edisi 80
minggu 1 agustus 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 80

esei Gaji KPI, Moral, dan Godaan
Ging Ginanjar

esei Kemana Batak Berpencar
Eliakim Sitorus

sajak Dua Surat Cinta Untuk Tuhan
Syam Asinar Radjam, dan Buruli

ceritanet
©listonpsiregar2000

 

ceritanet  
situs nir-laba untuk karya tulis      


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Bagi kebanyakan orang makanan terdiri atas gandum rebusan serta sop ikan yang terbikin dari kepala bandeng, disusul oleh sisa bandeng itu sebagai hidangan kedua; ada juga bubur terbuat dari rebusan jenis-jenis gandum lainnya. Ini akan merupakan makanan utama bagi sebagian besar orang untuk waktu lama yang akan datang.

Seorang profesor wanita, teman Tonya, memberitahu padanya bagaimana memasak roti dalam tungku Belanda mereka. Maksudnya ialah menjual sebagian roti mereka untuk menutup ongkos pemanasan tungku besar seperti yang sudah-sudah dan tidak lagi menggunakan perapian logam yang masih saja mengeluarkan asap tapi hampir tak menghasilkan panas.

Roti Tonya baik, rancangan dagangnya tak jadi. Mereka harus berbalik ke tungku yang celaka itu. Keadaan mereka sungguh-sungguh berat.

Suatu pagi ketika Yury telah berangkat bekerja, Tonya meengenakan mantel musim dinginnya yang kusut --dia begitu penat, sampa ia dengan mantel itu masih menggigil pula dalam iklim panas --lantas pergilah ia 'cari sasaran.' Yang tinggal hanya dua balok.

Ia mengembara di lorong-lorong dalam bagian kota, dimana kadang-kadang terdapat kaum petani dari salah satu dusun di luar Moskow yang menjual sayur dan buah-buahan. Di jalan raya petani yang membawa muatan dapat ditangkap.

Ia lekas menemukan apa yang dicarinya. Seorang pemuda raksasa dengan jas petani berjalan pulang bersama dia, mendorong kereta salju yang nampaknya seringan barang mainan serta ikut masuk pekarangan dengan hati-hati.

Di dalam kereta ada semuatan balok berk yang ditutup kain bungkus, tak lebih tebal dari kisi-kisi rumah dusun kuno dalam foto dari abad 19. Tonya tahu macam apa balok-balok itu, nampaknya saja berk tapi jenisnya jenis pohon yang paling jelek, pun baru saja dipotong hingga tak baik untuk dibakar. Tapi karena tak ada pilihan lain, tak ada gunanya membantah.

Pemuda itu membawa lima atau enam pelukan ke kamar duduk, maka untuk gantinya diambilnya lemari kecil Tonya dengan pintu kaca. Diangkatnya itu ke bawah, lantas dimuatnya dalam kereta salju sebagai hadiah untuk istrinya. Sebagai sindiran pada perdagangan kentang di kemudian hari ia tanyakan harga piano.

Waktu Yury pulang, ia tak mengatakan apa-apa tentang pembelian Tonya. Tentu lebih masuk akal untuk memotong lemari tadi, tapi mereka tak akan sampai hati berbuat begitu.

"Ada surat untukmu di meja, kau lihat?" tanya Tonya.
"Yang diteruskan rumah sakit? Ya, pesan sudah kuterima. Panggilan orang sakit. Tentu aku pergi. Ngaso sedikit, lantas pergi. Tapi jauh juga. Kira-kira dkeat Gapura Kemenangan. Sudah kutahu alamatnya."
"Tahu apa yang ditawarkan seagai upah? Baiklah kau baca. Sebotol konyak Jerman atau sepasang kaos kaki. Kau pikir, orang-orang macam apa ini? Rupanya tak tahu bagaimana hidup kita sekarang. Orang kaya baru, kuduga."
"Ya, itu tentu dari leveransir."

Leveransir, konsesionaris atau agen adalah nama-nama untuk pemborong partikelur kecil yang mendapat kontrak dari pemerintah guna melever perbagai barang. Negara telah membatalkan perdagangan partikelir, tapi memberi fasilitet tertentu pada mereka dalam waktu krisis ekonomi.

Mereka bukanlah bekas orang-orang beada atau kepala firma yang dipecat --orang-orang ini tak dapat bangkit kembali setelah pukulan yang mereka terima. Mereka adalah sejenis pengusaha baru, orang-orang tanpa akar yang terangkat dar i bawah oleh perang dan revolusi.

Yury minum air panas dengan sacharin, diputihkan dengan susu, lalu ke luar mengunjungi pasiennya.

Salju tebal menutupi jalanan dari tembok di pelataran sampai setinggi jendela tingkat terbawah. Sosok-sosok tubuh setengah mati bergerak tanpa suara di ruangan luas ini, menjinjing sedikit makanan atau menghelanya dengan kereta salju. Lalu lintas lain hampir tak ada.

Tanda gambar warung yang lama masih tergantung di sana sini, tak ada hubungannya dengan koperasi-koperasi kecil di bawahnya. Warung-warung ini semua kosong dan terkunci jendelanya dirintangi atau ditutup dengan papan.

Warung-warung ini terkunci dan kosong, bukanlah hanya karena tak ada barang-barang, tapi juga karena pembentukan kembali segala segi penghidupan, termasuk perdagangan, sampai sekarang kebanayakan tinggal di atas keras dan belum menyangkut ke soal-soal remeh-temeh sepertri warung-warung yang tutup ini.
***