sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar

edisi 7, Senin 12 Maret 2001

tentang ceritanet

ceritanet
situs nir-laba untuk
karya tulis

esei Perkenalkan, Orang Madura
Imam Ghozaly Aro

“Etembeng pote mata lebih begus pote tulang.” Pepatah kuno Madura itu artinya daripada putih mata (malu) lebih terhormat putih tulang (mati), dan sampai sekarang masih populer bagi orang arga Madura di pelosok Pulau Madura, maupun Madura di tempat lainnya, termasuk yang terpelajar sekalipun. Popularitas pepatah kuno itu menggambarkan betapa suku Madura sangat menjunjung tinggi kehormatan dan harga diri. Boleh dibilang suku yang satu ini pantang menanggung malu. Begitulah, mati mempertahankan kehormatan masih dianggap lebih baik ketimbang masuk rumah sakit, walaupun masuk rumah sakitnya karena mempertahankan kehormatan juga. Yang paling terhormat, tentu saja, yang bisa mempertahankan kehormatan tanpa harus mati atau masuk penjara.

Misalnya, tahun 1996 di lapangan bola voli SMP Negeri Pamekasan, ibu kota Karesidenan Madura. Berlangsung pertandignan bola voli antar guru SMP. Suatu ketika saat pertandingan sedang berlangsung seru, salah seorang pemain --eorang guru-- mendadak mematikan bola. Kecewa seorang penonton --murid dari pemain tersebut-- secara refleks memaki ; "Bodo!" Spontan guru yang merasa dipermalukan makian itu, melompat mencari asal suara. Ternyata diucapkan seorang bocah, yang tak lain adalah muridnya sendiri. Bocah itu langsung ditempeleng dan mendapat tempeleng gurunya, murid tersebut bergegas pulang. Pertandingan bola voli berlanjut.

Keesokan harinya, pertandingan final di lapangan yang sama dijubeli penonton. Guru sekaligus pemain yang kemarin menempeleng muridnya, mendadak tersungkur setelah mematikan bola di sudut lapangan. Di ulu hatinya tertancap sebuah pisau. Karuan saja pertandingan dihentikan, dan penonton saling berlompatan menyingkir. Namun seorang bocah berdiri tenang di dekat guru yang mengerang kesakitan itu. Bocah yang kemarin di tempeleng gurunya.

Di balik jeruji tahanan polisi, murid tersebut tidak menampakkan penyesalan. Ia mengaku membunuh gurunya karena merasa malu, karena ditempeleng di depan umum. Kapolres Pamekasan waktu itu, Letkol Djoko Triyono, hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar pengakuannya. Dan bocah tersebut mengatakan sudah meminta ijin ayahnya sebelum membunuh gurunya. Ayahnya, pengakuan kata bocah itu, mengijinkan, walau di depan polisi dibantah keras sang ayah.

Setahun sebelumnya, di Dermaga Pelabuhan Kamal, Bangkalan. Seorang lelaki muda kerempeng yang bersahaja turun dari kapal yang melayani penyeberangan Surabaya-Kamal. Lelaki kerempeng itu berjalan beriringan dengan istrinya. Tiba-tiba kaki istrinya terantuk hingga sempoyongan sampai hampir terjerembab. Suaminya, lelaki kerempeng tagi, tidak berusaha menolong, tapi malah memaki dalam bahasa Madura yang artinya ; "Kalau jalan matanya lihat bawah!" Adegan ini dianggap lucu oleh seorang lelaki tinggi besar, tak jauh dari suami-istri tersebut. Dengan nada kelakar ia nyeletuk ; "Pak, kalau udah nggak mau, istrinya untuk saya saja,…”. Tanpa ba bi bu, lelaki kerempeng, yang merasa harga dirinya direndahkan, langsung mengambil celurit dari balik bajunya dan disabetkan pada si tinggi besar. 'Bet, bet, bet,'' dengan tiga kali sabetan, si tinggi besar pulang ke alam baka.Lelaki kerempeng yang bersahaja tadi kemudian menenteng celurit berlumur darah, menyerahkan diri ke polisi pelabuhan dengan tenangnya.

Wanita sering mewarnai kasus pembunuhan di Madura, yang terkenal dengan isitilah carok. Budayawan Madura, D. Zawawi Imron, mendefinisikan carok sebagai duel dua lelaki satu lawan satu, sama-sama bersenjata celurit, di tempat dan waktu yang sudah ditentukan. Seiring kemajuan zaman, tradisi carok di Madura sudah lama tidak terdengar. Sedangkan, peristiwa berdarah di lapangan bola voli Pamekasan dan Dermaga Kamal dikategorikan polisi sebagai pembunuhan biasa yang bisa terjadi di mana saja.

