novel
Dokter Zhivago
Boris
Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan,
Maret 1960.
Musim dingin datang
dan sifatnya justru seperti yang diramahkan. Tak begitu mengerikan seperti
dua musim dingin yang menyusul, namun sudah sejenis, muram, dingin,
membawa kelaparan, maka selama itu orang menyaksikan kebinasaan dari
segala yang dikenalnya serta perobahan semua dasar hidup, dan orangpun
dengan mengatasi tenaga insaniahnya berusaha mempertahankan hidup yang
hendak membersit dari pegangan.
Ada tiga musim dingin
berturut-turut yang serba dahsyat, dan tak semua hal yang kini tampak
seperti terjadi dalam musim dingin tahun-tahun 1917 dan 1918, betul-betul
terjadi dalam waktu itu --beberapa kejadian mungkin berlaku kemudian.
Tiga musim dingin yang bersusul-susulan ini, sekarang lebur jadi satu,
sulitlah memisah-misahkannya.
Penghidupan lama
dan cara hidup baru masih belum berjalinan; belum bermusuhan seperti
ketika perang saudara pecah setahun kemudian, tapi tak juga cukup berhubungan.
Kedua-duanya seperti dua bagian teka-teki yang diletakkan berdampingan
dan tak dapat disesuaikan.
Dimana-mana ada pemilihan
baru: untuk mengadakan perumahan, untuk perdagangan untuk industri,
dinas pemerintahan kota. Untuk tiap hal diangkat komisaris, yang memakai
baju dari kulit hitam, dengan kekuasaan tak terbatas dan kemauan baja,
dipersenjatai alat-alat intimidasi dan pistol, orang yang jarang cukur,
dan jarang lagi tidur.
Dia kenal kaum borjuis
yang mengumpet yang biasanya menyimpan inventaris pemerintah yang tak
begitu berharga, maka bicaralah ia pada mereka tanpa kasihan sekelumitpun
dan dengan senyuman Mephistopheles, seperti menghadapi maling-maling
kecil yang tertangkap basah.
Merekalah orang-orang
yang mengorganisir semuanya menurut rencana, dan maskapai demi maskapai,
perusahaan demi perusahaan menjadi milik bolsjewik.
Rumah sakit Salib
Kudus kini dikenal sebagai rumah sakit Reformasi Kedua. Banyak yang
berobah didalamnya. Sebagian dari pegawai dipecat, lain-lainnya ada
yang minta berhenti, sebab berpendapat bahwa pekerjaannya tak cukup
menguntungkan. Mereka adalah dokter yang prakteknya laku dan dibayar
banyak, suka omong besar dan anak manja masyarakat, yang keluar untuk
kepentingan diri sendiri, namun membanggakan diri bahwa mereka membuat
protesyang patut bagi warga negara, pun memandang rendah pada orang-orang
yang masih tinggal. Zhivago masih bekerja.
Waktu malam dia dengan
Tonya berbicara semacam ini:
"Jangan kau
lupa hari Rabu di Persatuan Dokter, ada dua karung kentang beku buat
kita di kolong gedung. Kuberitahu nanti kapan aku prei. Kita mesti pergi
bersama membawa kereta salju."
"Baik sayang, waktu berlimpahan.
Mengapa kau tak tidur sekarang? Jauh malam sudah. Kuingin kita mengaso,
kau tak bisa berbuat segala-galanya."
"Ada wabah. Keletihan merosotkan daya tahan sampai jadi penyakit.
Kau dan ayah nampak menyedihkan. Kita harus berbuat, tapi apa, aku tak
tahu. Kau kurang menjaga diri. Dengarkan, Tonya. Kau tidur tidak?"
"Tidak."
"Yang kucemaskan bukan aku sendiri, hidupku ada sambilan tapi jika
sewaktu-waktu aku jatuh sakit, kau harus punya akal sehat, ya, jangan
biarkan aku di rumah. Bawa aku segera ke rumah sakit."
"Jangan omong begitu, sayang. Insya Allah, kau tetap sehat. Bagaimanapun
juga, kalau kita menemukan jembatan, kita seberangilah dia."
"Ingatlah, tak ada lagi orang jujur, ataupun kawan-kawan. Orang
yang pandai bekerja, kurang lagi jumlahnya. Kalau terjadi apa-apa, jangan
percaya siapa-siapa kecuali Pizhuzhkin. Kalau ia masih di sana tentunya.
Kau tak tidur?"
"Tidak."
"Gaji tak cukup, jadi pergilah mereka; sekarang kiranya mereka
punya prinsip-prinsip dan perasaan kewargaan. Kalau ketemu mereka di
jalan, mereka hampir tak mau berjabatan tangan, hanya mengangkat alis:
'Jadi kau bekerja untuk mereka?"
"Ya, kataku, dan semoga kau tak gusar karenanya. Kubanggakan penderitaan
kami dan kuhormati siapa yangmenghoramti kami dengan membebankan penanggungan
itu pada kami."
***