edisi 80
minggu 1 agustus 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 80

esei Gaji KPI, Moral, dan Godaan
Ging Ginanjar

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

sajak Dua Surat Cinta Untuk Tuhan
Syam Asinar Radjam, dan Buruli


ceritanet
©listonpsiregar2000

ceritanet  
situs nir-laba untuk karya tulis      


esei Kemana Batak Berpencar
Eliakim Sitorus

Tano Batak atau Tapanuli dan sekitarnya ibarat bejana yang kebanyakan isi. Sekiranya isinya tidak melimpah atau tidak tersalur dan mengalir, maka bukan mustahil bejana tersebut pecah, atau paling tidak bocor. Untunglah wadah penampungan limpahan yang bernama Sumatera dan Indonesia, bahkan dunia, tidak bosan-bosannya menerima migrasi orang Batak.

Barangkali perumpamaan di atas tidak terlalu persis cocok. Persoalan manusia Batak (Toba) yang sudah berpencar-pencar ke seluruh penjuru, tidak sesederhana benda cair yang merembes dari wadahnya. Apalagi sulit untuk membuat pembatasan yang ketat ketika berbicara tentang Batak, salah satu suku bangsa di Indonesia yang banyak dipuji karena keberaniannya, tetapi sekaligus banyak dihujat pula, juga karena keberanian dan kenekatannya.

Untuk tak menggeneralisir terlalu luas --walau jelas stereotype tak bisa dihindarkan sama sekali-- Batak yang dimaksud dengan analogi benda cair itu, hanya dituturkan secara sepintas dalam kotak Batak Toba, salah satu sub-etnik Batak. Supaya terasa tidak pula berbau rasisme, maka Batak Toba lebih dipersempit lagi pada Kampung Humbang, Silindung, dan Samosir. Tidak usah bingung dengan kampung-kampung itu, karena penyempitan itu lebih untuk menenangkan saya karena saya berasal dari sana; jadi semacam potret diri dan tidak menyerang etnis.

Pemiskinan SDA
Benar atau tidak, pepatah petitih Batak Toba :”Maranak Sampulu pitu Marboru Sampulu ualu” --Punya anak laki 17, Punya anak perempuan 18-- konon katanya menyumbang terhadap percepatan pertumbuhan penduduk kawasan Tapanuli sejak abad ke 18 dan memasuki abad ke 19. Pada saat itu, bisa jadi hampir 100% kawasan tersebut masih tertutupi kanopi pohon-pohon yang tumbuh subur di hutan-hutan lebat, terutama di jejeran Pegunungan Bukit Barisan. Artinya, pada jaman tersebut masih banyak sumber daya alam (SDA) yang tersedia, siap untuk dieksplorasi dan dieksploitasi oleh manusia.

Saya menduga, faktor tingginya kematian bayi, anak, dan ibu turut juga mendorong mengapa masyarakat Batak Toba di kala itu 'memompakan' generasi muda untuk mempunyai banyak anak. Tingginya angka kematian bayi dan anak bisa jadi karena kurangnya gizi atau ketidaktahuan mengelola sumber daya alam nabati dan hewani yang tersedia di alam sekeliling, sehingga terkesan manusia kekurangan asupan zat gizi untuk tubuhnya. Dapat diduga pula seringnya terjadi wabah penyakit dalam periode waktu tertentu telah membunuh manusia secara massal, yang segera mengurangi jumlah penduduk.

 

Dalam perkembangan berikutnya, manusia bertambah banyak, tetapi pertambahan ketersediaan sumber daya alam statis. Maka yang terjadi adalah eksploitasi sumber daya alam secara berlebih, akibatnya percepatan satuan luas tanah-tanah yang mandul; kesuburannya cepat terkikis. Tidak ada cara lain, kecuali merantau keluar dari kampung atau keluar dari wilayah ke daerah lain. Dari sejak itu migrasi Batak pun seolah tak terbendung lagi.

Ketika saya masih bekerja di Siborongborong Tapanuli Utara, antara tahun 1984–1991, sering saya dengar para bapak bercerita, sambil bercanda, bahwa jika anak-anaknya --terutama laki-laki -- sudah beranjak besar atau dewasa, maka disepak pantatnya supaya keluar dari rumah atau dari kampung.

Mengapa? Sebab rumah sudah terlalu sempit dan mata pencaharian di kampung tidak tersedia buat anak-anak yang sudah berhenti sekolah. “Maradu nisipak ihur nai asa lao mangaranto ”, tutur seorang bapak kepada saya di Siparendean, Sipahutar, tahun 1986. Bapak itu mengatakan; "Sampai harus kutendang pantatnya supaya dia merantau."

