Dustamin, karena ia seringkali melakukan perbuatan atau perkataan yang lain di hati lain di mulut. Seperti guru kebanyakan, Dustamin ingin membangun rumahnya yang kecil menjadi gedung yang menurutnya adalah prestise dari keberhasilan seseorang. Dengan alasan untuk mengamankan SK-nya dari kebakaran atau hilang karena lupa menyimpan, Dustamin pun 'menyekolahkan' SK mengajarnya di bank Pemerintah. Sambil bergurau dia berkata, “Enak kan? SK kita jadi aman, diberi uang lagi!” .
selengkapnya


sajak
Kekosongan Hati
Moyank
ruang ini telah kosong kembali
tak berpenghuni
semua kenangan telah tersisih
sekejap seperti mimpi yang datang
kau bermain kemudian pergi menghilang
ruang ini telah kosong kembali
sementara ini kubiar tetap begini
mungkin suatu hari nanti akan ada yang mengisi
memainkan peran yang lain sebagai pengganti
selengkapnya

ceritanet
©listonpsiregar2000

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Seorang demi seorang para penghuni yang menyelimuti diri dengan syal dan jas bulu telah balik ke ruangan di bawah tanah yang tidak dipanaskan dan dulu merupakan gudang untuk telur, tapi kini digunakan oleh panitia rumah tangga sebagai kamar sidang. Sebuah lesenar-kantor dan beberapa kursi berdiri di satu ujung. Karena kursi kurang banyak, orang telah memasang peti telur kayu kosong yang tua, dibalikkan serta dijejerkan hingga merupakan bangku. Setumpukan ...
selengkapnya