edisi 81
senin 16 agustus 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan
ikut mailing list

buku
non-fiksi

What the Media Are Doing to Our Politics
John Lloyd

(Constable)

fiksi
The Namesake
Jhumpa Lahiri
(HarperCollins)

ceritanet
©listonpsiregar2000

   ceritanet
                                                           situs nir-laba untuk karya tulis


terbitan Keping Kenangan, kumpulan memoar orang biasa
Liston P. Siregar
Karena sudah jelas-jelas mengandung orang biasa, atau orang yang tak bernama --begitulah istilah Bambang Bujono dalam Kata Pengantarnya-- maka jelas-jelas pula tidak akan ada aksi hebat maupun konyol dalam buku terbitan ceritanet pertama ini. Hanya ada dua puluh satu orang duduk di kursinya masing-masing, dengan komputer masing-masing, merenung sebentar dengan caranya masing-masing, pula tentang perjalanan hidup masing-masing, dan tentu dengan gaya masing-masing, untuk dikumpul dalam sebuah buku. Dan mereka 21 orang itu adalah orang biasa, bukan siapa-siapa. selengkapnya

sajak Lipstik Plastik Motor
Amir Ramdhani
perempuan itu memolesi jantungnya
dengan lipstik menyala redup
tembok tembok
menyusun tubuhnya dari batubata masa silam
yang berceceran tanpa semen
lalu seperti plastikplastik hitam
serupa malam yang dikerandakan
perempuan itu mengelap tapaktapak lipstik
di jantungnya

selengkapnya

cerpen Kucing Hitam
Dalipin
Aku kembali terbangun dari tidurku, basah kuyup dengan keringat. Mimpi buruk itu datang lagi. Seekor kucing hitam besar mengejar-ngejar aku, matanya tajam menembus dinding hati, cakarannya menyayat lebih tajam dari pisau. Setiap kali aku lawan, tubuhnya menjadi membesar, terus membesar hingga dua kali lebih besar dari aku. Ketika seluruh jengkal kulitku telah tersobek-sobek, seperti menyeringai ia akan memandangku.
selengkapnya

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
Yury menemukan rumah itu di ujung Jalan Brest dekat Gapura Tver. Rumah ini berbentuk barak batu yang tua, dibangun di sekitar pelataran, dengan tangga kayu beratap yang merayapi tembok-tembok pelataran. Hari itu para penyewa lagi mengadakan rapat umum yang sebelumnya sudah diatur dengan baik, dikunjungi oleh seorang utusan wanita dari distrik pemilihan Sovyet; ketika itu munculah panitia militer unttuk mengontrol lisensi senjata dan mencari senjata yang tak pakai lisensi. Para penyewa harus kembali ke flat-flat mereka sambil menunggu giliran, tapi ketua panitia meminta supaya utusan distrik pemilihan Sovyet itu jangan pergi sebab penyelidikan tak akan lama sehingga rapat akan dilanjutkan. selengkapnya