Benar atau tidak, saya tidak pernah selidiki. Tetapi memang faktanya migrasi anak-anak muda dari Tapanuli Utara ke Medan (ke Utara) dan ke Pekanbaru, Batam, Palembang, Bengkulu, Jambi dan Jakarta (ke Selatan) luar biasa, baik untuk melanjutkan sekolah maupun untuk mencari penghidupan.

Dan Batak tidak hanya merantau ke kota, tapi pedalaman juga disikat. Baginya yang penting di mana bisa hidup. Bagi yang lebih betah di kota , maka perkembangannya relatif lebih cepat. Sedangkan yang di desa atau pedalaman, perkembangannya lebih lambat. Bahkan ada kalanya hidup migran Batak di tempat perantauan lebih getir daripada kehidupan kebanyakan masyarakat Tapanuli.

Pasti ada satu masa di mana ketika itu daya tampung bumi Tapanuli mampu untuk mendukung manusia yang ada di atasnya. Yang saya saksikan jelas pada awal 80-an titik jenuh sudah tercapai.

Barangkali memang masih bisa diperbesar daya tampung dengan eksplotasi sumber daya alam secara paksa, seperti yang dilakukan PT Inti Indorayon Utama (yang telah berganti nama menjadi Toba Pulp Lestari) tetapi risikonya adalah alam akan menderita karena diperas. Beban yang ditimpakan sudah melewati ambang batas dukung alam. Lalu, gilirannya manusialah yang akan menerima dampak negatifnya, sungai dicemari, udara dikotori, hutan ditebas, dibakar dan tanah dikuras unsur haranya, yang penting eukalyptus milik mereka cepat besar dan dipanen. Pabrik pulp dan rayon adalah pabrik duit untuk pemiliknya, tetapi pabrik racun dan malapetaka bagi masyarakat sekitar.

Produk migrasi
Dari sekitar 40 kepala keluarga anggota kumpulan arisan Sitorus Boltok yang berasal dari Kampung Sampuara Kecamatan Uluan, tidak satu orang pun yang lahir di kampung tersebut. Bahkan banyak anggota kumpulan yang belum pernah berkunjung dan tidak tahu persisnya di mana letak kampung moyangnya tersebut. Semuanya lahir di 'Timur,' artinya di perantauan. Anggota yang berusia antara 30–50-an tahun kebanyakan lahir di Simalungun --tepatnya Tanah Jawa-- dan daerah Sumatera Utara lainnya.

Mengapa begitu? Sebab, tidak mungkin orang tua kami bertahan di perkampungan yang berbukit-bukit tersebut. Sawah hanya ada di lembah, itu pun tidak luas. Lalu sangat sering katanya terjadi ternak yang berkeliaran terjatuh ke jurang dan mati. Untuk mengurus sawah di lembah-lembah sempit itu sangat capek.

Mengangkut hasil panen padi saja ke rumah, harus berjuang keras. Untuk jangka waktu yang cukup lama hingga akhir 1970-an belum bisa masuk kenderaan bermesin ke desa. Jadi warga desa harus berjalan kaki jauh supaya bisa menemukan kenderaan. Ada yang menuruni bukit ke kampung Panamean di tepi Danau Toba. Lalu dari situ menompang kapal kayu menuju Porsea setiap hari Rabu. Kembali dari pasar, maka siap-siaplah untuk mendaki bukit. Sore menjelang malam baru tiba kembali di rumah.

Karena desakan hidup itulah, akhirnya ayah saya memutuskan untuk merantau ke perkebunan teh di Simalungun. Hanya satu anaknya saja yang lahir di kampung Sampuara, sedang lainnya lahir di Simalungun. Sesekali manakala ada pesta atau ada keluarga dekat yang meninggal dunia, keluarga kami balik ke kampung Sampuara.

Cerita atau riwayat hidup saya ini, mirip dengan puluhan riwayat hidup sesama dongan tubu dan boru --sesama orang Batak-- di kumpulan tersebut. Saya yakin, ribuan cerita lain pun lebih kurang sama. Begitulah Batak Toba bermigrasi ke semua jurusan; selagi bisa ditepuh maka diterobos terus.