***

Pada Hari Raya Idul Adha atau Lebaran Qurban --yang disebut orang Madura ‘Telasan Haji’-- banyak warga Madura perantauan pulang kampung atau ‘toron’ (artinya, turun). Tradisi ‘toron’ ditaati setiap tahunnya, termasuk oleh R. Hartono, sejak masih berpangkat letnan hingga Jenderal, menjabat KSAD, Menteri Orde Baru, bahkan sampai saat ini. Pada kesempatan Idul Adha inilah, warga Madura berkumpul dengan sanak saudara; yang muda minta maaf pada yang tua dan kemudian berziarah bersama ke makam ara leluhur.

Selain untuk sungkem pada orang tua di kampung tradisi ‘toron’ sering jadi ajang pamer keberhasilan di rantau. Jadi pada Lebaran Idul Adha terlihat mobil-mobil mewah berseliweran di kota-kota Madura ; Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Walaupun, mobil-mobil itu bernomor polisi Jakarta, hampir bisa dipastikan pemiliknya bukan wisatawan, tapi warga Madura asli yang sedang ‘toron.’

Daratan Madura yang kini dihuni sekitar 2,5 juta jiwa terdiri atas lahan gersang nan tandus, dan sebagian besar berbukit terjal. Hanya sebagian saja lahannya bisa ditanami padi. Itupun mengandalkan pengairan tadah hujan. Jagung hanya hidup pada musim tertentu, dan singkong meranggas pada musim kemarau. Tembakau, yang jadi primadona Madura, hanya berkembang subur di sebagian wilayah Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Ironisnya, tanaman ‘daun emas’ itu sekarang malah banyak dikuasai pemodal non-Madura keturunan Cina, sedangkan petani setempat cuma jadi pekerja kasar.

Dengan kondisi alam yang tidak menjanjikan ini, wajar kalau kaum muda Madura lebih tertarik menyabung hidup di luar Madura. Di perantauan, warga Madura tidak pilih-pilih pekerjaan. Semua jenis pekerjaan ditekuni dengan gigih dan ulet, dan kegigihan itulah yang membuat hidup di rantau lebih beruntung --setidaknya, lebih baik katimbang di kampung halaman. Dan, ‘keberhasilan’ di rantau itu sekaligus pula mengundang kerabat dan kenalan untuk ikut merantau.

Tidak jelas kapan sebenarnya warga Madura mulai merantau ke luar Pulau Madura. Yang pasti, sebelum perang kemerdekaan, sejumlah kabupaten di Jawa Timur sudah dipenuhi orang Madura, seperti Banyuwangi, Jember, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Malang, dan Surabaya. Di Jember misalnya, warga Madura boleh dibilang menguasai kota. Di pasar dan terminal bus bahasa Madura menjadi salah satu bahasa resmi. Pengumuman lewat pengeras suara terminal menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Madura. Begitu juga dengan layanan rekaman dari kantor telepon di Jember ; Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Madura.

Menurut sesepuh masyarakat Madura, Mohammad Noer, warga Madura baru menginjakkan kaki ke Kalimantan, setelah Indonesia merdeka. Setelah merantau ke Kalimantan, secara berangsur-angsur, warga Madura mulai merambah ke berbagai pulau dan kepulauan Indonesia lainnya. Dan pada mulai tahun 1980-an, warga Madura menomor-duakan tujuan Indonesia karena mulai ke luar negeri. Tujuan utamanya Malaysia dan Saudi Arabia. Sejak itu, TKI dan TKW asal Madura terus mengalir deras ke negara-negara tersebut. .

***

Pepatah lain yang dipegang orang Madura --sebutlah di kalangan Madura tradisional di pedesaan yang berpendidikan relatif rendah-- adalah 'bapak bebuk guru rato' (bapak, ibu guru, dan ratu). Maksudnya untuk Pepatah tersebut menerangkan urutan pihak yang dijunjung tinggi warga Madura. Urutan pertama ditempati 'bapak-bebuk,' yaitu ayah dan ibu. Kemudian disusul 'guru,' persisnya ulama atau kiai. Sedangkan 'ratu' atau pemerintah menempati urutan terakhir.

Kalau diusut-usut sedikit lebih ke dalam, maka tempat paling strategis ditempati ulama atau kiai. Meski menempati urutan ke dua setelah bapak-ibu, tapi masing-masing bapak-ibu tersebut dipastikan patuh dan menjunjung tinggi kiai. Jadi seluruh pribadi Madura punya ketaatan amat tinggi pada kiai. Masing-masing keluarga Madura biasanya punya kiai panutan, yang selalu dijadikan rujukan dalam mengambil sikap. Kepada kiai pula, warga Madura mengadukan persoalan pribadi maupun meminta restu. Misalnya, untuk menentukan hari baik mendirikan rumah atau melangsungkan pernikahan. Hendak pergi merantau, lebih dulu minta doa kiai. Demikian juga ingin lulus ujian atau lulus tes masuk tentara. Bahkan, ketika hendak berangkat membunuh orang, mereka juga minta restu kiai. Dalihnya? Memohon doa untuk memperjuangkan kebenaran dan mempertahankan kehormatan.

