komentar
Berkoalisi dengan Tuhan
Taufik Wijaya
Politik itu kotor mungkin masih diyakini sejumlah masyarakat di Indonesia , termasuk mereka yang hidup di pedalaman pergunungan Dempo, Sumatra Selatan. Lalu, apa yang menarik dari dunia politik sehingga membuat orang mau menghabiskan banyak uang, menipu, serta melakukan kekerasan. Jawabnya tentu saja soal kekuasaan.
Konon kabarnya hanya dengan berpolitik sebuah kekuasaan dapat diraih. Dan, jika politik itu kotor mengapa orang "sebersih" Gus Dur dan Amien Rais menjadi sibuk dengan Pemilu 2004. Dan, kabarnya lagi untuk memperbaiki sesuatu yang kotor dibutuhkan sebuah kekuasaan. Nah.
"Penguasa yang korup hanya dapat diganti dengan cara menurunkan mereka. Cara yang demokratis adalah dengan mengambilalih kekuasaan." Demikian kira-kira pernyataan yang diberikan para pendukung Gus Dur atau Amien Rais.
Tapi, realitas politik dalam Pemilu 2004 menyebabkan para pendukung Gus Dur atau Amien Rais menangis. Proses demokrasi dengan sistem pemilihan langsung dan kekuasaan penuh KPU "independen" menyebabkan keduanya mendekati jurang kekalahan. Para pendukung Gus Dur dan Amien Rais ramai-ramai berteriak golput alias golongan putih.
Bila pendukung Gus Dur sudah jauh-jauh meneriakan golput menjelang putaran pertama pemilihan pilpres maka giliran pendukung Amien Rais yang menyatakan golput menjelang putaran kedua pemilihan pilpres.
***
Jaid Saidi, seorang pekerja seni, berkata dengan nada satir. "Kalau mereka berkoalisi dengan parpol atau ormas, maka saya hanya mau berkoalisi dengan Tuhan. Koalisi dengan Tuhan lebih jelas. Tidak ada tipu-menipu, dan konsekuensinya juga jelas."
Pernyataan Jaid itu sebenarnya ingin menyindir 'koalisi' yang dimainkan para politisi maupun parpol. Sebab pilpres putaran pertama kemarin yang dipenuhi koalisi ternyata hanya di atas kertas. Tidak hanya koalisi antar kelompok yang dinilai kotor juga koalisi antar kekuatan yang dinilai bersih.
Seperti parpol yang berteriak anti korupsi. Semua koalisi itu faktanya hanya hisapan jempol. Koalisi itu hanya melahirkan 'pepesan kosong.' Seperti melihat perkawinan yang tidak melahirkan anak, tapi sang pengantin mengaku tidak mandul. "Mereka kan melakukan selingkuh politik. Benih yang bagus diberikan dengan WIL sementara air kencing diberikan ke bini," kata Jaid. "Tapi koalisi dengan Tuhan tidak ada itu. Sanksinya jelas. Neraka jahanam," tegas Jaid.
Pertanyaan pentingnya apakah berkoalisi dengan Tuhan itu berarti golput? Jaid hanya membacakan puisi berjudul Nyanyian Angsa karya WS Rendra yang diplesetkan:
Malaikat penjaga firdaus,
Wajahnya iri dan dengki,
Dengan pedang menyala,
Menuding kepadaku:
Hei! Janganlah kamu berkoalisi sesama manusia, karena tidak akan benar artinya.
Berkoalisilah kepadaku. Niscaya surgalah menemamimu.
***