edisi 79
senin 19 juli 2004

tentang ceritanet

sampul
esei
sajak
laporan
cerpen
novel
memoar
komentar
terbitan
edisi lalu
tulisan tamu
daftar buku

kirim tulisan

ikut mailing list

tulisan edisi 79

komentar Baju Baru Perdana Menteri Blair
Liston P. Siregar

cerpen Beras dan Ketan
Imron Supriyadi

novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak

   ceritanet  
                   situs nir-laba untuk karya tulis    


novel Dokter Zhivago
Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960.

Musim dingin datang dan sifatnya justru seperti yang diramahkan. Tak begitu mengerikan seperti dua musim dingin yang menyusul, namun sudah sejenis, muram, dingin, membawa kelaparan, maka selama itu orang menyaksikan kebinasaan dari segala yang dikenalnya serta perobahan semua dasar hidup, dan orangpun dengan mengatasi tenaga insaniahnya berusaha mempertahankan hidup yang hendak membersit dari pegangan.

Ada tiga musim dingin berturut-turut yang serba dahsyat, dan tak semua hal yang kini tampak seperti terjadi dalam musim dingin tahun-tahun 1917 dan 1918, betul-betul terjadi dalam waktu itu --beberapa kejadian mungkin berlaku kemudian. Tiga musim dingin yang bersusul-susulan ini, sekarang lebur jadi satu, sulitlah memisah-misahkannya.

Penghidupan lama dan cara hidup baru masih belum berjalinan; belum bermusuhan seperti ketika perang saudara pecah setahun kemudian, tapi tak juga cukup berhubungan. Kedua-duanya seperti dua bagian teka-teki yang diletakkan berdampingan dan tak dapat disesuaikan.

Dimana-mana ada pemilihan baru: untuk mengadakan perumahan, untuk perdagangan untuk industri, dinas pemerintahan kota. Untuk tiap hal diangkat komisaris, yang memakai baju dari kulit hitam, dengan kekuasaan tak terbatas dan kemauan baja, dipersenjatai alat-alat intimidasi dan pistol, orang yang jarang cukur, dan jarang lagi tidur.

Dia kenal kaum borjuis yang mengumpet yang biasanya menyimpan inventaris pemerintah yang tak begitu berharga, maka bicaralah ia pada mereka tanpa kasihan sekelumitpun dan dengan senyuman Mephistopheles, seperti menghadapi maling-maling kecil yang tertangkap basah.

Merekalah orang-orang yang mengorganisir semuanya menurut rencana, dan maskapai demi maskapai, perusahaan demi perusahaan menjadi milik bolsjewik.

Rumah sakit Salib Kudus kini dikenal sebagai rumah sakit Reformasi Kedua. Banyak yang berobah didalamnya. Sebagian dari pegawai dipecat, lain-lainnya ada yang minta berhenti, sebab berpendapat bahwa pekerjaannya tak cukup menguntungkan. Mereka adalah dokter yang prakteknya laku dan dibayar banyak, suka omong besar dan anak manja masyarakat, yang keluar untuk kepentingan diri sendiri, namun membanggakan diri bahwa mereka membuat protesyang patut bagi warga negara, pun memandang rendah pada orang-orang yang masih tinggal. Zhivago masih bekerja.

Waktu malam dia dengan Tonya berbicara semacam ini:

"Jangan kau lupa hari Rabu di Persatuan Dokter, ada dua karung kentang beku buat kita di kolong gedung. Kuberitahu nanti kapan aku prei. Kita mesti pergi bersama membawa kereta salju."
"Baik sayang, waktu berlimpahan. Mengapa kau tak tidur sekarang? Jauh malam sudah. Kuingin kita mengaso, kau tak bisa berbuat segala-galanya."
"Ada wabah. Keletihan merosotkan daya tahan sampai jadi penyakit. Kau dan ayah nampak menyedihkan. Kita harus berbuat, tapi apa, aku tak tahu. Kau kurang menjaga diri. Dengarkan, Tonya. Kau tidur tidak?"
"Tidak."
"Yang kucemaskan bukan aku sendiri, hidupku ada sambilan tapi jika sewaktu-waktu aku jatuh sakit, kau harus punya akal sehat, ya, jangan biarkan aku di rumah. Bawa aku segera ke rumah sakit."
"Jangan omong begitu, sayang. Insya Allah, kau tetap sehat. Bagaimanapun juga, kalau kita menemukan jembatan, kita seberangilah dia."
"Ingatlah, tak ada lagi orang jujur, ataupun kawan-kawan. Orang yang pandai bekerja, kurang lagi jumlahnya. Kalau terjadi apa-apa, jangan percaya siapa-siapa kecuali Pizhuzhkin. Kalau ia masih di sana tentunya. Kau tak tidur?"
"Tidak."
"Gaji tak cukup, jadi pergilah mereka; sekarang kiranya mereka punya prinsip-prinsip dan perasaan kewargaan. Kalau ketemu mereka di jalan, mereka hampir tak mau berjabatan tangan, hanya mengangkat alis: 'Jadi kau bekerja untuk mereka?"
"Ya, kataku, dan semoga kau tak gusar karenanya. Kubanggakan penderitaan kami dan kuhormati siapa yangmenghoramti kami dengan membebankan penanggungan itu pada kami."
***

ceritanet
©listonpsiregar2000