novel
Dokter Zhivago
Boris
Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan,
Maret 1960.
Bagi kebanyakan orang
makanan terdiri atas gandum rebusan serta sop ikan yang terbikin dari
kepala bandeng, disusul oleh sisa bandeng itu sebagai hidangan kedua;
ada juga bubur terbuat dari rebusan jenis-jenis gandum lainnya. Ini
akan merupakan makanan utama bagi sebagian besar orang untuk waktu lama
yang akan datang.
Seorang profesor wanita,
teman Tonya, memberitahu padanya bagaimana memasak roti dalam tungku
Belanda mereka. Maksudnya ialah menjual sebagian roti mereka untuk menutup
ongkos pemanasan tungku besar seperti yang sudah-sudah dan tidak lagi
menggunakan perapian logam yang masih saja mengeluarkan asap tapi hampir
tak menghasilkan panas.
Roti Tonya baik, rancangan
dagangnya tak jadi. Mereka harus berbalik ke tungku yang celaka itu.
Keadaan mereka sungguh-sungguh berat.
Suatu pagi ketika
Yury telah berangkat bekerja, Tonya meengenakan mantel musim dinginnya
yang kusut --dia begitu penat, sampa ia dengan mantel itu masih menggigil
pula dalam iklim panas --lantas pergilah ia 'cari sasaran.' Yang tinggal
hanya dua balok.
Ia mengembara di lorong-lorong
dalam bagian kota, dimana kadang-kadang terdapat kaum petani dari salah
satu dusun di luar Moskow yang menjual sayur dan buah-buahan. Di jalan
raya petani yang membawa muatan dapat ditangkap.
Ia lekas menemukan
apa yang dicarinya. Seorang pemuda raksasa dengan jas petani berjalan
pulang bersama dia, mendorong kereta salju yang nampaknya seringan barang
mainan serta ikut masuk pekarangan dengan hati-hati.
Di dalam kereta ada
semuatan balok berk yang ditutup kain bungkus, tak lebih tebal dari
kisi-kisi rumah dusun kuno dalam foto dari abad 19. Tonya tahu macam
apa balok-balok itu, nampaknya saja berk tapi jenisnya jenis pohon yang
paling jelek, pun baru saja dipotong hingga tak baik untuk dibakar.
Tapi karena tak ada pilihan lain, tak ada gunanya membantah.
Pemuda itu membawa
lima atau enam pelukan ke kamar duduk, maka untuk gantinya diambilnya
lemari kecil Tonya dengan pintu kaca. Diangkatnya itu ke bawah, lantas
dimuatnya dalam kereta salju sebagai hadiah untuk istrinya. Sebagai
sindiran pada perdagangan kentang di kemudian hari ia tanyakan harga
piano.
Waktu Yury pulang,
ia tak mengatakan apa-apa tentang pembelian Tonya. Tentu lebih masuk
akal untuk memotong lemari tadi, tapi mereka tak akan sampai hati berbuat
begitu.
"Ada surat untukmu
di meja, kau lihat?" tanya Tonya.
"Yang diteruskan rumah sakit? Ya, pesan sudah kuterima. Panggilan
orang sakit. Tentu aku pergi. Ngaso sedikit, lantas pergi. Tapi jauh
juga. Kira-kira dkeat Gapura Kemenangan. Sudah kutahu alamatnya."
"Tahu apa yang ditawarkan seagai upah? Baiklah kau baca. Sebotol
konyak Jerman atau sepasang kaos kaki. Kau pikir, orang-orang macam
apa ini? Rupanya tak tahu bagaimana hidup kita sekarang. Orang kaya
baru, kuduga."
"Ya, itu tentu dari leveransir."
Leveransir, konsesionaris
atau agen adalah nama-nama untuk pemborong partikelur kecil yang mendapat
kontrak dari pemerintah guna melever perbagai barang. Negara telah membatalkan
perdagangan partikelir, tapi memberi fasilitet tertentu pada mereka
dalam waktu krisis ekonomi.
Mereka bukanlah bekas
orang-orang beada atau kepala firma yang dipecat --orang-orang ini tak
dapat bangkit kembali setelah pukulan yang mereka terima. Mereka adalah
sejenis pengusaha baru, orang-orang tanpa akar yang terangkat dar i
bawah oleh perang dan revolusi.
Yury minum air panas
dengan sacharin, diputihkan dengan susu, lalu ke luar mengunjungi pasiennya.
Salju tebal menutupi
jalanan dari tembok di pelataran sampai setinggi jendela tingkat terbawah.
Sosok-sosok tubuh setengah mati bergerak tanpa suara di ruangan luas
ini, menjinjing sedikit makanan atau menghelanya dengan kereta salju.
Lalu lintas lain hampir tak ada.
Tanda gambar warung
yang lama masih tergantung di sana sini, tak ada hubungannya dengan
koperasi-koperasi kecil di bawahnya. Warung-warung ini semua kosong
dan terkunci jendelanya dirintangi atau ditutup dengan papan.
Warung-warung ini
terkunci dan kosong, bukanlah hanya karena tak ada barang-barang, tapi
juga karena pembentukan kembali segala segi penghidupan, termasuk perdagangan,
sampai sekarang kebanayakan tinggal di atas keras dan belum menyangkut
ke soal-soal remeh-temeh sepertri warung-warung yang tutup ini.
***