Beradaptasi
Bagaimanakah para migran Batak Toba bertemu dan bermasyarakat dengan komunitas manusia yang dijumpainya? Tentu ada berjuta-juta macam ragam perjumpaan migran Batak dengan masyarakat di perantauan. Oleh karena keberangkatan dari Tapanuli adalah karena ketiadaan (pinarborhat ni ijur bari atau bermodalkan air liur yang basi), maka pada umumnya migran Batak ulet di perantauan.

Sudah soal biasa kalau streotipying Orang Batak menjadi bahan olok-olokan, apalagi ada cerita-cerita murahan di televisi yang membuat Orang Batak sebagai orang yang konyol, lugu, dan sering tak becus.

Tetapi sebenanar stereotype itu tidak berpengaruh banyak bagi Orang Batak yang memang memiliki kemapuan adaptasi sosial yang tinggi. Di tengah suku mana pun dia 'hinggap,' relatif bisa beradaptasi dengan cepat. Ini pengakuan banyak orang. Memang masih 'kalah' dibandingkan dengan suku Jawa, yang sepanjang sejarah migrasi suku-suku di Indonesia --baik migrasi spontan maupun terprogram oleh pemerintah-- belum pernah mencatat konflik komunal atau kelompok antara Orang Jawa dengan suku lokal. Catatan orang Batak dalam konflik komunal, juga tidak banyak.

Banyak strategi dan taktik Orang Batak sehingga untuk bisa klop dengan komunitas mayoritas yang dikunjungi dan dijadikannya bagian dari masyratakat integratifnya. Biarlah para ahli sosiologi atau antrolopogi yang menguraikan hal itu.

Suatu kali, saya pernah didebat oleh orang, mengapa Orang Batak dulu jarang menjadi transmigran misalnya, atau sekarang ini kenapa tak banyajk Orang Batak jadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. Saya rasa sudah ada, tetapi memang tidak sebanyak orang Jawa, atau orang Madura, yang sudah seperti bahan eksport.

Dalam tugas saya selaku peace builder (juru damai), dua setengah tahun terakhir ini, secara sederhana, cerita tentang migrasi Batak itu sering saya sampaikan kepada sesama migran Madura yang telah terusir dari Kalimantan Tengah pasca konflik Sampit Berdarah Pebruari 2001. Seratus tiga puluh ribu orang, bukanlah jumlah yang kecil.

Orang Madura, baik yang sudah lahir di Kalimantan Tengah maupun yang merantau setelah remaja dan dewasa, dipaksa mudik ke Pulau Madura yang sempit dan gersang. Mengapa? Karena ada masalah sosial yang sangat serius tetapi tidak mendapat perhatian selama beberapa dekade. Suatu ketika hanya karena pemicu sepele saja lantas terjadilah perang etnik, yang sukar dipadamkan.

Mungkin salah satu yang membantu Orang Batak beradaptasi adalah peribahasa lain lubuk lain ikannya yang hidup dalam Budaya Batak. "Asing taona asing muse dengkena dohot ihanna,” begitulah orang-orang tua Batak menyebutkan: lain danau lain pula ikan yang hidup di situ. Dan migran Batak Toba di beberapa titik di Jakarta yang masih berperilaku sebagaimana seolah berada di kampungnya di Tapanuli Utara akan selalu menimbulkan ketidaksenangan bagi warga lain di sekitarnya.

Akhirnya, migrasi Orang Batak ke berbagai penjuru dunia adalah suatu keniscayaan. Tidak boleh tidak harus terjadi. Dan Orang Batak Toba harus mendisplinkan diri sendiri, kelompok, dan komunitas agar proses bermasyarakat yang beradab bisa disumbangkan.

Dulu ada slogan:” Suhar bulu ditait dongan ba tinait ” (bambu terbalik ditarik teman, maka kita pun tarik juga), sekarang rasanya yang lebih pas adalah:” Suhar bulu ditait dongan, jolo pinature ipe asa tinait ” (bambu yang terbalik ditarik teman, kita luruskan dulu baru ditarik). Jadi kalau pun ada orang lain melakukan hal yang jelek, misalnya korupsi, lalu kelihatan orang itu kaya, maka menurut nasehat kedua, orang Batak tidak perlu harus ikut-ikutan korupsi.

Banyak kaum migran Orang Batak di kota-kota besar yang berprofesi sebagai pengacara membela koruptor, karena prinsip membela akan mendapat bayaran. Rasanya tidak perlu harus semua pengacara Batak menjadi pembela koruptor.

Kenapa? Karena korupsi adalah tindakan yang melanggar hukum.
***