Peran kiai demikian penting dan menentukan. Sehingga, gerakan massa di Madura yang melibatkan kiai, hampir bisa dipastikan punya kekuatan dahsyat dan dampak luas. Dalam Pemilu 1992, ketika rejim Orde Baru sedang galak-galaknya, Partai Persatuan Pemgunan PPP Sampang, yang dipelopori kiai-kiai, menolak menandatangani Berita Acara Hasil Pemungutan Suara. Padahal, saat itu DPP PPP di Jakarta telah menyatakan, menerima hasil pemilu, yang menurut pemerintah berlangsung tertib, lancar, aman dan jurdil.

Setahun berikutnya, waktu aksi unjuk rasa masih belum menjamur, ratusan petani di Kecamatan Banyuates, Sampang --tas restu para kiai setempat-- menggelar unjuk rasa menentang pembangunan Waduk Nipah. Ratusan petani berbondong-bondong mendatangi petugas Badan Pertanahan Masional BPN yang sedang mengukur tanah warga. Namun warga dicegat dan ditembaki ABRI ; lima orang tewas, termasuk seorang ibu tua dan anak-anak peserta unjuk rasa.

Masih pada 1993, massa dari desa-desa mengalir ke kota Sampang, menghancurkan seluruh kios undian SDSB. Mereka berteriak 'DSB judi, haram.' Mereka juga memporak-porandakan sebuah gedung bioskop di pusat kota, padahal bioskop yang dihancurkan itu merupakan satu-satunya sarana hiburan di kota Sampang, dan baru dua hari diresmikan oleh bupati. Sampai sekarang Sampang masih belum punya bioskop lagi. Bahwa para kiai yang berada di balik gerakan itu tentu sangat sulit dibantah.

Lantas Pemilu 1997 berjalan aman dan lancar di Madura, dengan pengecualian di Sampang. Puluhan TPS diobrak-abrik dan sejumlah kantor kecamatan yang menyimpan kotak suara dibakar massa. Seorang warga tewas tertembak dalam aksi pembakaran tersebut. ''Insya Allah, kematian Wafir dicatat sebagai orang yang mati syahid. Allah menjanjikan, siapa yang mati syahid akan masuk surga,'' kata K.H. Hasyib Syiradj, Ketua DPC PPP Sampang, saat melepas jenazah Wafir, yang tewas tertembak itu.

Gerakan massa yang dimotori kiai terjadi lagi tahun 2000 di Sampang. Sumbernya adalah persaingan PPP dan Partai Kebangkitan Bangsa PKB untuk merebut kursi bupati. Jago PPP, Komisaris Besar Polisi (Purn) Fadhilah Budiono, menang satu suara atas jago PKB, Sanusi Djamaluddin, sesama purnawirawan polisi berpangkat komisaris besar. PKB yang memenangkan pemilu di Sampang tidak bisa menerima kekalahan, karena menurut PKB ada seseorang yang bukan anggota dewan ikut memberi suara. Walau pemerintah pusat mensahkan terpilihnya jago PPP, pelantikan urung berlangsung.Kantor DPRD Sampang dibakar massa hanya beberapa jam menjelang upacara pelantikan.

Tragisnya, baik pendukung PPP dan PKB di Sampang adalah sesama warga NU, dan sama-sama mencalonkan polisi. ''Wong polisi itu sedang tidur saja mengganggu, kok disuruh jadi bupati. Orang Sampang ini gimana?,” ejek Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi.

Namun, dengan catatan kekerasan seperti itu . hampir tidak pernah terdengar adanya kerusuhan etnik atau agama. Padahal selama pemerintahan Orde Baru, hampir seluruh pejabat teras di seluruh Madura berasal dari Jawa. Toko-toko banyak dimiliki orang Cina. Dan gereja juga banyak ditemui di perkotaan, yang terbesar di Pamekasan, yang berhadap-hadapan dengan Masjid Jami. Klenteng dan vihara pun ada.

Di Madura, gerakan massa merusak tempat ibadah, agaknya hanya terjadi satu kali di Bangkalan, yakni saat berlangsung aksi massa beberapa hari setelah Pemilu 1997. Sasaran kerusuhan bukan rumah ibadah tersebut, tapi panggung dangdut di alun-alun untuk mensyukuri kemenangan Golkar di Bangkalan. Pesta itu mengundang kemarahan massa, yang akhirnya melakukan serangkaian perusakan dan pembakaran. Selain membakar panggung dangdut, massa merusak stan-stan pameran pembangunan, bioskop, gereja, dan membakar sebuah klenteng.

***

situs nir-laba untuk karya tulis
ceritanet

kirim karya tulis
©listonpsiregar2000

sampul | cerpen | sajak | novel | esei | laporan | memoar | terbitan | komentar