edisi 7, Senin 12 Maret 2001
ceritanet
situs nir-laba untuk karya tulis
|
laporan
Potongan
Pembantaian |
esei
Bangsa
Beradab? Bukan |
esei Perkenalkan, Orang Madura
Imam Ghozaly Aro
“Etembeng pote mata lebih begus pote tulang.” Pepatah kuno Madura itu artinya daripada putih mata (malu) lebih terhormat putih tulang (mati), dan sampai sekarang masih populer bagi orang arga Madura di pelosok Pulau Madura, maupun Madura di tempat lainnya, termasuk yang terpelajar sekalipun. Popularitas pepatah kuno itu menggambarkan betapa suku Madura sangat menjunjung tinggi kehormatan dan harga diri. Boleh dibilang suku yang satu ini pantang menanggung malu. Begitulah, mati mempertahankan kehormatan masih dianggap lebih baik ketimbang masuk rumah sakit, walaupun masuk rumah sakitnya karena mempertahankan kehormatan juga. Yang paling terhormat, tentu saja, yang bisa mempertahankan kehormatan tanpa harus mati atau masuk penjara.
Selengkapnya
esei Tragedi Kemanusiaan dan Kebijakan Ruang Publik
Bambang Widjojanto
Sampit adalah tragedi. Jadi, bicara soal Sampit, kita dipaksa bicara soal skandal kemanusiaan. Mungkin, skandal itu bukan yang pertama tapi juga bisa jadi bukan yang terakhir kalinya. Mungkin skandal itu tak cukup dramatik seperti tahun 1965, tapi pola tindakannya sangat mengerikan. Tragedi kemanusian itu melengkapi berbagai kekerasan yang terus menerus terjadi, kendati konon kita tak lagi dibawah regim yang otoritarian. Yang lebih ironis, kejadian itu terjadi disuatu daerah yang komunitasnya dipercaya mempunyai kearifan budaya dalam 'berdialog' dengan segala hadirin di seputarnya. Karena pepohonan saja, bagi sebagian besar masyarakat adat, bisa dianggap, diakui dan dimaknai sebagai mahluk, hingga juga harus dihormati sebagai sesama mahluk.
Selengkapnya
novel Dokter Zhivago 7
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baruTeratai tumbuh di sekeliling seluruh tepi kolam. Perahu memotong di tengah bunga-bunga itu dengan kering berkerosok dan membuat saluran segitiga; air hitam di dalamnya nampak seperti air semangka yang diiris sekerat. Nicky dan Nadya memetik teratai. Mereka berdua memegang tangkai yang sama, yang ulet seperti karet itu. Mereka tersentak olehnya, hingga kepala mereka berantukan dan perahupun tersodok ke tepi, seolah terkait. Di situ tangkai teratai lebih pendek dan saling berjalinan; bunga-bunga putih dengan jantung kuning bagai kuning telur yang dilereti darah itu menyelam dan munculk kembali dengan menyemprot air. Kedua anak itu terus memetik dengan melentik atas pinggiran perahu yang makin lama makin oleng.
Selengkapnyasitus nir-laba untuk karya tulis
ceritanet
kirim tulisan
©listonpsiregar2000sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar