edisi 82
rabu 1 september 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 82

komentar Berkoalisi dengan Tuhan
T. Wijaya

komentar Balada Pak Nyeleneh, Seorang Guru SMP
Deny Suwarja

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

 

 

 

 

ceritanet
©listonpsiregar2000

ceritanet  
situs nir-laba untuk karya tulis
      


sajak Kekosongan Hati
Moyank

ruang ini telah kosong kembali
tak berpenghuni
semua kenangan telah tersisih

sekejap seperti mimpi yang datang
kau bermain kemudian pergi menghilang

ruang ini telah kosong kembali
sementara ini kubiar tetap begini
mungkin suatu hari nanti akan ada yang mengisi
memainkan peran yang lain sebagai pengganti

entah sekedar bermain kembali
atau tinggal lebih lama lagi
Tanjung Santan, 17 Juli 2004

Repihan Rindu

kueja kembali aksara demi aksara
yang dulu melenakanku pada sebuah angan
mungkin juga harapan

kata demi kata
kini kian tak berarti
semuanya kabur dan hanya jadi mimpi

ketika kusadari aku tak mampu
menjadi seorang kekasih
sedapat mungkin aku pertahankan
rintih yang selalu berteriak
dengan lantang dalam hati

sementara kau mungkin tersenyum
di balik tirai malam
yang tak sanggup kusibak
untuk sekadar menatap wajahmu

kupunguti repihan rindu ini
untuk mengenang kembali
bahwasanya aku pernah mencintai
dan kau tak ingin memiliki
Tanjung Santan, 23 Juli 2004

 

Rindu Yang Pergi Jauh

aku ingin tahu
seberapa jauhkah awan pergi
membawa mimpi kanak-kanak
ke arah senja

seberapa jauhkah perjalanan awan
diusung angin; dari desa ke kota , sampai ke negeri asing
dari kunjungan wisata

seberapa jauhkah langit
melapangkan perjalanan awan
yang rindu pulang

dan seberapa pulakah rindu
yang telah mengawan kulukis
di atas kanvas lelangit tuhan
Tanjung Santan, 23 Juli 2004

Cahaya Kesunyian

kesunyian ini
kapankah segera berakhir?

hening telah membisukanku
hati menjadi demikian murung
rindu tergantung di dahan harap
sedang buah cinta tak mampu kudapat

kesunyian ini
bilakah tergantikan dengan keramaian?

walau aku mampu untuk menahan
segala perih dalam dada
namun aku tak sanggup mengusap air mata
yang terus mengalir dari
telaga matamu yang indah itu

setiap kunyalakan lilin
bukan cahaya kegembiraan yang terjalin
hanya diam yang tak pernah terjawabkan
dan ribuan pertanyaan berhamburan
di pinggir-pinggir jalan
Tanjung Santan, 23 Juli 2004

***