sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 7, Senin 12 Maret 2001

ceritanet
situs nir-laba untuk
karya tulis

 

laporan Potongan Pembantaian
Liston Siregar
Peringatan : tulisan ini berisi seribu mayat lebih, utuh maupun terpenggal.
Seorang wanita warga Dayak yang sedang hamil tua dibunuh
orang Madura, begitulah yang menyebar Minggu dini hari di
pertengahan Februari. Saat itu masih tersisa ketegangan
beberapa bulan sebelumnya, dari maraknya perkelahian
pemuda Dayak dan Madura. Walau bentrokan sempat
menyebar juga jadi perang antar suku, tapi mampu diredakan. Sementara. Rengas Dengklok rumah s orang ket runan ...
Ci a di b ksa tf. Wkatu i u seju nsd pee gf8ianv 00fj 1.... . ;
/Aaf ps darah sdlf-.................................. Ka..akfwang
perne      as-jksn s,f /f'f.a;f.alfa f ,, ,,           ninja berka aspfj
jtaomf mati di p e nggal__sfm jasksa ............................................................................ jf..
da...,,r--------..a.............h'''''[[[((((( l lkalpoi ''.,.ks pwe
atajhjgwere,b[ia/////////////////////////////
/.............-Error
Kerusakan bukan pada komputer anda
Selengkapnya

esei Bangsa Beradab? Bukan
Anton Timur Alifandi

Beberapa hari yang lalu seorang teman lama mengirim e-mail kepada saya berisi foto-foto yang katanya memuat gambar pembantaian orang-orang Madura di Sampit. Karena dia sudah mengatakan apa isi gambar-gambar itu, saya tidak membukanya. Saya bayangkan gambar-gambar yang dia kirim menunjukkan peristiwa keji yang terjadi di Kalimantan Tengah dalam dua minggu terakhir. Dalam e-mail itu kawan ini menulis lebih kurang, "Katanya kita bangsa beradab?".Menilik e-mail itu, saya membayangkan dia pasti geram, marah, kaget dan pilu melihat gambar-gambar itu, sehingga dia mempertanyakan keberadaban bangsanya, bangsa Indonesia. Saya menduga dia masih percaya bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa beradab, dan kejadian di Sampit belakangan ini hanyalah perkecualian saja.
Selengkapnya

 

esei Perkenalkan, Orang Madura
Imam Ghozaly Aro
“Etembeng pote mata lebih begus pote tulang.” Pepatah kuno Madura itu artinya daripada putih mata (malu) lebih terhormat putih tulang (mati), dan sampai sekarang masih populer bagi orang arga Madura di pelosok Pulau Madura, maupun Madura di tempat lainnya, termasuk yang terpelajar sekalipun. Popularitas pepatah kuno itu menggambarkan betapa suku Madura sangat menjunjung tinggi kehormatan dan harga diri. Boleh dibilang suku yang satu ini pantang menanggung malu. Begitulah, mati mempertahankan kehormatan masih dianggap lebih baik ketimbang masuk rumah sakit, walaupun masuk rumah sakitnya karena mempertahankan kehormatan juga. Yang paling terhormat, tentu saja, yang bisa mempertahankan kehormatan tanpa harus mati atau masuk penjara.
Selengkapnya

 

esei Tragedi Kemanusiaan dan Kebijakan Ruang Publik
Bambang Widjojanto
Sampit adalah tragedi. Jadi, bicara soal Sampit, kita dipaksa bicara soal skandal kemanusiaan. Mungkin, skandal itu bukan yang pertama tapi juga bisa jadi bukan yang terakhir kalinya. Mungkin skandal itu tak cukup dramatik seperti tahun 1965, tapi pola tindakannya sangat mengerikan. Tragedi kemanusian itu melengkapi berbagai kekerasan yang terus menerus terjadi, kendati konon kita tak lagi dibawah regim yang otoritarian. Yang lebih ironis, kejadian itu terjadi disuatu daerah yang komunitasnya dipercaya mempunyai kearifan budaya dalam 'berdialog' dengan segala hadirin di seputarnya. Karena pepohonan saja, bagi sebagian besar masyarakat adat, bisa dianggap, diakui dan dimaknai sebagai mahluk, hingga juga harus dihormati sebagai sesama mahluk.
Selengkapnya

 

novel Dokter Zhivago 7
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)
disalin sesuai aslinya dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru

Teratai tumbuh di sekeliling seluruh tepi kolam. Perahu memotong di tengah bunga-bunga itu dengan kering berkerosok dan membuat saluran segitiga; air hitam di dalamnya nampak seperti air semangka yang diiris sekerat. Nicky dan Nadya memetik teratai. Mereka berdua memegang tangkai yang sama, yang ulet seperti karet itu. Mereka tersentak olehnya, hingga kepala mereka berantukan dan perahupun tersodok ke tepi, seolah terkait. Di situ tangkai teratai lebih pendek dan saling berjalinan; bunga-bunga putih dengan jantung kuning bagai kuning telur yang dilereti darah itu menyelam dan munculk kembali dengan menyemprot air. Kedua anak itu terus memetik dengan melentik atas pinggiran perahu yang makin lama makin oleng.
Selengkapnya

              situs nir-laba         untuk karya tulis
    ceritanet

 

kirim tulisan
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar