sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 7, Senin 12 Maret 2001

 ceritanet
        situs nir-laba
untuk karya tulis

tentang ceritanet

novel Dokter Zhivago 7
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Teratai tumbuh di sekeliling seluruh tepi kolam. Perahu memotong di tengah bunga-bunga itu dengan kering berkerosok dan membuat saluran segitiga; air hitam di dalamnya nampak seperti air semangka yang diiris sekerat.

Nicky dan Nadya memetik teratai. Mereka berdua memegang tangkai yang sama, yang ulet seperti karet itu. Mereka tersentak olehnya, hingga kepala mereka berantukan dan perahupun tersodok ke tepi, seolah terkait. Di situ tangkai teratai lebih pendek dan saling berjalinan; bunga-bunga putih dengan jantung kuning bagai kuning telur yang dilereti darah itu menyelam dan munculk kembali dengan menyemprot air. Kedua anak itu terus memetik dengan melentik atas pinggiran perahu yang makin lama makin oleng.

''Aku jemu di sekolah,'' kata Nicky. ''Sudah waktunya aku mulai penghidupan --terjun ke masyarakat dan mencari nafkah.''
''Aku malah ingin tanya padamu tentang perbandingan akar pangkat dua. Aljabarku sangat buruk, hingga aku hampir tak naik kelas.''

Nicky merasa tertusuk. Tentunya Nadya mengguruinya, menyindir bahwa ia masih kanak-kanak --dengan menyinggung perbandingan akar pangkat dua, sedangkan ia belum sampai belajar aljabar. Tapi ia tak menunjukkan sakit hatinya; ia pura-pura tak acuh, namun sadar akan kedunguannya waktu ia bertanya :

''Bila kau dewasa, kau akan kawin dengan siapa?''
''Itu masih jauh sekali. Kukiran tak ada yang akan kawin dengan aku. Belum kupikirkan.''
''Jangan sangka aku perhatikan itu.''
''Tapi mengapa tanya-tanya?''
''Kau gila.''

Mereka mulai bertengkar. Nicky ingat bahwa subuh tadi ia membenci perempuan, maka ia mengancam akan menenggelamkan Nadya, jika ia ini tak berhenti memakinya. ''Boleh coba,'' kata si gadis. Nicky memeluk pinggangnya. Merekapun bergumul kehilangan keseimbangan dan jatuh ke air. Mereka pandai berenang tapi bunga-bunga teratai melilit tangan dan kaki, hingga mereka terapung-apung. Kesudahannya mereka panjat lagi lumpur di bawahnya, lalu naik ke pantai; air mencucur dari sepatu dan kantong-kantong. Antara yang dua itu, Nicky yang paling kehabisan nafas. Andaikata ini terjadi pada musim semi yang baru saja berlalu, mereka sesudah rusuhnya reda, akan berteriak, menyumpah-nyumpah dan terkekeh-kekeh, berbaring dekat mendekat dengan basah kuyup.

Tapi kini mereka duduk membungkam, nyaris tak bernafas, tertimpa oleh kedunguan mereka sendiri. Nadya meradang diam-diam sebab merasa hina, sedang Nicky kesakitan disekujur tubuh, seakan lengan dan kakinya babak belur dan iganya patah. Akhirnya dengan lemah lembutnya Nadya menegur seperti orang dewasa. ''Kau gila betul,'' dan Nickypun menyambut dengan suara yang bernada kedewasaan. ''Maaf.''

Mereka pulang dengan meninggalkan jejak basah seperti dua kereta air. Jalannya menanjak ke tanggul berdebu penuh ular, dekat tempat dimana Nicky pagi itu melihat ular rumput.

Ia terkenang pada kerusuhan hatinya yang mengganggunya semalam serta mahadayanya pada waktu fajar, ketika ia menundukkan alam. ''Perintah apa hendak diberinya sekarang pada alam?'' kajinya. Apakah yang paling dihasratkannya di dunia? Sadarlah ia bahwa yang paling diinginkannya ialah jatuh ke kolam lagi bersama Nadya dan ia sedia berkorban untuk mengetahi apakah itu akan terjadi pula kelak.
***

 

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet
 

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar