edisi 82
rabu 1 september 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 82

komentar Berkoalisi dengan Tuhan
T. Wijaya

sajak Kekosongan Hati
Moyank

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

 

ceritanet  
situs nir-laba untuk karya tulis      


komentar Balada Pak Nyeleneh, Seorang Guru SMP
Deny Suwarja

Dustamin, begitulah teman-temannya memanggil dia. Sebutan tersebut disematkan oleh teman-temannya di dada Dustamin, karena ia seringkali melakukan perbuatan atau perkataan yang lain di hati lain di mulut. Seperti guru kebanyakan, Dustamin ingin membangun rumahnya yang kecil menjadi gedung yang menurutnya adalah prestise dari keberhasilan seseorang. Dengan alasan untuk mengamankan SK-nya dari kebakaran atau hilang karena lupa menyimpan, Dustamin pun 'menyekolahkan' SK mengajarnya di bank Pemerintah. Sambil bergurau dia berkata, “Enak kan? SK kita jadi aman, diberi uang lagi!”

Dulkata, teman akrab Dustamin yang sama-sama bekerja sebagai guru di sebuah SMP di kecamatan yang sama, di kabupaten yang sama pula, punya cerita yang lain lagi. Dulkata bernasib lebih 'beruntung' karena kepiawaiannya 'ngapusi' Kepala Sekolah dan Komite Sekolah serta dengan dukungan anggota DPRD serta beberapa beberapa wartawan CNN (Can Nulis Nulis) di daerahnya. Dulkata, berhasil 'menembus' saringan calon kepala sekolah. Padahal, salah seorang pejabat dinas di kabupatennya sampai bersumpah bahwa dia tidak rela Dulkata bisa lolos dari saringan tersebut. Karena dia tahu kinerja buruk yang dipunyai Dulkata.

Dulkata dan Dustamin, walaupun mempunyai cerita dan nasib berbeda tetapi mempunyai satu kesamaan. Yaitu dalam hal pekerjaan, keduanya mengaku guru, yang semestinya menunjukkan contoh dan perilaku yang baik. Tapi sebagai guru, Dulkata dan Dustamin sering melakukan perbuatan yang kurang baik. Entah gelap mata karena terjerat utang ke bank atau kepada debt collector seringkali mereka berdua berkonspirasi untuk menghalalkan segala cara demi meraih segala ambisinya.

Kamis itu di sekolah, tempat Dulkata dan Dustamin bekerja, sedang diadakan rapat orang tua murid dengan pihak komite sekolah beserta guru. Ketika rapat sedang berlangsung dengan dialog yang akrab, penuh kekeluargaan dan hangat, Pak Nyeleneh --seorang guru di SMP yang berdiri di luar kelas dan kebetulan ikut rapat-- tiba-tiba didekati oleh salah seorang tua siswa baru. Dari penampilannya Pak Nyeleneh langsung tahu, bahwa orang itu adalah bagian dari orang kebanyakan. Matanya penuh rasa was-was, pakaiannya lusuh, celananya sudah robek dibagian lututnya. Kakinya beralaskan sendal jepit yang juga sudah butut.

Sambil memegang kertas buram dia bertanya kepada Pak Nyeleneh; “Bapak punten dupi Bapak ngawulang didieu?” (Maaf Pak, apa bapak mengajar di sini?)

Pak Nyeleneh tersenyum dan dengan ramah menjawab; ”Muhun Pak, Bapak peryogi bantosan?” (Iya Pak, Bapak perlu bantuan?)

“Punten abdi teh bade tumaros, manawi Bapak tiasa ngawaler. Dupi pembiayaan dina kertas ieu anu jumlahna tilu ratus dalapan puluh lima rebu rupia teh tiasa dicicil?” (Maaf saya bertanya, barangkali Bapak bisa menjawab. Apakah uang segini banyaknya bisa dicicil pembayarannya?).

Begitulah orang tua itu kembali bertanya penuh keraguan sambil menunjukkan kertas buram. Ternyata kertas tersebut berisi rincian pembiayaan untuk siswa baru, lengkap dengan kop surat bertuliskan komite sekolah dan SMP negeri tersebut. Isinya berisi rincian harga berbagai kebutuhan yang harus dibeli oleh orang tua siswa baru.

Pak Nyeleneh terkesiap, karena melihat beberapa item yang harus dibeli oleh orang tua siswa dengan harga yang fantastis. Seragam batik Rp. 40 ribu, kaos olah raga Rp. 40 ribu, kaos pramuka Rp. 40 ribu, atribut sekolah Rp. 20 ribu, foto Rp. 7.500,- dan sepatu warior hitam Rp. 25 ribu.

Tambah DSP tahunan Rp. 200 ribu, DSP bulanan Rp. 30 ribu rupiah untuk dua bulan, Koperasi Rp. 5.000,-, perpustakaan Rp. 5.000,-. Ketika membaca edaran tersebut Pak Nyeleneh keningnya berkerut. Bagaimana tidak? Ia melihat beberapa kejanggalan pada surat edaran tersebut.

Pertama, Rabu kemarin itu Pak Nyeleneh mengetahui bahwa kepala sekolah, dewan sekolah, panitia PSB dan para guru telah sepakat tidak akan ada pungutan seragam atau apapun untuk siswa baru tahun itu.

Kedua, pada surat edaran itu tidak ada cap sekolah.

Ketiga, mengapa edaran tersebut bisa beredar di orang tua siswa baru padahal rapat belum selesai dan panitia PSB juga masih mengikuti rapat tersebut.

Panggilan hati kecil Pak Nyeleneh, dibuat lebih muak, ketika dia menanyakan perihal surat edaran tersebut pada Ketua komite sekolah dan Kepala Sekolah, dan keduanya dengan tegas menolak bahwa mereka pernah menanda tangani surat edaran yang berkop komite sekolah tersebut. Jadi yang di surat edaran itu tanda tangan siapa? Apakah ada setan yang lari dari dunia lain yang mencoba memalsukan tanda tangan kedua orang itu?

Karena penasaran dan merasa malu serta iba dengan orang tua yang bertanya kepadanya, Pak Nyeleneh kemudian melihat ke ruang kelas depan. Ia dibuat terperanjat, ketika melihat salah seorang oknum guru, dan bendahara komite sekolah dengan wajah ceria dan penuh senyum sedang 'panen.'

Sang bendahara dan sang oknum guru, yang notabene kakak beradik itu, memungut jutaan uang dari para orang tua yang merasa takut bila mempertanyakan perihal keuangan tersebut. Takut anaknya jadi tidak diterima. Pak Nyeleneh mendengarnya dari salah seorang tua siswa baru yang memohon kepadanya untuk membantu mendafarkan ulang anaknya karena dia tidak punya uang sepeser pun.

Dengan gemas, Pak Nyeleneh lalu mencolek sang bendahara Komite Sekolah dan mengajaknya keluar sementara dan meninggalkan uang hasil panennya sementara. “Mengapa pemungutan sudah dilakukan padahal rapat belum selesai, dan apakah edaran ini Anda yang membagikan?”, Pak Nyeleneh bertanya sambil menunjukkan surat edaran yang didapatnya dari orang tua tadi.

Sang bendahara komite sekolah, dengan bibir bergetar dan tatap mata penuh rasa salah, tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa diam seribu bahasa. Kesimpulan sang guru, ternyata kedua oknum kakak beradik, plus beberapa oknum guru dari pembina pramuka dan mantan guru, telah berkonspirasi untuk 'berjualan' dengan memanfaatkan posisi mereka, bahkan dengan cara memalsukan tanda tangan dari sang Ketua komite sekolah dan Kepala Sekolah.

Kebusukan ternyata belum berakhir, karena pada Hari Sabtu, Pak Nyeleneh dibuat terperanjat ketika dia mendengar kabar bahwa uang PSB telah digondol oleh Pak Dulkata sebanyak 14 juta rupiah. Padahal uang tersebut disimpan di BRI.

Pak Nyeleneh hanya bisa tertegun, bingung dan menangis. Ia lebih dibuat bingung lagi ketika hari Selasanya dalam rapat atas peristiwa 'penggondolan' uang oleh 'tuyul' di sekolah tersebut, sang pimpinan rapat yang notabene ketua koperasi di sekolah tersebut dengan otoriter menetapkan bahwa penggondolan uang oleh Pak Dulkata adalah syah-syah saja.

Bahkan dengan ngotot dia membacakan surat edaran palsu tentang kebutuhan siswa baru yang dibuat Pak Dulkata. Tanpa merasa bersalah sedikitpun, sang pimpinan rapat menyatakan bahwa koperasi dan para anggotanya (guru) akan menerima keuntungan 20% dari Pak Dulkata sebagai hasil penjualan dari barang yang segera di drop oleh Pak Dulkata. “Jadi jika para guru tinggal diam saja, tidak protes maka kita akan mendapat keuntungan....” kata sang pimpinan rapat.

Sebelum pimpinan rapat selesai dengan kata-katanya, Pak Nyeleneh keluar dengan hati masygul. Ia pun membuka komputer dan mengadukan peristiwa itu kepada teman-temanya di dunia maya. Ia menangis karena telah gagal memperjuangkan kebenaran. Ia menyadari, kebusukan akan terus di negeri ini selama para pendidiknya juga terus melakukan pembusukan pendidikan demi keuntungan pribadi.

Pak Nyeleneh, menangis tersedu dan bertanya dimanakah keadilan? Dimanakah kebenaran? Dimanakah Kejujuran akan hadir di negeri ini bila guru seperti Dustami, Dulkata dan kawan-kawannya terus melakukan kebohongan, ketidak jujuran, dan kepalsuan demi keuntungan materi semata?

Bila kebusukan terus terjadi di dalam lingkungan sekolah yang seharusnya milik rakyat secara keseluruhan, maka yang akan terjadi adalah sekolah menjadi milik kaum kapitalis, borjuis dan oportunis.
***

ceritanet
©listonpsiregar2000